Masmudi Bingung Ditanya Majelis Hakim

oleh

– Sidang Amran, Dugaan Tambang Pasir Ilegal di Bintan.

TANJUNGPINANG (SK)- Masmudi, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertipan (Kasi Trantip) Kecamatan Bitan Utara, bingung ketika ditanya oleh mejelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, sebagai saksi atas sidang dugaan kasus penambangan pasir ilegal di kawasan Sakera Bintan oleh terdakwa H Amran, Senin (6/4/2015).

Tidak itu saja, saksi Masmudi juga terlihat sering diam seperti orang kebingungan ketika dilontarkan pertanyaan oleh majelis hakim tentang tugas dan tanggungjawabnya sebagai PNS di Kantor Kecamatan Bintan Utara tersebut.

Kehadiran saksi ini juga sangat diperlukan, karena termasuk sebagai saksi fakta sesuai yang tertuang dalam berita acara dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), pada saat proses hukum yang dilakukan oleh Polres Bintan terhadap terdakwa H Amran.

Namun dari sejumlah pertanyaan yang dilontarkan oleh majelis hakim kepadanya, tidak jarang dijawabnya tidak tahu dan tidak mengerti tentang apa yang telah ia lakukan saat itu.

Bahkan ulah saksi tersebut, tidak jarang ketua majelis hakim Parulian Lumbantoruan SH MH yang menyidangkan perkara tersebut, melontarkan nada ucapan keras.

Hal serupa juga dilakukan oleh Penasehat Hukum (PH) terdakwa, yakni H Iwan Kesuma Putra SH MH dan Nirwansuah SH, karena terdakwa lebih banyak bungkam dan terlihat kebingungan dalam menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan.

BACA JUGA  Razia Tambang Pasir Ilegal di Bintan, 3 Pelaku Ditangkap

Disamping itu, sejumlah pengunjung sidang, juga tidak sedikit yang tertawa geli melihat tingkah saksi ini, terutama ketika menjawab lain dari yang ditanyakan oleh majelis hakim, termasuk ketika ia mendatangi mendatangi majelis hakim.

“Kenapa anda maju kesini. Anda bilang, bahwa terdakwa H Amran ini telah melakukan penambangan pasir secara ilegal. Lantas apa dasar anda mengatakan itu,” ucap majelis hakim kepada Masmudi dengan nada lantang.

Masmudi mengatakan, sebelum proses hukum terhadap terdakwa H Amran ditangani pihak Polres Bintan, ia selaku petugas Trantip di Kecamatan tersebut, telah memberikan peringatakan kepada terdakwa, termasuk sejumlah penambang pasir lainnya, agar tidak melakukan penambangan lagi.

“Saya sudah sempat mengingatkan kepada sejumlah penambang pasir di kawasan Kecamatan Bintan Utara tersebut, agar segera menghentikan aktifitas mereka. Sebagian penambang ada yang berhenti, namun terdakwa masih tetap melakukan aktifitasnya,” ucap Masmudi.

Atas kondisi tersebut, ia bersama tim petugas Satpol PP serta beberapa instasi terkait lainnya, terpaksa mendatangi kembali lokasi tembang milik terdakwa tersebut, sebelum akhirnya pihak kepolisian melakukan proses hukum lebih lanjut.

BACA JUGA  Tambang Pasir di Bintan Dihentikan, 1 Pelaku Ditangkap, 22 Mesin dan 2 Unit Eskapator Disita

“Larangan penambangan tersebut, karena sepengetahuan saya di kawasan tersebut, termasuk area wisata, sehingga tidak dibenarkan adanya aktifitas penambangan pasir yang dapat merusak tata ruang lingkungan, termasuk dapat merugikan negara dari sektor pajak,” ucap saksi ini.

Masmudi mangakui, bahwa terdaka H Amran, sebelumnya sempat mengajukan izin kepada pihak Kecamatan tempatnya bertugas. Namun setelah ditindak lanjuti ketingkat Bupati, ternyata tidak bisa mengeluarkan izinnya.

“Ajuan surat izin tambang pasir memang pernah dilakukan terdakwa, namun setelah saya sampaikan ke Camat dan diteruskan ke Bupati Bintan, ternyata ditolak, karena bertentangan dengan peraturan daerah berlaku,” ucap saksi.

Selain Masmudi, JPU Eka Palapia SH juga menghadirkan sebanyak empat orang saksi ahli dari PNS masing-masing dinas terkait di Kabupaten Bintan, yakni, Husni dari Bappeda Bintan, termasuk saksi Wisnuri, Wan Afandi, dan saksi Zaitun dari Dinas Pertambangan Bintan.

Dalam sidang, terdakwa Amran sempat mengatakan, jika tindakan penangkapan serta proses hakum yang dilakukan terhadap dirinya saat ini, merupakan diskriminasi.

Ia juga mengatakan, selain dirinya, juga terdapat sejumlah pengusaha tambang serupa tidak jauh dari lokasi lahan tambangnya yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

BACA JUGA  Ditpam BP Batam Tertibkan Lima Titik “TAMBANG PASIR ILEGAL”

“Sedikitnya ada 6 lokasi tambang pasir serupa di kawasan Bintan Utara tersebut, tetapi kenapa saya saja yang diproses,” sebut Amran dalam persidangan.

Ketika itu, Amran sempat menanyakan kepada pihak kepolisian apakah ada penambang lain di sekitarnya. Polisi menjawab ada, namun anggota polisi yang berada di sana hanya disuruh untuk menangkap Haji Amran saja.

“Perintahnya hanya untuk menangkap saya,” tukasnya.

Setelah mendengarkan keterangan dari para saksi, Majelis Hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi lain.(SK-APN)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.