banner 740x400

banner 740x400

BAKIK

BAKIK
Bakik (Photo : Budaya Kampung)

Lela memalingkan wajahnya dari pandangan mata di depannya. Lela khawatir nenek dapat menebak perasaannya saat ini. Perasaan yang bercampur aduk. Antara sayang dan kebencian. Andai saja neneknya punya selera yang sama dengan nenek-nenek lain di dunia, tentulah takkan pernah ada setitik bencipun di hati Lela. Lela tentu akan bebas memeluk dan bermanja dengan neneknya. Nenek terus saja bercerita tentang saudara-saudara Lela di kampungnya, Tarempa. Tentang air terjun tujuh tingkat yang semakin cantik. Tentang enaknya lakse kuah kesukaannya, dan banyak lagi yang sebenarnyapun membuat Lela rindu untuk pulang kampung.

Nenek memang baru siang tadi sampai. Setelah sehari semalam melewati Laut Cina Selatan yang memang cukup ganas di musim ini. Namun lelah di wajah keriputnya sudah tidak kelihatan lagi. Bahkan di mulutnya yang merah tampak tak mau berhenti untuk bicara. Melihat mulut nenek itulah hal yang paling menjijikkan buat Lela. Kalau saja tidak ingat dengan pesan emaknya untuk tetap menghormati dan menghargai orang yang lebih tua apalagi nenek yang merupakan wanita yang melahirkan emak, rasanya sudah dari tadi Lela pergi.

Sambil mendengarkan ocehan nenek sesekali Lela melirik buku Seni Budaya yang ada di pangkuannya. Kebetulan besok ada tanya jawab tentang pelajaran tersebut. Mata Lela terbelalak membaca tentang adat Berkapur Sirih di daerah Melayu yang sudah ada sekitar tiga ratus tahun yang lalu. Sirih selalu dimakan oleh masyarakat Melayu baik oleh rakyat biasa maupun keturunan raja. Sirih dan perangkatnya mengandung falsafah tersendiri. Sirih sendiri mengandung makna rendah hati dan selalu memuliakan orang. Apakah ini alasan neneknya makan sirih. Spontan Lela melihat dengan seksama ke mulut nenek yang memerah. Seketika itu juga Lela jadi mual.

“Lela, ambilkan nenek Tepak Sirih kesayangan nenek, mulut nenek sudah terasa masam ni!” kata nenek tiba-tiba.

Mendengar itu Lela sangat terkejut. Diam membisu. Lela bertanya tanya dalam hati apa benar nenek selama ini tidak tahu bahwa Lela tak suka dengan perlengkapan vampir nenek itu. Dengan terbata-bata Lela mengiyakan permintaan nenek.

“I..i..ya, Nek. Nenek meletaknya di mana?” tanya Lela kepada nenek yang tampaknya agak bosan menunggu jawabannya.

“Nenek meletaknya di dalam kamar di samping tv. Cepat, ya, Lela mengambilnya. Jangan seperti orang pikun begitu,” kata nenek terkekeh

memperlihatkan gigi-gigi merahnya. Lela merinding. Teringat ia akan tokah vampir di tv yang pernah ditontonnya.
Lela melangkahkan kaki ke kamar biru langit warna kesukaannya. Entah mengapa emak menjadi sangat tega bila ada nenek di rumah ini pasti nenek akan sekamar dengannya.

Tepak sirih yang terbuat dari tembaga dan memiliki 5 cembul itu sudah berada di tangan halus Lela. Tepak sirih itu tampak bersih dan terawat. Tidaklah merah seperti mulut nenek. Nenek pernah mengatakan benda itu sudah bertahan sebanyak 7 turunan. Bisa dikatakan sudah menjadi benda antik. Di dalamnya tersusun dengan rapi sirih hijau dan pasukannya seperti gambir, pinang, kapur, tembakau, kacip, dan entah apalagi namanya. Lela bergidik ketika melihat benda di samping Tepak Sirih itu. Benda itu bernama ketur, tempat nenek membuangkan ludahnya yang merah. Tiba-tiba Lela mau muntah. Dengan menahan napas cepat-cepat Lela berlari menyerahkan kedua tempat itu pada nenek. Lela pun berlari ke wc. Lela muntah di sana.
***
Suasana di dalam rumah tiba-tiba heboh. Emak mondar-mandir mengacak isi rumah sambil mulutnya tak henti-henti berbicara. Nenek duduk dengan wajah yang tegang dan masam. Nenek mogok makan dan memaksa pulang ke kampung hari ini juga. Itu mana mungkin karena kapal ke kampung hanya berangkat dua minggu sekali. Doni, abang Lela yang biasanya tak peduli sekarang juga ikut kalang kabut. Abah pun tampak bingung. Bahkan adiknya yang berusia 3 tahunpun ikut-ikut bongkar sana sini. Tiba-tiba emak menepuk pundak Lela yang bingung.

“Lela, ayo ikut emak. Emak ingin berbicara sesuatu denganmu,” kata emak serius ke arah Lela.

“Ada apa, Mak.”

Emak tidak menjawab pertanyaan Lela tetapi menarik tangannya mengajak ke belakang rumah.

“Lela, apakah kamu yang membuang bakik nenek,” tanya emak menatap Lela tajam.

“Apa Mak? Bakik? Apa itu?”

“Jangan pura-pura Lela. Kan selama ini Lela yang paling tak suka melihat nenek makan sirih.”

“Lela memang tak suka melihat nenek makan sirih Mak, tetapi tak ada hubungannya dengan bakik. Lagipula Lela tak tahu bakik tu apa.”

“Janganlah berbohong!! Emak tau engkau tidak suka dengan bau pelengkap sirih nenek. Tetapi janganlah engkau sampai tega membuangnya,” kata emak terus menyudutkan Lela.

“Lela tak melakukannya Mak, Lela memang tak suka dengan bau dan bentuk merah sirih nenek, namun Lela masih bisa menghargai nenek dan tak mungkin Lela berani mengganggu barang nenek, Lela sangat sayang dengan nenek,” jawab Lela hampir menangis karena dari tadi emak sangat memojokkannya.

“Jadi sekarang bakik nenek hilang kemana. Lela tolonglah Lela mengaku saja, kasihan nenek, apa Lela tega melihat nenek sengsara. Kita semua harus menyenangkan hati nenek bukan sebaliknya.

Lela benar-benar sedih mendengar emak tak percaya padanya. Padahal Lela juga sangat sayang pada neneknya dan berusaha membuat neneknya bahagia.

“Mak, apa perlu Lela bersumpah baru Emak mau percaya.”

“Apakah benar ini Lela,” tanya emak mulai lunak.

“Benar Mak, memang bakik itu apa, Mak” tanya Lela penasaran.

“Bakik itu sejenis buah yang bulat sepanjang jari dan dimakan bersama sirih sebagai penyedapnya. Jadi makan sirih tanpa bakik kata nenek sama saja dengan makan nasi dengan lauk tanpa garam.”

Lela tercengang. Ternyata bakik itu sangat penting bagi nenek. Tapi ke mana bakik itu ya, kata Lela dalam hati dan mulai bingung juga.
***
Matahari mulai terbenam di ufuk timur. Namun bakik nenek belum ditemukan. Ayah pun sudah menyusuri semua pasar yang ada di kota tetapi tak ada satupun pedagang yang menjualnya. Menurut emak Lela, bakik memang sudah menjadi tanaman langka dan di kampungpun hanya beberapa orang saja yang masih menanamnya, termasuklah nenek. Padahal bakik manfaatnya bukan hanya sebagai penyedap saat makan sirih saja. Bakik mengandung zat antiseptik yang juga sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Suasana kini tidaklah setegang semalam. Nenek sudah mau makan walau tetap kelihatan murung. Ternyata membujuk orang yang sudah tua merajuk jauh lebih sulit dibandingkan dengan anak kecil. Lela memberanikan diri berbicara pada neneknya.

“Nek, jangan sedih terus ya. Coba nenek ingat-ingat mungkin nenek salah meletakan bakik itu.”

“Lela mengganggap nenek sudah pikun.”

“Bukan begitu, Nek. Nenek jangan tersinggung. Manalah tahu nenek silap.”

“Lela, Nenek memang sudah berumur tujuh puluh tahunan tetapi ingatan Nenek tetap masih baik. Jangankan ingatan, gigi nenekpun masih utuh. Lihat ni satupun belum ada yang dicabut,” kata nenek sambil memperlihatkan giginya.

“Iya Nek, Nenek hebat sudah setua ini kok gigi nenek masih utuh. Gigi emak saja sudah dicabut 6 dan gigi bang Doni kemarin dicabut juga.”

“Mau tahu rahasianya,” tanya nenek mulai ceria.

“Mau… mau… Nek,” Lela bersemangat.

“Makan sirih seperti Nenek. Orang-orang tua zaman dahulu merawat giginya dengan makan sirih. itu resep turun temurun.

“Nggak enak Nek. Mana bau dan mulut merah seperti berdarah,” kata Lela jujur.
.

“Lela kan belum pernah coba. Enak lo apalagi pakai bakik terasa nikmat dan lemak.” Jelas nenek kembali murung saat menyebut kata bakik.

“Nek, jangan sedih lagi ya. Jangan gara-gara bakik liburan nenek disini jadi terganggu. Kami semua kan sedih, Nek.
Nenek menarik napasnya. Ia menatap cucu kesayangannya dengan tulus.

“Ya, Lela benar. Walapun Lela tak mau makan sirih tetapi harus tetaplah melestarikan budaya kita, budaya Melayu.”

“Ya, Nek. Budaya Melayu itu tetap lestari kok Nek. Misalnya dalam setiap adat perkawinan atau tarian persembahan selalu ada sirih dan kawan-kawannya itu.”

“Dan satu lagi. Kalau Nenek meninggal nanti Lela janji untuk tetap merawat tepak sirih nenek ini dengan baik. Ini benda antik lho. Lela jadi keturunan yang ke delapannya yang merawat tepak sirih nenek ini.”

Lela mengangguk. Lela terharu. Hatinya barkata walaupun Lela tak suka dengan sirihnya nenek namun Lela tak mau kehilangan neneknya. Pelan-pelan diperhatikannya wajah neneknya. Nenek benar-benar sudah tampak tua. Keriput di wajah dan tanganya terutama di bagian leher benar-benar tampak jelas. Ditambah lagi dengan badan nenek yang begitu kurus. Hati Lela jadi terharu. Apalagi yang diharapkan oleh orang setua nenek kecuali kasih sayang dan perhatian dari anak dan cucu-cucunya. Lela tidak mau neneknya cepat meninggal. Lela merasa masih sangat butuh neneknya. Dalam hati Lela berdoa semoga Allah tidak cepat memanggil neneknya. Tiba-tiba Lela memeluk erat neneknya. Rasa sayangnya telah mengalahkan bau sirih yang sudah menyatu di tubuh nenek.

“Lela sayang nenek,” katanya memeluk nenek dengan erat.

“Nenek juga. Lela benar jangan sampai gara-gara bakik leburan nenek di sini menjadi terganggu. Biarlah bakik itu hilang asalkan sayang kalian tidak hilang untuk nenek. Mereka berduapun tertawa.”

Cerpen Oleh : Maswito

Tags:
banner 740x400

banner

banner

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

SIJORIKEPRI.COM - TERVERIFIKASI DEWAN PERS

DEWAN PERS - VERIFIKASI MEDIA SIJORI KEPRI.COM
banner

banner 728x90

banner

Subscribe

Ikuti Perkembangan berita terbaru dan terlengkap langsung ke email anda, silahkan berlangganan berita kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan