Ia kembali bak panglima perang yang memenangkan pertempuran. Rakyat Kepri bersuka ria. Rumahnya dan rumah adiknya Hardi Hood di Batam penuh sesak.
Tangisan air mata tumpah ruah. Itulah kerinduan rakyat kepada pemimpinnya yang mau berkorban harta dan badan, demi tegaknya Provinsi Kepri. Tak banyak sosok seperti Huzrin Hood.
Di dua Pilkada baik 2010, 2015 kemana arah Huzrin, maka calon itu menang. Dan Pilkada 2020, Huzrin kembali memberikan dukungan seperti dia mendukung Muhammad Sani ketika melawan Soerya.
Dan atas izin Allah, Sani menang melawan Soerya yang berpasangan dengan Ansar. Huzrin sampai hari ini masih memiliki pengaruh kuat. Ia kampanye di Karimun, Batam, Natuna dan Anambas, hingga Bintan. Orang tua-tua masih ingat siapa Huzrin. Inilah kelebihan Isdianto. Ia dapat dukungan dari tokoh yang sangat besar kontribusinya untuk hadirnya Provinsi Kepri di tengah-tengah kita saat ini.
Provinsi Kepri itu seksi. Ia bagai bidadari yang selalu diperhatikan. Bayangkan saja, penduduk 2 (dua) juta jiwa, dengan perwakilan DPR RI hanya empat orang, dapat proyek maha hebat dengan anggaran lebih dari Rp 7 triliun, yakni membangun jembatan yang tak pernah dibangun di Indonesia. Nantinya mengalahkan Jembatan Suramadu di Jawa Timur.
Karena Kepri ini seksi, masyarakatnya harus makmur, sejarahtera, maka para tokoh penting itu sepakat. Kepri harus dipimpin seorang Gubernur yang hebat dan punya pengalaman mumpuni di birokrasi. Dan pilihan itu mereka sepakat ke Isdianto. Jika mereka sudah menentukan ke Isdianto, tentu kita ikut bukan? Semoga…
(Part 13 dari 30/Red)














