M Arieswan Abaikan Tiga Kali Panggilan Jaksa

oleh

– Tersangka Kontraktor Proyek Kapal di DKP Bintan

TANJUNGPINANG (SK) — Untuk ketiga kalinya, Moch Arieswan, rekanan kontraktor sekaligus tersangka dugaan kasus korupsi proyek pengadaan kapal sebagai alat penangkapan ikan bagi nelayan Bintan tahun 2011 senilai Rp 1,16 miliar, telah mengabaikan panggilan tim penyidik Tindak Pidana khusus (Pidusus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang

Sesuai surat panggilan jaksa penyidik, sedianya Moch Arieswan diminta dapat memenuhi panggilan ketiga, untuk datang memberikan keterangan atas dugaan kasus yang disangkakan tersebut, Jum’at (17/4/2015).

Namun, hingga waktu yang telah ditentukan, yang bersangkutan ternyata tidak juga bisa hadir. Bahkan nomor handphone yang biasa digunakannya, setelah dihubungi jaksa juga sudah tidak aktif lagi.

Disamping itu, alamat yang bisa digunakan tersangka Moch Arieswan, ternyata setelah di datangi pihak kejaksaan, yang bersangkutan sudah tidak ada lagi disana.

Sejauh ini, pihak Kejari Tanjungpinang tengah mepersiapkan strategi baru untuk dapat mencari dan menangkap Moch Arieswan secara patut, sesuai ketentuan perundangan berlaku.

“Tindakan yang bersangkutan kita nilai sudah tidak koperatif dalam memenuhi tiga kali panggilan kita secara patut untuk dilakukan pemeriksaan terkait dugaan kasus tersebut,” ucap Kepala Seksi Pidsus Kejari Tanjungpinang, Lukas Alexander S SH, kemaren.

BACA JUGA  Lis : Masyarakat Harus Faham “TIGA PRODUK HUKUM”

Atas tindakan yang dilakukan tersangka Moch Arieswan tersebut, lanjut Lukas, pihaknya terpaksa akan melakukan upaya hukum lain untuk mencari tahu keberadaan yang bersangkutan, dan sekaligus melakukan penangkapan sesuai ketentuan hukum berlaku.

“Kita terpaksa melakukan upaya pemanggilan paksa terhadap yang bersangkutan. Jika perlu, kita juga akan mengeluarkan surat tanda Daftar Pencarian Orang (DPO),” ucap Lukas.

Lukas juga berharap kepada segenap masyarakat yang mengetahui keberadaan Moch Arieswan, untuk dapat segera melaporkan kepada pihak Kejari Tanjungpinang, atau aparat penegak hukum terdekat, agat bisa dilakukan upaya penangkapan.

“Kita yakin, kemana pun dan dimana pun keberadaan Moch Arieswan bersembunyi, suatu saat pasti dapat kita ketahui, sesuai teknis penyelidikan yang kita lakukan selama ini,” ungkap Lukas.

Lukas juga berharap, yang M Arieswan memiliki kesadaran penuh untuk dapat hadir memenuhi panggilan serta mentaati aturan hukum yang berlaku.

“Hal tersebut juga berguna bagi M Arieswan, agar tidak mempersulit proses penyidikan yang tengah kita jalani. Namun jika tidak, tentu bakal memperberat bagi yang bersangkutan sendiri nantinya,” ucap Lukas.

BACA JUGA  Doli Terima BMKT Dari Kejari Tanjungpinang

Sebagaimana diberitakan, dalam kasus tersebut, Kejari Tanjungpinang telah melakukan penahanan terhadap pejabat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bintan, Ir Hendri Suhendri alias Hendri (48) sebagai tersangka lainya.

Dalam pelaksanaan proyek tersebut, tersangka Hendri bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sekaligus Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

“Upaya penahanan terhadap tersangka ini, diharapkan dapat mempercepat proses penyidikan dan kelengkapan berkas berita acara pemeriksaan (BAP) dalam penanganan kasus ini,” ucap Lukas.

Lukas mengatakan, pelaksanaan proyek pengadaan lima unit kapal sebagai salah satu sarana tangkapan ikan bagi nelayan di Bintan tersebut berlangsung sejak tahun 2011, dengan pagu anggaran sebesar Rp1,16 miliar. Namun dalam pelaksanaan kegiatan proyek pengadaan kapal tersebut, didapati adanya dugaan unsur melawan hukum tentang korupsi, di mana spek yang dikerjakan tidak sesuai sebagaimana mestinya.

“Meskipun tidak sesuai spek, namun pelaksanaan pencairan dana anggaran yang dikeluarkan dan diterima oleh rekanan kontraktor pelaksana proyek tetap 100 persen,” ungkap Lukas.

Akibat tindakan tersebut, lanjut Lukas, dari hasil penyelidikan sementara yang dilakukan dapat merugikan keuangan negera sebesar Rp 400 juta.

BACA JUGA  M Arieswan Terancam Dipanggil Paksa Jaksa

Dalam penanganan penyelidikan perkara ini kata Lukas, penyidik telah mengambil keterangan sedikitanya sebanyak 8 orang saksi dan menetapkan dua orang tersangka yakni Hendri dan Moch Arieswan alias MA, rekanan kontraktor.

Namun Arieswan saat dipanggil penyidik Kejaksaan untuk diperiksa, kemarin bersamaan dengan Hendri, namun yang bersangkutan tidak hadir. Alasannya tengah menderita sakit. Ketidakhadiran Arieswan ini dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Dalam kasus dugaan korupsi ini, kata Lukas, tidak menutup kemungkinan jumlah tersangka bertambah.

Tersangka dalam kasus ini lanjut Lukas dijerat sesuai pasal 2 jo pasal 3 UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke (1) KUHP. (SK-APN)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.