, ,

21 Korban Meninggal Dunia, 2 Warga Batam Diringkus

oleh
2 tersangka yang mengakibatkan 21 korban meninggal dunia ditangkap tim gabungan Ditreskrimum Polda Kepri dan Polres Bintan di Batam. (Foto : Ist)

Sijori Kepri, Batam — 2 (dua) orang warga Batam merupakan penampung atau pengurus Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal berinisial JI alias J dan Inisial AS alias AB diringkus tim gabungan Ditreskrimum Polda Kepri dan Polres Bintan, atas kasus pengiriman PMI ilegal yang mengalami kecelakaan kapal di Johor, Malaysia, beberapa waktu yang lalu.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Harry Goldenhardt, mengatakan, 2 (dua) orang tersangka berinisial JI alias J dan Inisial AS alias AB diringkus karena melakukan pengiriman PMI ilegal, yang mengalami kecelakaan kapal di Johor, Malaysia, yang mengakibatkan 21 korban meninggal dunia dan 25 orang masih dalam pencarian.

“Dua orang ini diduga kuat sebagai penampung PMI ilegal berdasarkan olah TKP dan keterangan saksi-saksi. Kedua orang ini berinisial JI alias J dan Inisial AS alias AB. Inisial JI alias J diringkus dirumahnya di wilayah Kavling Harapan Jaya, Bengkong Sadai, Kota Batam. Sedangkan Inisial AS alias AB diringkus di Perumahan Cendana, Batam Center, Kota Batam,” kata Kombes Pol Harry Goldenhardt, didampingi Dir Reskrimum Polda Kepri, Kombes Pol Jefri Ronald Parulian Siagian, dan Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri, AKBP Achmad Suherlan, Senin, (27/12/2021).

Dari JI alias J berhasil diamankan barang bukti 5 (lima) lembar tiket pesawat Lion Air rute Jakarta-Batam, 1 (satu) unit Handphone yang dijadikan sebagai alat komunikasi, buku rekening Bank BRI atas nama tersangka dan 1 (satu) Unit Sepeda Motor yang digunakan menjemput PMI di Bandara Hang Nadim, Kota Batam.

Sedangkan dari Inisial AS alias AB diamankan barang bukti berupa 1 (satu) Unit Handphone, 1 (satu) buku rekening atas nama SH yaitu istri tersangka inisial AS alias AB, ATM atas nama SH, dan 1 (satu) Unit mobil Toyota Corona warna Gold.

Tidak berhenti sampai disini saja, penyidik juga melakukan pemeriksaan terhadap 5 (lima) orang saksi. 

Dari perkara ini, penyidik juga telah melakukan penyitaan terhadap 7 (tujuh) unit Speed Boat Fiber yang digunakan untuk pengiriman PMI ilegal, dan juga 1 (satu) unit kapal kayu yang digunakan untuk penampungan sementara PMI Ilegal.

“Terhadap kedua tersangka ini telah diterapkan dugaan tindak pidana orang perseorangan dilarang melaksanakan penempatan Pekerja Migran Indonesia ke Luar Negeri tanpa memenuhi persyaratan, sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 81 dan pasal 83 undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan Pekerja Migran Indonesia, dengan ancaman paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000 (lima belas miliar rupiah),” ungkap Harry.

Sementara itu, Dir Reskrimum Polda Kepri, Kombes Pol Jefri Ronald Parulian Siagian, menambahkan, sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa kasus ini terjadi di daerah Malaysia. 

Berdasarkan informasi tersebut, Polda Kepri melakukan penyelidikan dilapangan dan melakukan koordinasi juga dengan pihak-pihak terkait. Dan kedua tersangka ini adalah yang menjadi perantara yang berada di Kota Batam, sebagai pengumpul atau penerima PMI ilegal.

“Mereka ini tidak bekerja sendiri, ini merupakan sindikat dan ada bagian lainnya. Untuk sementara ini baru 2 (dua) tersangka yang kita dapatkan. Namun untuk yang lainnya masih terus kita kembangkan. Semoga saja kita bisa mengungkapnya,” tambah Kombes Pol Jefri Ronald Parulian Siagian

Dari gabungan Satgas misi kemanusian ini, lanjutnya, akan terus melakukan pengembangan terhadap perkara ini. Dan kepada pihak-pihak yang terlibat, tentunya akan kita tarik dan diproses untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya atas pengiriman PMI secara Ilegal ini. (Wak Dar)

No More Posts Available.

No more pages to load.