banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

NyeRock, Band, Modern Dance, Puisi Palawan “DIGELAR di ANAMBAS”

NyeRock, Band, Modern Dance, Puisi Palawan “DIGELAR di ANAMBAS”
Rioyo. (Foto : Rohadi)


NyeRock, Band, Modern Dance, Puisi Palawan “DIGELAR di ANAMBAS”
– Ada Penampilan Disabilitas.

SIJORIKEPRI.COM, ANAMBAS — Komunitas NyeRock Seni dan Budaya “Anambas Ensambel” akan menggelar Iven perdana NyeRock, Band, Modern Dance, Puisi Palawan, Penampilan Disabilitas, pada 10 November 2018 mendatang. Even perdana NyeRock ini akan dilaksanakan di Balai Astaka, Lapangan Sulaiman Abdullah.

Salah seorang tim NyeRock, Reci, mengatakan, tujuan even ini semata-mata ingin merangkul segenap pihak, agar memperhatikan hak-hak Penyandang Disabilitas yang berada di kampung.

”Kita berharap, Disabilitas diperhatikan. Mereka punya hak untuk itu,” katanya, Selasa, (6/11/2018).

Reci mengaku, dirinya salah satu penggagas kegiatan seni pertunjukan bertajuk NyeRock dari Komunitas Seni dan Budaya Anambas Ensambel .

”Kami hanya memfasilitasi bagi seniman lokal dan generasi muda di bidang kesenian di daerah ini,”katanya.

Apapun yang dilakukan bukan semata-mata berdasarkan pendidikan, tetapi yang non pendidikan juga kita galakkan, maupun yang penyandang difabel yang ada di Kabupaten Anambas, tetapi saat bermain musik bisa menunjukan kemampuannya tersendiri.

Harapannya, pemerintah daerah melalui dinas terkait atau melalui lembaga yang ada, mau memfasilitasi bagi penyandang difabel daerah Anambas, agar berkelanjutan sehingga mereka mendapat hak yang layak bagi kaum tersebut di bidang kesenian.

Pada kesempatan yang sama, Sijori Kepri bertemu dengan salah satu anak muda yang berbakat, bernama Yo, kelahiran Desa Liuk, Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Yo memiliki kemampuan bermain alat musik keyboard. Walapun ia penyandang difabel, namun ia mampu membuat orang senang.

Saat Yo atau dengan nama lengkap Rioyo, kelahiran 1990, ditanya sejak tahun berapa mulai berminat bermain musik jenis keyboard.

“Saya awalnya tidak tertarik bermain musik, namun saat itu usia saya lebih kurang 10 tahun. Karena saat itu saya tidak sekolah, jadi sehari-hari saya menghabiskan waktu bermain di rumah bersama teman-teman saya yang seumur,” ujarnya.

“Itu berawal saat saya mendengar teman saya main sesuatu dengan suara yang enak saya dengar. Pada saat itulah, saya pengen main yang apa teman saya main,” ungkapnya.

Tidak beberapa bulan kemudian, orang tuanya membelikannya orgen/keyboard. Kemudian ia menekunkan main, sehingga dianggap keluarganya mampu memainkan keyboard, kemudian ia diajak mengisi acara pernikahan.

“Dari situlah nama saya selalu disebut seorang anak buta bisa main keyboard, sehingga berkembanglah keluar kampung saya. Akhirnya saya diajak oleh keluarga saya mengisi acara pesta perkawinan orang. Kalau ngga salah saya, acara itu di Dusun, saat ini Dusun itu sudah menjadi Desa Pesisir Timur,” katanya.

Saat ditanya sudah berapa banyak Riayo mengisi acara pesta perkawinan untuk bermain keyboard ?

“Kalau jumlah banyaknya, saya tidak teritung, tapi lebih dari 100 kali bang,” jawabnya. (rd)

 

Tags:
banner 740x400

banner

banner

banner

banner

banner 740x400

SIJORIKEPRI.COM - TERVERIFIKASI DEWAN PERS

DEWAN PERS - VERIFIKASI MEDIA SIJORI KEPRI.COM

Subscribe

Ikuti Perkembangan berita terbaru dan terlengkap langsung ke email anda, silahkan berlangganan berita kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan