HEADLINENATUNATANJUNG PINANG

Nelayan Natuna Ditangkap di Malaysia

×

Nelayan Natuna Ditangkap di Malaysia

Sebarkan artikel ini
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kepri, Doli Boniara. (Foto : Ist)

TANJUNG PINANG — Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri)merespons secara serius kabar penangkapan nelayan asal Natuna oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) pada Jumat, 19 April 2024 yang lalu.

Dalam sebuah konferensi pers bersama Konsulat Jenderal RI Kuching, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kepri, Doli Boniara, mengungkapkan bahwa APMM menangkap 8 (delapan) orang nelayan asal Kabupaten Natuna yang menggunakan 3 (tiga) kapal. Penangkapan tersebut terjadi setelah APMM menduga para nelayan telah memasuki perairan Malaysia.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Dalam hal ini, kita masih menunggu informasi lebih lanjut terkait titik koordinat di mana mereka ditangkap, apakah benar di perairan Malaysia atau tidak, karena terdapat perbedaan persepsi antara nelayan dan pihak Malaysia,” ujar Doli.

Saat ini, fokus Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau adalah membantu keluarga nelayan yang ditangkap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

“Karena para nelayan ini merupakan tulang punggung keluarga, maka sekarang kita fokus untuk menghubungi dan membantu keluarga mereka terlebih dahulu,” ungkapnya.

Adapun terkait langkah hukum, Doli menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyerahkannya kepada Konjen RI di Kuching yang dapat memberikan pendampingan langsung kepada para nelayan tersebut.

“Kita percayakan hal ini kepada Konjen, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kasus semacam ini jarang sampai ke persidangan. Namun, kita telah mempersiapkan rencana pemulangan mereka,” jelas Doli.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan segera melakukan sosialisasi kepada nelayan di Kepri, khususnya yang berada di daerah perbatasan, mengenai batas negara dan sejauh mana mereka diizinkan untuk melaut.

“Baru saja pemerintah pusat mengirimkan undangan kepada kami untuk membahas masalah ini, karena tidak hanya nelayan di Kepri, kasus serupa juga banyak terjadi di Maluku, NTT, dan Papua,” pungkas Doli. ***

(Jlu)

Follow