Kuang Hong Dituntut Satu Tahun Penjara

oleh

– Dugaan Pemalsuan Surat Tanah di Kampung Bugis.


TANJUNGPINANG (SK) — Kuang Hong alias Nyonya Nadus (65), terdakwa dugaan kasus pemalsuan surat tanah seluas 2.709 meter persegi, di Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota, dituntut selama satu tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kamis (12/03/2015).

Zaldi Akri SH, selaku JPU menilai wanita tua dan tidak bisa tulis baca tersebut, telah terbukti bersalah melakukan serangkaian tindak pidana pemalsuan surat tanah milik saksi Yong Kerry Hewisusanto, anak dari Susanto sebagai ahli waris pemilik lahan tersebut.

Dalam tuntutan tersebut, JPU juga mempertimbangkan hal yang memberatkan terdakwa tetang tindak pidana dilakukan dan telah merugikan saksi Yong Kerry Hewisusanto selaku pemiliknya.

Perbuatan terdakwa juga dinilai telah melanggar Pasal 263 KUHP tentang barang Hal itu rangsiapa yang menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam akte otentik.

“Sedangkan hal meringankan terdakwa, telah mengakui kesalahannya, belum pernah dihukum, tidak bisa tulis baca, serta sudah berusia lanjut,” ucap JPU Zaldi.

Atas tuntutan tersebut, Kuang Hong melalui Penasehat Hukumnya, Sri Ernawati akan menyampaikan pembelaan (Eksepsi) pada sidang mendatang.
Dalam sidang juga terungkap, dugaan kasus bermula pada Februari 2005, Kuang Hong mengurus Surat Keterangan Tanah (SKT) atas nama Antonius Wolo.

Namun lokasi yang diurus SKT itu terletak pada bagian tanah milik ahli waris Susanto yaitu Yong Kerry Hewisusanto dengan dasar kepemilikan Surat Pernyataan Melepaskan Hak/Ganti Rugi Usaha di atas tanah dari H Nurdin pada Susanto dengan nomor legalisasi nomor 141/590/VIII/1991 tanggal 30 Agustus 1991.

BACA JUGA  Jodi Wirahadi Kusuma Diduga Melarikan Diri Ke Luar Negeri

Kenyataan, nama yang dipergunakan untuk pengurusan SKT adalah nama anak kandungnya Antonius Wolo. Dimana copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) Antonius Wolo didapat tersangka Kuang Hong dengan dalih untuk mengambil beras miskin (raskin).

Setelah mendapat copy KTP anaknya, terdakwa Kuang Hong kemudian meminta blangko SKT di Kantor Camat Tanjungpinang Kota. Dan meminta Mohamad Ridho, staf Kelurahan Kampung Bugis mengisi blanko permohonan SKT atas nama Antonius Wolo. Berikutnya, tersangka meminta tanda tangan para sempadan, ketua RT, ketua RW, lurah dan camat.

Usai semua diurus, akhirnya 18 Januari 2005 terbitlah SKT atas nama Antonius Wolo dengan nomor register Kelurahan, 2/G1/2005 seluas 2709 meter persegi, dimana lurah yang menandatangani dan menerbitkan SKT tersebut, Nasrizal.

Dalam perkara tanah tersebut, juga terdapat nama mantan pejabat di Kota Tanjungpinang, maupun istrinya, termasuk perangkat RT setempat sebagai saksi. Mereka diduga mengetahui, termasuk telah mengusai tanah seluas 2.709 meter persegi di Kelurahan Kampung Bugis tersebut.
Sejumlah saksi tersebut terdapat nama Sri Herlina, istri dari alm Soejarwoto, mantan Camat Tanjungpinang Kota pada saat kasus ini terjadi tahun 2005 lalu dengan mendapatkan bagian tanah berdasarkan SKGR nomor 15/590/II/2005 tertanggal 14 February 2005 seluas 340 meter persegi.
Disamping itu, nama saksi Ida Royanti, merupakan istri Nasrizal, mantan Lurah Kampung Bugis waktu itu. Pembelian berdasarkan SKGR nomor 16/590/II/2005 seluas 180 meter persegi tertanggal 14 Februari 2005.

BACA JUGA  Ketua RT Ciketing Asem, Tolak Permintaan Warga Urus Sertifikat Tanah

Saksi M Adenan selaku ketua RT setempat, pembelian berdasarkan SKGR nomor 17/590/II-2005 tertanggal 14 Februari 2005 dengan luas 160 meter persegi.

Ali Mochtar, dengan pembelian berdasarkan SKGR 18/590/II/2005 seluas 160 meter persegi juga dijual pada tanggal 14 Februari 2005.
Sopiah dengan SKGR nomor 41/590/IV/2005 tertanggal 14 April 2005 seluas 1.000 meter persegi. Saksi Alex Dermawan, membeli dua kali, masing-masing seluas 300 meter persegi dengan SKGR nomor 44/590/V/2005 dan SKGR nomor 45/590/V/2005 dengan tanggal yang sama, yakni 30 Mei 2005.

Herman membeli seluas 160 meter persegi dengan SKGR nomor 52/590/IV/2007 tertanggal 19 April 2007 Modus Kuang Hong alias Nyonya Nudus mengusai tanah milik ahli waris Susanto yaitu Yong Kerry Hewisusanto.

Muhammad Adnan, salah seorang Ketua Rukun Tetangga (RT) di kawasan lahan tersebut, pada sidang sebelumnya, sempat diancam oleh Ketua Majelis Hakim Dame Parulian Pandiangan SH MH, karena melanggar kesaksian di bawah sumpah di dalam persidangan.

Hal tersebut terungkap, ketika Adnan menjawab pertanyaan majelis hakim, bahwa sebagian tanah yang dimilikinya dalam perkara tersebut, merupakan hasil pembelian ganti rugi kepemilikan lahan dari terdakwa Kuang Hong sebesar Rp 3,5 juta.

BACA JUGA  Sidang Sengketa Tanah Yusiman VS Eddy “SEDIKIT PANAS”

Kenyataannya, sebagian tanah yang dimilikinya tersebut, merupakan hasil pemberian cuma-cuma (gratis) dari terdakwa Kuang Hong, sebagai imbalan untuk mengurus dan mengeluarkan surat keterangan sejumlah kepemilikan tanah bagi pihak lainnya.

Berdasarkan fakta persidangan tersebut, membuat majelis hakim yang dipimpin Dumai Parulian SH MH marah, karena sebelum diambil keterangannya, ia telah disumpah lebih dulu sesuai agama yang dianutnya.

“Artinya saudara ikut menerima suap dari terdakwa. Saudara jangan main-main dalam memberikan keterangan sebagai saksi, karena sudah disumpah untuk berbicara jujur,” ucap majelis hakim.

Dalam keterangannya, Ketua RT ini juga mengakui khilaf, karena telah mengeluarkan sejumlah surat keterangan kepimilikan orang lain, tanpa melihat kondisi yang sebenarnya, termasuk adanya pemalsuan tanda tangan milik saksi Antonius Wolo, yang juga merupakan anak terdakwa.(SK-APN)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.