Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HEADLINEHUKRIMPOLRI

Libatkan Anak di Bawah Umur, 5 Pelaku Produksi Film P+rn+ Ditangkap

×

Libatkan Anak di Bawah Umur, 5 Pelaku Produksi Film P+rn+ Ditangkap

Sebarkan artikel ini
Polres Metro Bandara Soetta menangkap 5 pelaku produksi Film P+rn+ yang melibatkan anak di bawah umur. (Foto : Ist)

JAKARTA — Polres Metro Bandara Soetta berhasil mengungkap jaringan yang terlibat dalam produksi film P+rn+ yang melibatkan anak di bawah umur. Dalam pengungkapan tersebut, polisi berhasil menangkap 5 (lima) orang yang ditetapkan sebagai tersangka.

“Dari hasil penelusuran dan penyelidikan yang dilakukan oleh penyidik, kami berhasil menangkap 5 pelaku,” kata Wakapolrestro Bandara Soetta, AKBP Ronald Fredi Christian Sipayung, dalam konferensi pers di kantornya pada Sabtu (24/2/2024).

Geser Untuk Lanjutkan Baca Berita
Geser Untuk Lanjutkan Baca Berita

Ronald menjelaskan bahwa awalnya polisi menangkap satu pelaku bernama HS yang bertugas mencari korban anak-anak untuk dilibatkan dalam pembuatan film P+rn+. Setelah itu, empat pelaku lainnya ditangkap setelah dilakukan pengembangan.

BACA JUGA :  Ini Hasil Survei Publik, Terkait Kinerja Kapolri Usut Kasus Duren Tiga

“Dari hasil pengembangan terhadap satu pelaku (HS), kemudian dilakukan penelusuran sehingga penyidik berhasil menangkap empat pelaku lainnya berinisial MA, AH, KR, dan NZ,” ungkap Ronald.

Menurut Ronald, tersangka HS berperan mencari anak-anak yang akan dijadikan pemeran dalam film P+rn+. Anak-anak ini kemudian dipaksa untuk melakukan hubungan s+ks+al yang direkam dalam video.

“Pelaku memiliki peran untuk mencari dan menemukan anak-anak yang mau dijadikan pemeran dan dijadikan objek dalam kegiatan seksual yang kemudian direkam, lalu kemudian di-video, dan difoto,” jelasnya.

Selain itu, mereka juga menjual konten porno anak ini melalui media sosial Telegram.

Ronald menyampaikan bahwa pengungkapan kasus ini dimulai dari kerja sama antara Kepolisian Republik Indonesia dan FBI. Dari informasi yang diperoleh, terdapat anak-anak Indonesia yang menjadi objek dalam pembuatan konten pornografi.

BACA JUGA :  PPPK Guru 2022 Dapat Diikuti oleh 2 Kategori Pelamar

“Kasus ini diawali dari adanya informasi yang diterima oleh Kepolisian Indonesia, khususnya Polda Metro Jaya dan Kapolres Bandara Soetta, dari satgas pencegahan kekerasan seksual anak di Amerika yang dikenal dengan Violence Crime Against Children Task Force,” papar Ronald.

“Ini adalah satgas atau gugus tugas yang berkomitmen untuk melindungi anak-anak dari ancaman kekerasan seksual, berkedudukan di Amerika dan merupakan satgas di bawah FBI yang memberikan informasi kepada Kapolres Bandara Soetta tentang adanya video atau konten pornografi yang diduga melibatkan anak-anak Indonesia,” tuturnya.

BACA JUGA :  Jangan Kaget, Mulai 1 Juli 2022 PLN Sesuaikan Tarif Listrik Baru

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestro Bandara Soetta, Kompol Z Reza Pahlevi, menjelaskan bahwa konten P+rn+ dijual dengan harga beragam sesuai durasi. Harga yang ditetapkan juga berbeda antara transaksi dengan mata uang dolar Amerika dan rupiah Indonesia.

“Pelaku menjualnya dengan rentang harga USD 50-100 untuk satu video dengan durasi 1-2 menit. Untuk pelaku yang berdomisili di wilayah NKRI, dijual dengan harga Rp 100-300 ribu,” ungkap Reza.

Reza menambahkan bahwa berdasarkan harga yang ditetapkan dalam penjualan video P+rn+ tersebut, para pelaku memperoleh keuntungan hingga ratusan juta rupiah. ***

(Red)