banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

HMI Minta HUT Kemerdekaan Jangan Hanya Diingat Saja

HMI Minta HUT Kemerdekaan Jangan Hanya Diingat Saja
Ketua Umum HMI Tanjungpinang Bintan, Muhammad Arifin. (Foto : Ist)


HMI Minta HUT Kemerdekaan Jangan Hanya Diingat Saja

SIJORIKEPRI.COM, TANJUNGPINANG — Ketua Umum HMI Tanjungpinang Bintan, Muhammad Arifin, mengatakan, 17 Agustus 1945, merupakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, apakah 17 Agustus itu hanya cukup diingat atau diperingati sebagai rutinitas peringatan saja ?

”Di usia 74 tahun, sudah saatnya kita munculkan otokritik pada agenda rutin tahunan memperingati hari Proklamasi Indonesia dengan upacara bendera, bahwa kalau upacara bendera tak lagi mampu memompa semangat perjuangan, sebaiknya kita gantikan dengan agenda lain dalam memperingati HUT RI,” kata Muhammad Arifin, melalui siaran persnya, Sabtu, (17/8/2019).

Persoalannya kalau setiap tahun diperingati sudah kurang lebih 73 kali bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan, lantas apakah buah manis yang dapat dipetik dari upaca peringatan tersebut, sudahkah terinternalisasi semangat perjuangan kemerdekaan itu pada anak-anak bangsa Indonesia.

Cara pandang ketika semangat perjuangan kemerdekaan itu terinternalisasi, maka harusnya setiap tahunnya ada dampak positif yang melekat pada diri-diri individu ataupun kelompok, dari lapisan masyarakat terkecil sampai kepada stake holders.

”Harus kita akui dan prihatin dengan upacara proklamasi setiap tahun yang belum mampu memberikan bekas mendalam secara luas untuk menanamkan semangat perjuangan yang dulu membara pada diri-diri pendiri negara ini,” terangnya.

Realita dilapangan berbicara, bahwa negara ini sedang dihinggapi dengan berbagai penyakit. Ada banyak persoalan yang terlihat dengan jelas yang dihadapi bangsa dan negara ini. Namun, anehnya penyelesaian tidak kunjung menemui titik terang.

Siapa yang tidak tahu setelah Indonesia merdeka kekayaan alamnya tidak dinikmati secara utuh oleh anak-anak bangsa Indonesia, bahkan lebih memalukan, ada anak-anak bangsa yang berwajah dua tampil sebagai perpanjangan tangan pihak asing untuk mempermudah mengakses kekayaan sumber daya alam Indonesia.

Siapa yang tidak tahu minuman keras, narkoba dan sejenisnya, telah membunuh generasi muda generasi penerus bangsa Indonesia saat ini telah masuk dengan begitu masif. Anehnya itu juga diedarkan oleh anak-anak bangsa Indonesia, bahkan ada oknum-oknum yang seharusnya bertindak mencegah, namun justru juga terlibat dalam penyebar luasan peredaran bahan-bahan tersebut.

Siapa yang tidak tahu budaya korupsi tumbuh subur hampir seluruh lembaga negara, mulai dari legislatif, eksekutif dan yudikatif, bahkan merambah dalam tatanan pemerintahan dan masyarakat kelas bawah. Proses ini terus berjalan bahkan betapa banyak oknum yang terlibat, namun dilindungi hukum dan itu diperankan oleh anak-anak bangsa juga.

Sungguh sangat memprihatinkan nialai-nilai dasar Pancasila telah pudar, Negara kita, katanya, berketuhanan, tapi pengamalan agama jauh dari kenyataan. Negara kita, katanya, negara yang berkemanusiaan adil dan beradab, tapi harga diri kemanusian dan keadilan tidak dirasakan.

Negara kita bersatu tetapi yang diproduksi sikap perpecahan. Negara kita, katanya, bermusyawarah dalam keputusan, tapi semua dibeli dengan uang dan kepentingan. Negara kita, katanya, negara yang mementingkan keadilan sosial, tapi ketimpangan sosial antara kaya dan miskin terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Akibatnya, cita-cita luhur para pendiri bangsa dan masa depan Indonesia dengan kondisi demikian menjadi suram dan jauh dari capaian.

”Oleh karena itu, mari kita baca kembali fakta-fakta sejarah yang pernah terekam dalam perjalanan bangsa dan negara republik Indonesia,” katanya.

Hampir tidak terbayangkan oleh kita, ketika itu anak-anak telah menjadi yatim piatu karena orang tuanya tewas dalam medan perjuangan. Betapa banyak wanita menjadi janda, karena suami tewas terbunuh oleh penjajah, bahkan wanita-wanita telah diperkosa, disiksa dan dibunuh secara sadis.

Goresan luka dimana-mana, darah telah tumpah berserakan, jutaan nyawa telah melayang. Derita kelaparan telah menjadi teman bagi masyarakat Indonesia, lantas dengan apa kita akan membalasnya ?.

Sementara anak-anak bangsa telah lupa dengan rasa sakit dan diderita para pejuang bangsa Indonesia, terlena dalam buaian hasrat dan nafsu kenikmatan atas kekayaan alam Indonesia, atas pangkat jabatan yang diberikan, atas harta kekayaan yang bisa dinikmati tampa harus mempertaruhkan nyawa.

Harusnya dengan momentum HUT RI yang sudah di Usianya 74 ini hadir untuk menjadi penghayatan mendalam bagi seluruh anak bangsa Indonesia, bahwa ada histori berdarah yang tak mudah untuk mengibarkan bendera itu. Mulailah dari tindakan-tindakan kebaikan kecil, tapi ketika dikerjakan dengan bersama-sama, makan itu akan menjadi momentum besar dan membudaya.

Kalau upacara bendera tidak lagi mampu memompa semangat perjuangan, sehingga berlalu begitu saja tak membekas dalam jiwa, mungkin ada baiknya stop saja gantikan dengan agenda yang lain. (Wak Zek)

Tags: ,
banner 740x400

banner

banner

banner

banner

banner 740x400

SIJORIKEPRI.COM - TERVERIFIKASI DEWAN PERS

DEWAN PERS - VERIFIKASI MEDIA SIJORI KEPRI.COM

Subscribe

Ikuti Perkembangan berita terbaru dan terlengkap langsung ke email anda, silahkan berlangganan berita kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan