banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

Indonesia, Salah Satu Negara Terbesar Praktik Prostitusi Dunia

Indonesia, Salah Satu Negara Terbesar Praktik Prostitusi Dunia
Bupati Bintan, Apri Sujadi, saat menghadiri penutupan Lokalisasi Bukit Bukit Senyum KM 79 dan Bukit Indah KM 24 Kabupaten Bintan. (Foto : Patar Sianipar)


Indonesia, Salah Satu Negara Terbesar Praktik Prostitusi Dunia
– Dua Diantaranya Ada di Kabupaten Bintan.

SIJORIKEPRI.COM, BINTAN — Kepala Dinas Sosial Bintan, Edi Yusri, mengatakan, pasca penutupan lokalisasi Bukit Senyum KM 79 Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara dan Bukit Indah KM 24 Toapaya, Pemkab Bintan akan berupaya maksimal membatasi praktik prostitusi di wilayah Bintan.

Kebijakan ini, juga mengacu misi Presiden Joko Wododo, yang menegaskan, tahun ini merupakan tahun penutupan lokalisasi dan prostitusi di Indonesia.

Daerah asal para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang selama ini beraktivitas di dua lokalisasi ini, berasal dari NTB, NTT, Jawa Barat, Jakarta, Palembang, Sumatera Utara, Aceh, bahkan dari Kepulauan Riau.

”Dan semuanya akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing,” kata Edi Yusri, Senin, (16/9/2019).

Data Kementerian Sosial Republik Indonesia, salah satu negara dengan lokalisasi dan prostitusi terbesar di dunia, adalah Indonesia dan dua diantaranya ada di Kabupaten Bintan.

“Data awal dari dua lokalisasi yang ada di Bintan, jumlah WTS sebanyak 129 orang, seiring dengan bergulirnya informasi akan dilakukan penutupan lokalisasi, sebagian memilih untuk meninggalkan lokalisasi secara sukarela dan pulang kampung sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Rehabiltasi Sosial, Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Anak dan Perempuan Kementerian Sosial (Kemensos) RI, Waskito Budi Kusumo, saat menyampaikan kata sambutannya mengatakan, dari 198 lokalisasi yang ada di Indonesia, baru 157 yang bisa kita tutup, dan di Bintan ada dua yang ditutup pada hari ini.

“Indonesia, termasuk salah satu negara penyumbang lokalisasi dan prostitusi yang terbesar di dunia,” ungkapnya.

Kementerian Sosial Republik Indonesia, bertanggungjawab untuk 56 orang mantan Wanita Tuna Susila (WTS) yang masuk dalam kategori pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial yang di Bintan, mulai dari transportasi pulang ke kampung halamannya hingga santunan maupun bantuan.

“Semoga ini menjadi titik nol, untuk melangkah ke aktivitas baru, setelah kembali ke kampung halamannya, bertemu dan berkumpul bersama keluarga,” harapnya.

“Walaupun bantuan bersifat stimulan, namun harus tetap disyukuri, karena ini merupakan modal awal untuk dapat melakukan aktivitas yang lebih baik,” ujarnya.

Kementerian Sosial, memberikan apresiasi kepada semua pihak dalam perjuangan melakukan upaya penutupan lokalisasi di Bintan, karena penutupan lokalisasi dan prostitusi tersebut, menurut Waskito, bukan persoalan yang gampang.

“Ini merupakan masalah perdagangan orang, dan bukanlah pekerjaan yang mudah, ini adalah mafia internasional, yang mana incarannya adalah kaum perempauan dan anak-anak,” pungkasnya. (Wak Tar)

Click to rate this post!

[Total: 0 Average: 0]

Tags: ,
banner 740x400

banner

banner

banner

banner

banner 740x400

SIJORIKEPRI.COM - TERVERIFIKASI DEWAN PERS

DEWAN PERS - VERIFIKASI MEDIA SIJORI KEPRI.COM

Subscribe

Ikuti Perkembangan berita terbaru dan terlengkap langsung ke email anda, silahkan berlangganan berita kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan