Ini Kata Ka Lapas “TERKAIT PEMUKULAN RIKI HARAHAP YANG KOMA di RSUP KEPRI”

oleh
Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]

TANJUNGPINANG (SK) — Kepala Lapas (Ka Lapas) Kota Tanjungpinang, Djoko Pratito, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan Permasalahan kasus Riki Harahap (35), warga binaan yang diduga dipukuli oleh petugas sipir dalam Lapas sampai koma.

“Untuk permasalahan Riki Harahap, itu sebenarnya koma akibat ada gangguan saraf di otak, akibat pemakaian dari narkoba jenis sabu-sabu. Dan dia juga pernah dirawat di RSUP sebelumnya. Menjelang lebaran Idul Fitri, sakitnya itu kambuh lagi, dan jika sudah kambuh dia seperti orang stress dan ngamuk-ngamuk,” ungkap Djoko Pratito, saat di jumpai Sijori Kepri di Kantor Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II Tanjungpinang, KM 18 Kijang, Bintan Utara, Selasa, (19/07/2016).

Selain itu, Ka Lapas juga membenarkan jika Riki Harahap, pernah dimasukkan di StrapSel, dikarenakan Riki Harahap memukuli salah seorang napi yang bernama Adam. Namun untuk masalah pemukulan Riki Harahap, ia membantahnya.

“Benar, kita memang memasukan Riki Harahap ke Strapsel, namun untuk pemukulan itu tidak pernah terjadi, yang malahan Riki yang memukuli napi yang bernama Adam. Dikarenakan adiknya Riki itu, bertransaksi narkoba dengan adam dan merasa ditipu, dan akhirnya ketangkap dan dijebloskan ke penjara. Tiba di penjara Riki Harahap langsung memukuli Adam dengan menggunakan balok. Makanya kita masukkan Riki ke Strapsel,” ungkap Djoko lagi.

Ka Lapas Kota Tanjungpinang, DJoko Pratito. (Foto : Revi Antoni)
Ka Lapas Kota Tanjungpinang, Djoko Pratito. (Foto : Revi Antoni)

Namun, dijelaskan Djoko, yang dimasukkan ke strapsel bukan hanya Riki saja, melainkan bersamaan napi-napi yang positif masih menggunakan narkoba. Alasan kita masukkan ke strapsel, agar mereka mau mengaku barang tersebut (narkoba, Red) di dapat dari siapa. Selagi tidak mengakui mereka akan terus dimasukkan ke sana (strapsel, Red).

“Karena saya masih mempunyai hati nurani, pas ketika malam lebaran (Idul Fitri, Red) kita keluarkanlah orang-orang itu termasuk Riki. Dengan harapan, agar dapat bisa berjumpa keluarganya. Tetapi setibanya di depan Klinik, penyakit Riki kambuh, akhirnya terjatuh. Dan kita juga coba mengobati disini namun tidak mampu, makanya kita bawa ke RSUP. Di RSUP juga sempat sadar. Saat sadar Riki langsung mengamuk-ngamuk lagi dan akhirnya Koma,” jelasnya.

Sementara itu, untuk masalah pembiayaan kita juga tidak melimpahkan kepada keluarga, tetapi melainkan kita minta bantuan kepada keluarga, agar bisa melengkapi berkas-berkas Riki untuk memudahkan mengurus BPJS, tetapi tetap Lapas yang urus.

“Karena anggaran kita setahun hanya Rp 5 juta untuk napi yang berobat keluar, sedangkan napi kita saat ini berjumlah 489 orang, maka dari itu, kita alihkan ke BPJS. Dan disini juga kita sudah meminta bantuan kepada Gubernur dan pejabat yang lainya, sebab untuk pengobatan Riki di RSUP 5 hari saja sudah Rp 6 juta,” terangnya. (SK-RA)

Ka Lapas Kota Tanjungpinang, DJoko Pratito dan Dokter Lapas Kelas II Tanjungpinang