,

Mantan Anggota DPRD Natuna Harmain Usman Menangis Dituntut 3,6 Tahun

oleh
Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]

– Kegiatan Fiktif Latihan Renang Pelajar.

TANJUNGPINANG (SK) — Mantan anggota DPRD Natuna, Harmain Usman tidak mampu menahan tangisan setelah mendengar tuntutan selama 3 tahun 6 bulan penjara, ditambah kewajiban pengembalian uang Negara Rp 918 juta atau hukumannya ditambah 1 tahun 9 bulan jika tak mampu mengembalikan uang tersebut sebulan setelah putusan dinyatakan incrah (berkekuatan hukum tetap, red).

Tuntutan dibacakan Setyawan Nur Choliq SH, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Kepri dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada PN Tanjungpinang, kemaren.

Selain tuntutan tersebut, Harmain juga dikenakan harus membayar denda Rp 50 juta subsidair 2 bulan kurungan.

Harmain, mantan anggota DPRD Natuna periode 2009-2014 inimenangis, karena dua terdakwa lainnya dalam kasus yang sama, yakni Abbas dan Eddy Saputra (Ketua-sekretaris LSM Serbu, red), hanya dituntut selama 1 tahun 6 bulan tanpa dikenakan kewajiban uang pengganti dan denda.

”Dua terdakwa, Abbas dan Eddy Saputra tidak menikmati uang tersebut. Karena itu tidak dikenakan kewajiban denda dan uang pengganti,” ucap JPU.

Harmain didakwa membuat kegiatan renang fiktif dengan memakai dana aspirasi yang digelontorkan Pemkab Natuna sebesar Rp 1 miliar dari Rp 1,2 Miliar yang di usulkannya. Kegiatan renang ala wakil rakyat ini ditujukan untuk mencari atlit renang dari Natuna tingkat SLTA sederajat.

Namun diduga kegiatan renang ini sebagian besar fiktif, karena ternyata tidak semua pelajar SMA se-Natuna mendapat program yang diajukan LSM Segar Bugar (Serbu) bentukan Abbas dan Eddy ini.

Tiga terdakwa (Harmain, Eddy dan Abas,red) ini diduga merekayasa agar LSM itu membuat kegiatan atas nama pelajar sebanyak 850 orang yang berenang dikolam renang milik Harmain Usman setiap hari. Kegiatan di kolam yang berada di Ranai Darat RT 02/RW 02 dengan kapasitas tidak mencapai 200 orang itu, para pelajar telah mulai olahraga renang dari Januari 2011.

Para pelajar direkrut tidak dikenai bayaran alias gratis, tapi pembayarannya ditanggung LSM Serbu. Cara LSM itu mendapatkan dana, Harmain Usman diduga menyuruh LSM Serbu mengajukan proposal kegiatan diduga fiktif itu kepada pemerintah daerah.

Pengajuan, setelah APBD-Perubahan Natuna 2011 disahkan, namun dana proposal tidak mungkin cair tanpa campur tangan Harmain Usman. Setelah dana cair sebesar Rp 1 milyar dari rekening Bank Riau, Agustus 2011, dana dibagi.

Sebanyak Rp 918 juta di transfer ke-rekening direktur Kolam Renang, Halimun Harmain, Siti Azmah (istri Harmain Usman). Kemudian Rp 82 juta dibagikan pengurus LSM Serbu dengan dalih dana operasional.

Uang Negara Rp 918 juta diterima istri Harmain Usman untuk pembayaran 850 pelajar setiap hari masuk ke-kolam renangnya. Dengan rincian dari Januari hingga Desember 2011. Tiap pelajar membayar Rp 3000 x 850 orang x 360 hari = Rp 918 juta. Dalam kasus ini, kerugian Negara (APBD Natuna,red), total loss alias Rp 1 Miliar.(SK-APN)

banner 740x400

banner 740x400

banner 740x400

height="100%"

loading...
banner 740x400

banner

banner