Kejari Siap Bidik Dugaan KKN Proyek Fisik

oleh

– Dilaksanakan Satker SNVT Kepri di Bintan

TANJUNGPINANG (SK) — Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) siap membidik dugaan kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sejumlah proyek fisik yang telah dikerjakan dilingkungan Satuan Kerja (Satker) Satuan Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pengembangan Permukiman dan Perbatasan Provinsi Kepri tahun sebelumnya.

Informasi diperoleh di lapangan, diantara sejumlah pelaksanaan pekerjaan di lingkungan SNVT tersebut, ada yang dikerjakan melalui penunjukan langsung (PL) oleh Satker bersangkutan dengan aroma KKN, terkesan asal jadi dan tidak tepat sasaran sebagaimana layaknya.

Bahkan, proyek yang dibiayai oleh APBN tahun pekerjaan 2014 lalu ini ada yang diduga dikerjakan fiktif, karena proyek tersebut yang awalnya telah dilakukan sistem lelang. Setelah selesai, semua foto dan dokumentasi pekerjaan pelelangan dimasukkan lagi ke PL.

“Pada prinsipnya kita siap melakukan penyelidikan terkait adanya informasi terhadap pelaksanaan sejumlah pekerjaan proyek di lingkungan SNVT tersebut,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang, Lukas Alexander Sinuraya SH pada Sijori Kepri, dalam menyikapi adanya pemberitaan tentang hal tersebut sebelumnya, Rabu (15/4/2015).

Menurut Lukas, Kejari Tanjungpinang, selaku instansi penegak hukum, senantiasa siap menangani berbagai dugaan tidak kejahatan korupsi di daerah ini, termasuk sejumlah pelaksanaan proyek SNVT Pengembangan Permukiman dan Perbatasan Provinsi Kepri yang diduga melakukan penyimpangan dan tidak dikerjakan sebagaimana layaknya.

“Kita juga minta dukungan dari berbagai eleman masyarakat untuk memberikan informasi serta data yang akurat kepada kita terhadap pelaksanaan pekerjaan proyek tersebut,” ucap Lukas.

BACA JUGA  Penyaluran Dana Bergulir Diskop Batam Masih Berbau KKN

Sebeleumnya, Anggota LSM Kerabat Melayu Anak Negeri Kepri Syamsuri mengungkapkan, berdasarkan laporan dan aduan dari masyarakat serta kontraktor, telah terjadi pekerjaan fiktif di lingkungan SNVT Pengembangan Permukiman dan Perbatasan Kepri yang dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atas nama Arif Darmawan Kusumanto ST.

Disebutkan, ada empat paket pekerjaan yang dilakukan secara PL dengan nilai kontrak masing-masing sekitar Rp150 juta yang tersebar di empat tempat.

Pertama, lokasi di Kota Batam pekerjaan gorong-gorong atau box culvert, kedua di Lingga pekerjaan semenisasi, ketiga di desa Tembeling Kecamatan Teluk Bintan Kabupaten Bintan pekerjaan semenisasi dan drainase/parit pasangan batu mortar.

Terakhir di Kampung Keke Kijang Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Bintan dengan pekerjaan pembuatan pelantar rakyat.

“Seperti di Desa Tembeling, pekerjaan semenisasi dan drainase dilaksanakan tahun lalu dengan pelelangan dan sudah selesai dengan nilai sekitar Rp1 miliar lebih. Namun di lakukan lagi dengan PL, dimana foto dan dokumentasi di lapangan diduga dilakukan secara fiktif, karena bukti foto dan dokumentasi sama dengan pekerjaan lelang,” kata Syamsuri kemarin.

Lebih lanjut dia memaparkan, dari laporan masyarakat dan pengakuan kontraktor tersebut, bahwa konsultan pengawas (supervisi pengawasan) tidak melaksanakan tugas maupun tanggung jawabnya dengan benar. Karena konsultan pengawas tidak berada di lokasi pekerjaan sesuai dengan persyaratan atau ketentuan yang berlaku.

Ini dikarenakan konsultan pengawas hanya perusahaannya saja yang dipinjam, sedangkan personel supervisi pengawasan sudah diatur dari personel PPK Perkotaan Satker SNVT Pengembangan Permukiman dan Perbatasan Kepri Gembong Rohiyawan.

BACA JUGA  Ledakan Terjadi Saat Pemusnahan BB Narkoba “DI KEJARI TANJUNGPINANG”

“Walaupun kegiatan pekerjaannya hanya PL, namun apakah boleh dan benar konsultan pengawas dari instansi atau dinas terkait. Ini sudah sangat jelas indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dilakukan oleh PPK,” ujar Syamsuri.

Dengan kurang atau tidak adanya pengawasan, maka terjadilah pekerjaan yang tidak sesuai atau dimanipulasi oleh pihak kontraktor yang bekerja sama dengan PPK Arif Darmawan Kusmanto dan personel supervisi pengawasan Gembong Rohiyawan.

Contohnya, seperti pekerjaan di Desa Tembeling yang diduga dilakukan secara fiktif dan di Kampung Keke, Kijang hanya dikerjakan pelantar di dekat salah satu rumah.

“Kita berharap kepada aparat penegak hukum untuk segera melakukan pemeriksaan dan penindakan secara tegas kepada PPK dan supervisi pengawasan serta rekanan yang ikut dalam melaksanakan pekerjaan fiktif dan kolusi tersebut,” pintanya.

Pihak Satker SNVT Pengembangan Permukiman dan Perbatasan Kepri yang dikonfirmasi terkait dengan dugaan pekerjaan fiktif serta asal jadi dan tidak tepat sasaran mengakui hal tersebut.

Menurut Satker tersebut, seperti pekerjaan di Batam sudah selesai dan hasilnya bisa dikatakan bagus, namun dalam pelaksanaannya pihak supervisi pengawasan hanya sekali atau dua kali datang ke lokasi.

Pekerjaan di Lingga, konsultan pengawas sama sekali tidak pernah datang mengawasi dan diduga PPK sudah bermain dengan kontraktor.

Begitu juga di Desa Tembeling dan Kampung Keke, pekerjaan dinilai terkesan asal jadi, tidak sesuai dengan spesifikasi serta tidak tepat sasaran.

BACA JUGA  M Arieswan Terancam Dipanggil Paksa Jaksa

Disebutkan, pekerjaan supervisi pengawasan dengan anggaran hampir Rp50 juta setiap paket semua bermasalah dan pihak konsultan pengawas tidak mengerjakan 100 persen.

“Seperti pekerjaan di Jalan Keter Tengah Desa Tembeling dua tempat dengan anggaran tahun lalu sekitar Rp1 miliar lebih dilakukan secara pelelangan. Seteleh pekerjaan ini selesai, dianggarkan lagi untuk PL sekitar Rp150 juta yang diduga sengaja difiktif kan, dimana foto dokumentasi pekerjaan lelang dimasukkan ke PL dan ini sudah jelas menyalahi aturan,” urainya.

Sementara PPK SNVT Pengembangan Permukiman dan Perbatasan Kepri, Arif Darmawan Kusumanto ST, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) belum bisa memberikan jawaban. Beberapa kali dihubungi telpon selulernya, meskipun aktif, namun tidak menjawab.

Meski demikian, ketika di SMS, Arif Darmawan hanya menyebutkan bahwa ia tengah mengukuti rapat, dan segera menghubungi kembali.

“Nanti saya telpon, sekarang lagi rapat,” kata Arif Darmawan melalui pesan singkatnya. (SK-APN)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.