Kasus Pemukulan Mahasiswa Stisipol Berakhir

oleh
Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]

TANJUNGPINANG (SK) — Kasus Pemukulan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (Stisipol) Raja Ali Haji Tanjungpinang, di Kampus Stisipol, Minggu, (14/02/2016), berakhir, setelah upaya mediasi yang dilakukan oleh Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian, yang turut menghadirkan Pengusaha Hengky Suryawan dan Pihak Stisipol, Tokoh Flores, Tokoh Agama dan pemuka Masyarakat, Walikota Tanjungpinang, Dandim 0315/Bintan, Lembaga Adat Melayu Kepri, KNPI Kepri, di Ruang Rapat Utama, Polres Tanjungpinang, Jumat, (26/02/2016).

Dalam mediasi itu, Perwakilan Stisipol dan Tokoh Warga Flores, menyambut baik pertemuan yang dilaksanakan oleh Polres Tanjungpinang ini, begitu juga dengan Hengky Suryawan.

“Untuk kepentingan orang banyak, saya tidak pernah minta ganti rugi, saya sudah wanti wanti dan saya tidak mau bising. Saya cuma minta berapa sisa tanah saya yang ada. Sisa-sisa hidup saya, cuma pengabdian aja untuk masyarakat Kepri. Apa yang tidak saya buat, mesjidpun saya bangun satu, wihara pun saya bangun. Saya berhutang sama Tuhan kalau apa yang sudah saya ucapkan,” kata Hengky.

Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian, laksanakan mediasi terkait kasus pemukulan Mahasiswa  Stisipol.(Foto : Efendi Abidin)
Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian, laksanakan mediasi terkait kasus pemukulan Mahasiswa Stisipol.
(Foto : Efendi Abidin)

Menanggapi kasus pemukulan mahasiswa Stisipol ini, Ketua KNPI Provinsi Kepri Teddy Jun Askara, mengatakan, sangat mengapresiasi Ketua LAM dan Kapolres, yang telah memfasilitasi pertemuan ini, dan berharap bagaimana aktifitas stisipol bisa berjalan lagi, serta menghimbau kepada para pemuda di Kepri, jika ada masalah agar menyelesaikan secara baik.

“Kemaren begitu adik-adik kita dijadikan tersangka, KNPI yang pertama memberikan surat kepada Kapolres minta jangan di tahan. KNPI menjamin itu semua, karena itu adalah pemuda kita. Ke depan kita akan menjamin itu. Untuk pemuda, KNPI akan memperjuangkan itu, itulah gunanya KNPI,” katanya.

Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian, mengatakan, yang didamaikan adalah kasus ekses demi kepentingan umum, dengan pertimbangan dari kedua pihak.

“Kasusnya terjadi, muncul perdamaian, dengan pertimbangan dari permohonan kedua belah pihak, disaksikan dan diwujudkan dengan kehadiran Ketua LAM, bahwa masalah ini kami berdamai, artinya pemukulan dan pencabutan patok,” katanya.

Pertemuan mediasi yang berlangsung ditutup oleh Kapolres Tanjungpinang, dan para pihak yang bertikaipun saling berpelukan dan berjabat tangan, serta diakhiri dengan foto bersama.

Kapolres Batal Umumkan Pelaku Penyerangan

Berita sebelumnya, Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian, akan menindak tegas dan tidak akan mundur, dengan oknum maupun otak pelaku yang melakukan penyerangan dan pemukulan kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (Stisipol) Raja Ali Haji Tanjungpinang, di Kampus Stisipol, Minggu, (14/02/2016), jam 2 dini hari. Hal ini disampaikan Kapolres Tanjungpinang, ketika ditemui Wartawan di Lobby Polres Tanjungpinang, Senin, (15/02/2016).

Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian.(Foto : Efendi Abidin)
Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian P Siagian.
(Foto : Efendi Abidin)

“Yang jelas yang melakukan penyerangan akan kita tindak dengan tegas, sore ini saya umumkan,” janji Kapolres AKBP Kristian P Siagian, ketika menjawab desakan mahasiswa yang melakukan demo di Markas Polres Tanjungpinang, yang menuntut agar pelaku penyerangan di proses secara hukum.

Dalam orasinya di depan Pintu masuk Polres Tanjungpinang, para pendemo yang terdiri dari gabungan Mahasiswa Stisipol, mengatakan, akan mendatangi kembali Polres besok untuk menanyakan kepastian kasus penyerangan kampus mereka.

Sebelumnya 3 orang mahasiswa Stisipol yang cedera karena penyerangan masih di rawat di RSUP Tanjungpinang .

Pantauan Sijori Kepri, beberapa LSM, seperti Lidik, Perpat, Pospera, PMII Tpi Bintan, Gempar, GP Ansor, dan perwakilan warga telah membuat peryataan sikap mengenai penyerangan Kampus Stisipol Raja Haji.

Ketika berita ini diterbitkan, pukul 23.07 WIB, sesuai dengan janjinya, Kapolres batal mengumumkan siapa oknum dan otak pelaku dari pemukulan mahasiswa tersebut.

Wakapolres Tanjungpinang Pertaruhkan Jabatannya

Wakapolres Tanjungpinang, Kompol I Wayan Sudarmaya,menerima mahasiswa demo.(Foto : Budi Arifin)
Wakapolres Tanjungpinang, Kompol I Wayan Sudarmaya, menerima mahasiswa demo.(Foto : Budi Arifin)

Ratusan mahasiswa yang berdemo menuntut kepastian dari polisi, terkait kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap rekan mereka sesama mahasiswa, akhirnya membubarkan diri setelah mendapatkan kepastian kapan tersangka akan diumumkan kemuka publik oleh Wakapolres Kota Tanjungpinang, Kompol I Wayan Sudarmaya.

“Saat ini penyidik dari reskrim Kota Tanjungpinang, tengah melakukan pemeriksaan secara insentif terhadap beberapa terduga pelaku penganiayaan terhadap mahasiswa Stisipol,” papar I Wayan Sudarmaya, Senin, (15/02/2016).

Dikatakannya, pihaknya siap untuk mundur dari jabatannya saat ini, jika kasus ini tidak dapat terselesaikan.

“Kami mempertaruhkan jabatan kami seandainya masalah lahan dan masalah penganiayaan ini tidak dapat selesai. Paling lambat sore ini kami akan umumkan siapa dalang dari semua masalah ini,” ucapnya Wayan, meyakinkan mahasiswa.

Setelah mendengar penyataan dari Wakapolres Tanjungpinang tersebut, ratusan mahasiswa ini langsung membubarkan diri dan berjanji akan datang kembali lagi pada sore ini, untuk mendengarkan pernyataan dari pihak Polres Tanjungpinang.

Dua Pemukul Mahasiswa Stisipol Menyerahkan Diri

Polres Tanjungpinang, menetapkan AD, MS, sebagai tersangka kasus pemukulan terhadap mahasiswa Stisipol, Minggu, (14/02/2016). Kedua tersangka tersebut merupakan orang yang mengejar masuk kedalam kampus.

“Sedangkan HS, orang yang membiayai kedua tersangka tersebut saat ini dalam status pemeriksaan marathon, guna ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kapolres Tanjungpinang, AKBP Kristian Siagian, saat menggelar jumpa pers, dikantornya, Rabu (17/02/2016).

Kapolres mengatakan, terjadinya pemukulan terhadap mahasiswa tersebut, berawal dari adanya laporan dari pihak Stisipol, yang dilaporkan oleh Pembantu Rektor (PR), yakni Nurbaiti, ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK), Polres Tanjungpinang, terkait adanya orang yang mematok tanah, yang menurutnya tanah milik Stisipol.

Kapolres dan Wakapolres Tanjungpinang, memberikan keterangan pers. (Foto : Budi Arifin)
Kapolres dan Wakapolres Tanjungpinang, memberikan keterangan pers. (Foto : Budi Arifin)

“Piket Reskrim, bersama SPK turun ke lokasi. Petugas pun menanyakan kepada tukang yang mematok tanah, siapa yang menyuruh dan dijawab, bahwa mereka di suruh HS. Oleh HS, ia mematok tanah tersebut, karena memiliki sertifikat. Petugas bersama ibu Nur itu pun kembali ke Polres,” katanya.

Dilanjutkan Kris, setelah kembali ke Polres Tanjungpinang, Ibu Nur, selaku pihak dari Stisipol, menanyakan apakah ia boleh tidak mendapat surat laporan Polisi atas pematokan tanah oleh tukang yang disuruh oleh HS.

“Namun, dengan pertimbangan, dan ibu itu hanya bisa menunjukan surat hibah, sementara HS bisa menunjukan Sertifikat. Kami tidak menerima laporan dari ibu Nurbaiti,” ucapnya.

Dikatakannya, selain kasus pemukulan ini. Pihaknya juga menemukan dua kasus lainnya. Pertama terkait kepemilikan tanah. Yang mana ada dua kelompok mengaku sebagai pemilik tanah. Kedua, pemukulan terhadap Mahasiswa yang dilakukan oknum kelompok tertentu. Ketiga pengrusakan terhadap barang, yakni merubuhkan patok.

“Terkait adanya tiga kasus dari rentetan kasus ini akan kami cek. Kami mulai dari rentetan pemukulan oknum kelompok tertentu kepada adek-adek saya mahasiswa. Karena dimana adanya korban manusia. Lebih kami condongkan penanganannya, karena mengakibatkan orang luka,” katanya.

Dia juga menuturkan, pihaknya juga sedang melakukan pemeriksaan terhadap pengrusakan patok tanah. Yang mana terlapor dalam kasus pemukulan menjadi pelapor, atas pengrusakan patok tanah tersebut. Hal ini juga menjadi perhatian pihaknya.

“Saya minta siapa pun yang menyuruh adek-adek mahasiswa melakukan pengrusakan ini untuk diusut secara tuntas,” tuturnya.

Kapolres menegaskan, pihaknya tidak akan main-main dan tidak akan mundur dengan hal yang seperti ini. Ia pun meminta oknum yang mempermainkan mahasiswa, agar berani meletakan jabatannya seperti dirinya, yang mempertaruhkan jabatannya untuk mengusut secara tuntas kasus ini.

“Jangan menjadikan adik-adik saya mahasiswa sebagai Bumper. Kita ketahui bersama adek-adek ini mahasiswa yang melakukan aktifitas pendidikan. Untuk kasus pengrusakan masih kami lakukan pemeriksaan dan akan ada tersangka,” tegasnya.

Kris pun mengapresiasi kedua pelaku pemukulan terhadap mahasiswa yang menyerahkan diri dengan datang sendiri ke Polres Tanjungpinang.

“Mereka menyerahkan diri bukan ditangkap. Mereka berdua juga menyerahkan barang bukti berupa Helm dan Sebo. Terkait kasus ini, kami sudah memeriksa delapan orang saksi,” ucapnya.

Sementara itu, ditemui usai menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polres Tanjungpinang, salah seorang tersangka Ad, mengaku awalnya tidak mengetahui, bahwa orang yang di pukulnya tersebut mahasiswa.

“Saya tidak tahu dia mahasiswa. Saya hanya mengejar dan memukul dia usai dia merubuhkan patok tanah yang saya dan beberapa teman pasang,” ujar Ad.

Dikatakan Ad, ia terpaksa memukul mahasiswa tersebut, karena patok yang di pasangnya itu merupakan tanggung jawabnya.

“Saya pasang patok itu belum di bayar. Kalau dirubuhkan seperti itu kami rugi, dan tidak dibayar,” tandasnya. (TIM)

Mediasi diakhiri dengan foto bersama.(Foto : Efendi Abidin)
Mediasi diakhiri dengan foto bersama. (Foto : Efendi Abidin)