Bentrok Nelayan Tpi dan Bintan Diselesaikan Damai

oleh

BINTAN (SK) — Kisruh yang terjadi antara nelayan Bintan dan Tanjungpinang akhirnya diselesaikan dengan secara damai diantara kedua belah pihak. Pertemuan mediasi penanganan masalah antara nelayan Tanjungpinang dan Bintan dilaksanakan di Aula Kantor Camat Teluk Bintan Kamis, (2/4/2015).

Sebelumnya, dua bulan belakangan telah terjadi selisih paham yang hampir terjadi bentrokan antara nelayan Senggarang Kota Tanjungpinang dengan nelayan Tanjung Pisau, Pengujan, Penaga Kecamatan Teluk Bintan dan sekitarnya. Nelayan dari Desa Penaga dan Pengujan yang melaut mencari nafkah sampai ke perairan Senggarang di halau oleh nalayan Senggarang, karena alat tangkap yang digunakan menggunakan kapal pukat gamat yang dilarang.

Begitu juga nelayan Senggarang Tanjungpinang yang melaut masuk ke perairan Bintan dihalau dan dilarang oleh nelayan Desa Pengujan dan Penaga untuk mencari ikan. Alhasil sebelumnya sempat terjadi penahanan oleh nelayan setempat dan juga sebaliknya.

Akhirnya, permasalahan ini ditempuh dengan jalan damai kedua belah pihak yang dimediasi oleh Camat Teluk Bintan As Syukri di Aula Kantor Camat Teluk Bintan.

BACA JUGA  Nelayan Temukan Kapal Mengapung Tanpa Awak di Karimun

Camat Teluk Bintan As Syukri memimpin rapat mengatakan, penanganan masalah kedua belah pihak nelayan ini sebelumnya sudah dilakukan secara persuasif, namun belum selesai.

“Dengan pertemuan ini, diharapkan kedepan tidak terjadi lagi seperti yang lalu dan penanganan ini perlu perhatian dari Bupati Bintan dan Walikota Tanjungpinang. Karena ini dalam rangka meningkatkan pendapatan nelayan baik dari Tanjungpinang dan Bintan,” kata Syukri.

Terkait dengan penanganan khusus kapal pukat gamat yang terjadi unsur kerusakan bila menggunakannya, lebih lanjut Syukri mengatakan nantinya dilaporkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Bintan maupun Tanjungpinang. Karena ini menyangkut wilayah, yang memiliki batasan untuk mencari ikan menggunakan alat tangkap.

Lurah Senggarang Mukhsin yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, pihaknya tetap memegang aturan terkait dengan penggunaan alat tangkap oleh masing-masing nelayan.

“Kita akan mematuhi kepada aturan yang sudah ditetapkan, dan kita juga meminta kepada pemerintah setempat untuk menindaklanjutinya, terkait dengan penggunaan alat tangkap,” ujar Mukhsin.

Setelah dilakukan perdamaian bersama antara nelayan Tanjungpinang dan Bintan yang diwakili oleh masing-masing pengurus Himpinan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), maka akhirnya kesepakatan bersama yang dituangkan ada enam poin yaitu, kami nelayan Senggarang dan nelayan Kecamatan Teluk Bintan menyatakan kesepakatan bersama bekerjasama meningkatkan pendapatan dan pelestarian hasil laut dan melakukan pendataan bersama.

BACA JUGA  BBM Naik, Harga Jual Ikan Masih Rendah

Selanjutnya, bersedia mengikuti aturan dan tidak menggangu atau merusak alat tangkap nelayan setempat, bersedia mengganti alat tangkap nelayan setempat yang rusak/hilang yang diakibatkan oleh aktivitas nelayan Senggarang dan begitu juga sebaliknya.

Meminta pemerintah setempat menindaklanjuti penanganan khusus masalah pukat gamat atau gonggong dan tripang yang ditarik dengan kapal mesin yang meresahkan nelayan setempat. Kemudian, dalam penyelesaian masalah dilapangan tidak boleh melakukan tindakan kekerasan dengan mengedepankan azas kekeluargaan dan musyawarah mufakat. Jika kedua belah pihak nelayan melanggar kesepakatan aturan tersebut, maka siap dituntut sesuai dengan aturan berlaku.

Mediasi damai tersebut dihadiri oleh masing-masing nelayan, HNSI Tanjungpinang, Bintan, Polsek Teluk Bintan dan undangan. (SK-REG)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.