,

Delapan Jam Terombang Ambing, Hanya Ditemani Dua Ekor Lumba-Lumba

oleh -2.345 views
Nahkoda, Junaidi (30) rambut pirang, bersama tiga Anak Buah Kapal (ABK), Avis (25), Miran (24) dan Hamdan (35) yang tenggelam di Perairan Pulau Mapur, Kabupaten Bintan. (Foto : SAR TPI)
height="100%"

Delapan Jam Terombang Ambing, Hanya Ditemani Dua Ekor Lumba-Lumba
– Pengalaman Empat Awak KM Lintas Laut 3 Yang Tenggelam di Perairan Pulau Mapur.

Sijori Kepri, Bintan — Insiden KM Lintas Laut 3, yang tenggelam di Perairan Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Rabu, (11/3/2020), meninggalkan kenangan tidak terlupakan bagi sang Nahkoda, Junaidi (30), bersama tiga Anak Buah Kapal (ABK), Avis (25), Miran (24) dan Hamdan (35).

Mereka, sama sekali tidak menyangka bisa selamat dari musibah ini. ”Jika Allah mau berkehendak, apapun bisa terjadi. Delapan jam kami terombang ambing di tengah lautan bebas. Hanya mengandalkan sekeping papan balok dan satu Life Jacket. Terima kasih, ya Allah, Engkau Maha Penolong,” kata Junaidi, dalam kesempatan perbincangan dengan Sijorikepri.com, Senin, (16/3/2020), malam.

Sejenak ia terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. ”Maaf Pak. Saya masih syok dengan kejadian ini. Pengalaman berharga yang pernah kami alami selama bawa kapal,” katanya lagi.

Junaidi pun mulai menceritakan insiden ini. Kapal belayar dari Jembatan 2 Barelang, Batam menuju Perairan Pulau Mapur, Rabu, (11/3/2020). Di atas kapal, ada 120 bubu, yang akan dipasang di lautan. Selain bubu, salah seorang ABK juga membawa minyak.

Sekitar satu jam perjalanan dari Batam, Junaidi, selaku Kapten Kapal minta tolong pada salah seorang ABK memegang kemudi. Ia lakukan hal ini untuk melakukan pemeriksaan terhadap bubu yang akan dipasang. Lokasi pemasangan bubu, saat itu sekitar 1 mil perjalanan kapal, atau sekitar satu jam perjalanan lagi.

Karena, lokasi pemasangan bubu sudah dekat, Junaidi kemudian bermasudd memeriksa bubu. Ia pun minta tolong pada salah seorang ABK untuk sementara memegang kemudi. Saat kemudi dikendalikan ABK, tidak ada tanda-tanda akan terjadi insiden.

Beberapa saat setelah Junaidi mempercayakan kemudi ke salah seorang ABK, tiba-tiba ombak dan gelombang menghantam kapal. Sebenarnya, ombak dan gelombang ini biasa terjadi di tengah laut. Namun, karena posisi kapal tengah berbelok, kapal tidak bisa menahan gelombang.

”Sejurus kemudian, kapal oleng dan langsung terbalik. Saat terbalik ini, saya dan enam ABK masih sempat berkumpul dan duduk di bagian lambung depan. Tiba-tiba, kapal tenggelam. Kami pun langsung terjun ke laut,” kenang Junaidi.

Saat terapung, Junaidi bersama enam temannya hanya mengandalkan satu papan balok dan satu Life Jacket, yang sempat ia sambar saat kapal belum tenggelam. Semua muatan hilang dan hanyut di bawa ombak. Bangkai kapal pun tenggelam dan tidak kelihatan lagi, laut sangat dalam.

Awalnya, ia bersama enam ABK, Isak Doli (30), Jafersus Wetang (26), Danil (35), Avis (25), Miran (24) dan Hamdan (35), masih berkumpul. Bersama-sama saling berpegangan pada papa balok.

Sekitar satu jam mereka berkumpul, terombang ambing di tengah lautan. Akhirnya, tiga ABK, memutuskan berenang, mencari pertolongan. Mereka adalah Isak Doli (30), Jafersus Wetang (26) dan Danil (35).

”Akhirnya, Isak Doli, Jafersus Wetang dan Danil, berhasil diselamatkan salah satu kapal. Namun, mereka tidak menemukan kami berempat yang masih terombang ambing di lautan. Akhirnya, kami hanya bisa pasrah, menunggu mukjizat untuk diselamatkan,” kenang Junaidi.

Hingga petang hari, dan masuk malam hari, Rabu, (11/3/2020), Junaidi dan tiga ABK, belum juga menemukal kapal yang lewat. Dalam penantian di tengah lautan bebas ini, ada keanehan yang mereka temui, saat hari mulai gelap.

Dua ekor Lumba-lumba, sepanjang satu setengah meter, menghampiri. Ikan ini seakan mengajak mereka bergurau. Tidak jarang, lumba-lumba tersebut menggesekkan tubuh mereka ke Junaidi dan tiga teman lainnya.

”Awalnya, saya sempat berpikir, dua ekor Lumba-lumba ini adalah ikan hiu atau jenis ikan lainnya. Kami hanya bisa takut, cemas dan pasrah. Setelah dilihat, rupanya Lumba-lumba. Mereka seakan ingin bergurau dengan kami. Mereka melindungi kami dari ancaman binatang lainnya,” kata Junaidi.

Sekitar delapan jam mereka berenang di tengah lautan luas. Akhirnya, Junaidi mengambil keputusan. ”Kalau kami paksakan berenang yang tidak tahu arahnya, tentu sangat berbahaya. Apalagi, salah seorang ABK mengaku tidak kuat berenang lagi. Badannya kaku, dan sangat kedinginan sekali,” kata Junaidi.

Akhirnya Junaidi berenang meninggalkan tiga temannya. Ia berjanji, jika telah mendapat bantuan, ia akan langsung menjemput mereka. Junaidi lantas berenang ke arah laut terdalam. Sebagai orang kapal, arah yang ia ambil ini memudahkannya mendapatkan bantuan.

Ternyata benar, beberapa menit ia berenang, langsung melihat kapal yang tengah mencari cumi. Kapal tersebut bernama Kapal KM Ketemu Jaya 3. Ia pun langsung berteriak memanggil awak kapal.

Akhirnya salah seorang awak kapal melihatnya. Ia langsung melaporkan ke nahkoda. Tidak lama berselang, awak kapal memberikan pertolongan. Setelah berada di atas kapal, ia minta kapal menolong tiga temannya. Kapal langsung menjemput dan akhirnya tiga temannya berhasil ditemukan dan langsung diangkat ke atas menggunakan tali.

”Saya atas nama teman-teman yang lain, mengucapkan terima kasih pada nahkoda dan awak kapal yang telah menyelamatkan kami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka,” katanya.

Berada di atas kapal yang menyelamatkan mereka, tidak serta merta ia bisa diantar pulang. Mereka terpaksa ikut kapal tersebut mencari tangkapan ikan dan cumi. Sebenarnya, Junaidi mengaku sempat ia meminta ke nahkoda kapal agar mereka bersedia mengantar, namun nahkoda memberi alasan permintaan itu tidak bisa dituruti karena mereka mengejar target hasil tangkapan.

”Akhirnya kami istirahat di kapal. Menurut keterangan nahkoda, saat melaut, mereka memakan sekitar 45 hari. Bahkan lebih. Saat kami ditemukan, mereka baru memasuki hari ke 20,” kata Junaidi.

Barulah keesokan harinya, Minggu, (15/3/2020), nahkoda menghubungi agen kapal KM Lintas Laut 3. Dan selanjutnya pihak agen melaporkan ke tim SAR gabungan, bahwa empat awak kapal yang tenggelam telah ditemukan.

”Akhirya, kami dipertemukan dengan keluarga. Penjemputan kami dilakukan kapal Basarnas. Sungguh, pengalaman paling berharga yang kami alami,” tutupnya.

Kejadian bermula, Kapal bermuatan bubu penangkap Kepiting, KM Lintas Laut 3, tenggelam di Perairan Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Rabu, (11/3/2020) sekira pukul 13.00 WIB. Tiga Anak Buah Kapal (ABK) dan seorang Nahkoda, dinyatakan hilang. Mereka adalah Nahkoda, Junaidi (30), ABK Avis (25), ABK Miran (24) dan ABK Hamdan (35).

Sementara, tiga ABK lainnya, berhail diselamatkan, yakni Isak Doli (30), Jafersus Wetang (26) dan Danil (35). (Wak Zek)

Click to rate this post!
[Total: 5 Average: 4.8]
banner 740x400 banner 740x400 banner 740x400 banner 740x400