Ibu dan Anak Menangis Hadang Puluhan Satpol PP

oleh

– Kios dan Bengkel Tambal Ban Dibongkar Paksa.

TANJUNGPINANG (SK) — Sebuah bengkel tambal ban dan kios rokok dibongkar paksa Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dijalan WR Supratman tepatnya disamping SPBU baru Km8 Tanjungpinang (arah ke Tanjung Uban), Jumat (17/4/2015). Pasalanya letak bengkel yang dibongkar bagian lokasi milik pengelola SPBU.

Zulfahmi, pemilik kios rokok menjual bensin botolan dan tambal ban ini protes dan menolak atas tindakan dan perlakuan petugas Satpol PP yang merobohkan bengkel miliknya.padahal. Menurutnya tanah dimana bengkel itu didirikan merupakan tanah yang dikuasakan oleh pmilik awalnya Gustaf Dongoran kepada dirinya.

“Surat kuasanya jelas saya buat dan saya terima dari Pak Gustaf Dongoran. Katanya Gustaf kepada saya, tanah yang saya tempati saat ini adalah miliknya dan ia juga menyuruh merawat dan berjualan ditempat ini,” ungkapnya.

Selain itu, istri dan anak Zulfahmi sangat ketakutan dan histeris melihat prilaku kekejaman beberapa petugas Satpl PP yang membongkar tempat keluarganya mencari rezeki. Tangis sambil menghadang puluhan petugas Satpol PP juga tidak bisa terhindarkan, namun pemohonan jangan di bongkar oleh ibu dan anak ini tidak di tanggapi oleh petugas Satpol PP yang terus merobohkan paksa.

“Dimana letak keadilan pemimpin kalau hanya berani kepada kami yang miskin. Saya sudah memohon, anak saya sampai menangis saya tarik menarik dengan mereka, namun warung kami tetap saja dihancurkan,” keluhnya sambil menangis dan berusaha menenangkan tangisan anaknya.

BACA JUGA  Satpol PP dan Damkar Rapat Penegakan Perda

Satpol PP yang juga dibantu Satuan Pengamanan (Satpam) SPBU yang menghancurkan kios dan bengkel tambal ban milik Zulfahmi rata dengan tanah. Sementara itu, Jakson salah seorang pengurus SPBU mengungkapkan, anggota Satpam yang berjaga dilokasi tidak ada niat ikut merubuhkan bengel milik Zulfahmi, namun pihak Satpol PP lah yang meminta Satpam SPBU untuk merubuhkan pagar pembatas yang dibuat Zulfahmi saat itu.

“Petugas Satpol PP itu yang menyuruh kami merubuhkan pagar bagian belakang. Sedangkan, beberapa anggota Satpol PP merobahkan bengkel dan kios itu sampai rata dengan tanah,” jelas Jakson.

Zulfahmi menceritakan, kesepakatan perjanjian waktu itu dibuat bersama diatas sebuah kertas bermatrai, apabila tanah yang berukuran 25×45 m2 terjual, maka dirinya mendapat bagian atau persentase sebesar 25 persen, namun jika tanah ini tidak laku maka tanah ini mutlak sepenuhnya milik Zulfahmi dan keluarganya. Tetapi tiba-tiba tanah tersebut dijual Gustaf kepada Suryono (Bos CV Sinar Bahagia Group) kemudian, Suryono kembali menjualnya tanah ini kepada Ko Hwa.dan sekarang lahan inilah yang dijadikan SPBU.

“Saat lahan ini dikelola Ko Hwa dijadikan SPBU disitulah kenyamanan saya sebagai orang yang dikuasakan lahan ini merasa terusik dan saat saya tanya kepada Ko Hwa dia mengatakan lahan itu urusannya dengan Suryono Sinar Bahagia,” ungkap Zulfahmi.

BACA JUGA  Satpol PP Tanjungpinang Bongkar Bangunan Tanpa Izin “DI KAWASAN MANGROVE”

Selain itu, keluarga Zulfahmi juga kerap mendapatkan teror berupa ancaman. Setelah mendapatkan peringatan oleh Satpol PP dirinya berusaha mencari kejelasan kepada pemilik lahan tersebut. Dalam perjalanan tersebut, ia mengaku banyak mendapatkan ancaman dan berbagai teror dialamatkan kepada dirinya dan istri serta adiknya.

“Beberapa waktu lalu, saya juga pernah digertak oleh seseorang yang mengaku Oknum TNI dan puluhan kali diancam oknum Satpol PP, jika saya tidak pindah mereka katanya akan bongkar paksa bengkel saya, usaha bengkel ini tempat saya cari makan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai uang sekolah 2 anak kami,” ungkapnya kepada awak media.

Perilaku dan ketegasan petugas Satpol PP mendapat kecaman dari Sekretaris Lembaga Swadaya Masyarakat Hitam Putih (Lsm) Kota Tanjungpinang Putra. Ia mengtakan, Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang tebang pilih dalam pembongkaran yang diduga menyalahi peraturan dan Perda K3 Kota Tanjungpinang. Seperti sebanyak 13 unit bangunan Rumah Toko (ruko) yang berdiri tepat didepan kampus Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, sampai saat ini ruko itu tak kunjung dirobohkan Pemko Tanjungpinang, padahal bangunan itu juag telah menyalahi peraturan dan UU K3 Kota Tanjungpinang.

BACA JUGA  Irianto (Kakan Satpol PP) : Masa Orang Bersalah Kita Bantu

“13 bangunan ruko tersebut sampai saat ini tidak dirubuhkan petugas Satpol PP, bila ingin menerapkan aturan dan penertiban sesuai Perda dan UU yang berlaku, hendaknya peraturan itu harus diterapkan dan tidak tebang pilih antara sikaya dan simiskin, seperti yang dialami keluarga Zulfahmi,” tegas Putra.

Sebaiknya Walikota Tanjungpinang, kembali memasang tanda merah yang meminta ruko itu segera dirubuhkan, seperti yang dulu pernah kita lihat, namun sampai saat ini tulisan pembongkaran bangunan itu tidak lagi terlihat, papan pembongkaran dicabut, bangunan kampus Stisipol berada tepat dibelakang ruko.

“Mengapa hal ini dibiarkan Pengelola Yayasan Stisipol dan Walikota Tanjungpinang yang melakukan pembiaran, seharusnya pemimpin pro rakyat dan mendahulukan mahasiswa daripada pengusaha dan pemilik ruko yang menurut informasi dari sumber yang saya terima adalah milik salah seorang oknum pejabat daerah,” tutup Putra. (SK-R.Nst)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.