banner 740x400

banner 740x400

KAPOLRI : Pengaruh Kerajaan Melayu “SANGAT BESAR di NUSANTARA”

KAPOLRI : Pengaruh Kerajaan Melayu “SANGAT BESAR di NUSANTARA”
Kapolri Tito Karnavian mengunjungi makam Bapak Bahasa Indonesia, Raja Ali Haji. (Foto : Munsyi Bagus Utama)

– Ibunya Bahasa Indonesia, Pusatnya Ada di Pulau Penyengat.

TANJUNGPINANG (SK) — Kedatangan Kapolri Tito Karnavian ke Pulau Penyengat Indera Sakti, bukan hanya karena akan dianugerahkan Darjah Kebesaran Kerajaan Riau Lingga saja, tetapi sekaligus nyekar ke makam Bapak Bahasa Indonesia, Raja Ali Haji (Pengarang Kamus Bahasa melayu), yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, pada tanggal 5 November 2004.

Tito, saat menyampaikan pidatonya setelah beberapa menit dianugerahi darjah kebesaran sebagai “Dato Perdana Satria Wangsa” dengan di pasangkan “Tanjak” di kepalanya, mengatakan bahwa ada salah satu tokoh (Raja Ali Haji, red) yang menuliskan buku tentang Kerajaan Riau Lingga, dan dari buku itu Ia belajar tentang apa itu Pulau Penyengat dan Kerajaan Riau Lingga. Namun beberapa kali datang ke Kepulauan Riau, baru pertama kali menginjakkan kaki ke Pulau Penyengat.

“Yang lebih penting, yaitu pada Tahun 1928 di Bulan Oktober, dalam deklarasi Sumpah Pemuda, yang pada sumpah ke 3 (tiga) berbunyi, Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Nah, Bahasa Indonesia asalnya dari bahasa Melayu. Padahal, dari Sabang sampai Merauke, itu ada ratusan bahasa. Ini menunjukkan bahwa Pengaruh Kerajaan Melayu Sangat “Besar” di Nusantara ini,” bebernya.

Mantan Kapolda Papua itu juga menceritakan selama 2 (dua) tahun di sana, bahwa di Papua tidak pernah ada Kerajaan, kecuali di bagian kepala burungnya (peta), yang dikuasi Kerajaan Tidore. Sehingga suku-suku disana kalau berbahasa dengan sesamanya menggunakan bahasa sukunya sendiri.

“Tapi kalau dari satu suku yang di gunung, dengan suku lain yang di gunung lain yang beda sukunya, mereka akan berbicara dengan bahasa Indonesia. Jadi bahasa pemersatu di Papua itu adalah bahasa Indonesia, yang ibunya adalah bahasa Melayu, yang pusatnya ada di pulau ini (Pulau Penyengat, red).

Diakhir pidatonya, Tito mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Oleh karena itu, dengan sejarah, kita bisa memiliki rasa nasionalisme, patriotisme, kebersamaan, dan akan membuat kita menjadi bersatu dengan kepentingan bersama. Salah satu yang membuat kita bersatu adalah kebersamaan karena bahasa.

Hadir juga pada saat itu, Kapolda Kepri, Sam Budi Gusdian, Gubernur Kepri Nurdian Basirun, Walikota Tanjungpinang, Lis DArmansyah, Mendagri Cahyo Kumolo, Petinggi-petinggi Mabes Polri, Petinggi-petinggi di Kepri, baik Militer maupun sipil. (SK-MU/C)

 

Click to rate this post!

[Total: 0 Average: 0]

Tags: , , ,
banner 740x400

banner 740x400

banner

banner

banner

banner

banner 740x400

SIJORIKEPRI.COM - TERVERIFIKASI DEWAN PERS

banner 728x90

 

Subscribe

Ikuti Perkembangan berita terbaru dan terlengkap langsung ke email anda, silahkan berlangganan berita kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan