banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

Harga Kopra di Natuna Turun

Harga Kopra di Natuna Turun
Melaksanakan survey kawasan industri besar berbasis Migas di Desa Teluk Buton bersama tim ITB Bandung. (Foto : Ist)


Harga Kopra di Natuna Turun
– Hingga Rp 6 Ribu/Kg.

SIJORIKEPRI.COM, NATUNA — Disepanjang pinggiran pantai di Kabupaten Natuna, banyak sekali ditemukan pohon kelapa. Masyarakat memanfaatkanya dengan mengolahnya menjadi kopra. Kopra yang dihasilkan dijual ke Tengkulak, untuk selanjutnya dijual, salah satunya ke Jakarta.

Demikian diterangkan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Natuna, Helmi Wahyuda, pada hari terakhir Survey Industri di Kabupaten Natuna, Kamis, (20/12/2018).

“Saat ini harganya menurun, hanya sekitar Rp 6.000/Kg dari harga normalnya berkisar Rp 10.000/Kg, sehingga kopra dibiarkan menumpuk menunggu harga menjadi normal. Perlu adanya industri pengolahan lebih lanjut dari kopra, sehingga menambah nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terang Helmi Wahyuda.

Pada dasarnya, lanjut Helmi, produk yang berbahan baku berupa kelapa ini memiliki beberapa macam industry turunan yang menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, seperti minyak kelapa dan VCO.

“Perlu dilakukan kajian mengenai potensi ini,” ujarnya.

Survey Industri di Kabupaten Natuna ini, sambung Helmi, merupakan langkah awal dalam penyusunan Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK) 2019-2039 yang bertujuan untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi industri di lapangan, serta mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam perancangan dan penyusunan dokumen RPIK Kabupaten Natuna.

RPIK Kabupaten Natuna merupakan suatu dokumen yang berfungsi sebagai pedoman pembangunan sektor industri di Kabupaten Natuna selama 20 tahun kedepan. Dalam penyusunan RPIK ini, dilakukan kerjasama antara Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro dengan Yayasan Polimer Lestrai dengan Direkturnya adalah Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D.

“Kegiatan survey di Kabupaten Natuna berlangsung selama 5 hari dari tanggal 16 Desember 2018 hingga 20 Desember 2018. Beberapa tempat yang telah dikunjungi diantaranya adalah Teluk Buton, Klinik Kemasan milik Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Natuna, Produsen Pengolahan Ikan menjadi kerupuk, Produsen Es Balok, Produsen Kopra dari Kelapa, dan Pengrajin Rotan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Natuna, Helmi Wahyuda SE. (Foto : Ist)

Teluk Buton ditetapkan sebagai Kawasan Industri untuk pengolahan minyak dan gas bumi berdasarkan RTRW Kabupaten Natuna. Kondisi saat ini adalah Pemerintah Daerah masih dalam tahap Pembebasan lahan dari warga di Teluk Buton untuk peruntukan Kawasan Industri.

Hal ini penting dilakukan karena Kabupaten Natuna memiliki potensi untuk dikembangkan Industri Pengolahan Minyak dan Gas Bumi, mengingat Sumber Daya Alam berupa minyak dan gas bumi di Natuna sangat besar.

Selain Sumber daya minyak dan gas bumi yang melimpah, Kabupaten Natuna juga memiliki sumber daya alam berupa perikanan yang melimpah. Industri pengolahan berbahan baku ikan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.

Guna mendukung tumbuhnya industri pengolahan ikan ini, perlu adanya industri pengemasan makan. Industri pengemasan makanan ini bertujuan untuk menciptakan kemasan-kemasan produk hasil industri pengolahan ikan. Sehingga produk-produk pengolahan ikan bisa dikemas dengan baik guna menjamin mutu dan kualitas produk. Produk industri pengolahan ikan dengan pengemasan yang baik ini bisa dijual ke daerah lain, bahkan di ekspor ke luar negeri.

Klinik Kemasan milik Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Natuna memberikan jasa desain label untuk produk usaha masyarakat secara gratis. Juga menyediakan jasa kemasan dan kemasan vakum, namun terbatas karena alatnya baru 2.

Kunjungan ke IKM dengan produk utama berupa kerupuk Atom dari Ikan. IKM ini sudah mandiri dan memiliki outlet sendiri. Pemiliknya juga dilibatkan oleh dinas, untuk memberikan pelatihan kepada yang lain. Hasil produknya sudah terjual ke Pekanbaru, Pontianak Dan Batam.

Di Natuna juga terdapat beberapa produsen Es Balok yang digunakan sebagai pengawet ikan hasil tangkapan nelayan. Namun, terdapat permasalahan mengenai lokasi produksi es balok, karena sangat berdekatan dengan bahu jalan, sehingga menyalahi aturan mengenai tata ruang yang ada di Kabupaten Natuna.

“Industri produksi Es Balok ini perlu dikembangkan dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik, sehingga tidak menyalahi aturan dan mampu meningkatkan produksivitas,” terangnya.

Jenis industri lain yang ada di Kabupaten Natuna dan bisa dikembangkan yaitu kerajinan dari rotan. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan salah seorang pengrajin, terdapat banyak rotan yang tumbuh didalam hutan. Hanya saja terdapat kekurangan data statistik mengenai jumlah atau hasil produksi rotan di Kabupaten Natuna ini.

“Pada dasarnya, jika terdapat banyak sumber rotan, industri kerajinan rotan di Kabupaten Natuna ini dapat dikembangkan, mengingat masyarat mampu untuk mengubah rotan menjadi barang bernilai seni tinggi. Produk yang dihasilkan nantinya bisa dijual ke luar daerah atau bahkan di ekspor,” pungkasnya. (Rans)

 

Tags: ,
banner 740x400

banner

banner

banner

banner

banner 740x400

SIJORIKEPRI.COM - TERVERIFIKASI DEWAN PERS

DEWAN PERS - VERIFIKASI MEDIA SIJORI KEPRI.COM

Subscribe

Ikuti Perkembangan berita terbaru dan terlengkap langsung ke email anda, silahkan berlangganan berita kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan