OPINI : Kepemimpinan Manakah Yang Dapat Dikatakan Pemimpin ?

oleh
Wandana Kurnia Syahputra, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan, Tanjungpinang, Jurusan Manajemen. (Foto : Ist)

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Male” buttontext=”Malas Baca, Tekan Ini”]

OPINI : Kepemimpinan Manakah Yang Dapat Dikatakan Pemimpin ?

Oleh : Wandana Kurnia Syahputra
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan, Tanjungpinang, Jurusan : Manajemen

Dalam sebuah organisasi, ada pihak yang mengelola manajemen. Bahkan, hal ini juga berlaku pada sebuah negara. Ada seorang pemimpin yang bertanggungjawab mengatur roda pemerintahan. Agar berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Seorang pemimpin harus memiliki tanggungjawab penuh, mulai dari pengorganisasian, pengawasan, pengendalian, merencanakan suatu tujuan, bahkan dalam mengambil keputusan yang tepat.

Seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin, harus mempunyai tanggungjawab atas kinerja bawahannya. Keberhasilan atau kegagalan tentu ditentukan pemimpinnya.

Namun demikian, sebuah organisasi yang bagus, jika antara pemimpin dan bawahan saling sinergi, dan bekerjasama, bukan semua tanggungjawab dibebankan kepada pemimpin, melainkan bagaimana bawahannya dapat membantu dan bekerjasama dengan teman di satu divisi atau beberapa divisi, dengan pemimpinnya, serta mempunyai kelompok kerja yang luar biasa yang dapat juga membuat suatu tujuan itu akan tercapai.

Pemimpin harus mempunyai jiwa kepemimpinan dan jiwa sosial yang tinggi, dan itu juga akan berpengaruh terhadap bawahannya, masyarakat, dan juga partner bisnis dari perusahaan lain, baik dalam negeri ataupun luar negeri.

Dapat dikatakan, jika seorang pemimpin yang mempunyai gaya kepemimpinan yang tetap berpegang teguh terhadap keputusan yang ia putuskan sendiri tanpa adanya musyawarah atau masukan dari bawahannya, bahkan perwakilan dari masyarakat, maka dapat dikatakan seorang pemimpin itu akan membuat rusaknya hubungan antar perusahaan, organisasi, atau pemimpin Negara yang akan menimbulkan efek kecaman dan serangan dari masyarakat. Maka dari itu jika kita mengambil contoh diatas, seorang pemimpin itu termasuk dari gaya kepemimpinan yang rasis.

Nah, untuk diketahui ada macam-macam gaya kepemimpinan yang digunakan dari setiap individunya, atau dari pemimpin yang terdahulu baik dalam negeri maupun luar negeri yang mungkin bisa dipahami, bahkan diterapkan untuk dinilai sendiri, yang pertama ialah :

  1. Gaya Kepemimpinan Demokratis.
    Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang dimana setiap keputusan yang akan diambil itu dilandasi kebersamaan atau di bahas bersamaan. Yang mana, dari musyawarah itu akan menimbulkan beberapa pendapat dari keputusan yang dibahas pada saat itu dari kelebihan dan kekurangannya dan meyempurnakan keputusan itu untuk disepakati bersama. Gaya kepemimpinan itu juga mendorong bawahannya dapat bersikap jujur, berpikiri kreatif dan kritis, serta berani menyuarakan pendapat sendiri, kepada atasannya dan individu lainya di dalam musyawarah tersebut.
  2. Gaya Kepemimpinan Otokratis Atau Otoriter.
    Gaya kepemimpinan otokratis atau otoriter adalah gaya kepemimpinan yang bersifat menitikberatkan semua keputusan berdasarkan keputusan atasan atau pemimpinnya. Gaya kepemimpinan ini justru banyak konflik dari internalnya. Kenapa?. Karena semua keputusan yang bersifat kesejahteraan karyawan dan kinerja perusahaan akan tergantung pada keputusan atas pemimpinnya. Dapat dikatakan, jika harus bekerja dalam tekanan dan harus mencapai target, akan menitikberatkan kepada bawahannya dan divisi-divisi lain.
  3. Gaya Kepemimpinan Instruktif.
    Gaya kepemimpinan ini menekankan pada bawahannya untuk mengikuti instruksi dan pengarahan secara langsung dari atasannya. Seperti pekerjaan yang akan dikerjakan hingga waktu yang ditetapkan. Untuk sebuah tugas yang diberikan harus sesuai instruksi dan pengarahan atasan. Untuk lingkungan bawahannya gaya kepemimpinan instruktif ini cukup berat untuk mereka, karena mulai dari pengawasan yang ketat, hingga dalam proses bekerja pun terbebani oleh instruksi yang sudah di tetapkan, sehingga para bawahannya khawatir akan tugas yang diberikan akan mengalami kendala atau tidak mencapai target.
  4. Gaya Kepemimpinan Situasional.
    Gaya kepemimpinan situasional ini adalah gaya kepemimpinan yang dimana atasan menggunakan situasi untuk menjalankan rencana yang akan dijalankan dan dihadapinya. Menggunakan berbagai cara untuk mencapai target sesuai dengan kondisi dan situasi terkini. Seperti demokratis saat kondisi mengambil keputusan secara bersama–sama dan dirundingkan, instruktif saat untuk mencapai target, dan konsultatif saat mengambil keputusan karena adanya dukungan dari bawahannya, berbagai macam cara yang dilakukan untuk gaya kepemimpinan situasional ini. Dari gaya kepemimpinan ini untuk bawahannya ada sebagian yang sudah terbiasa, bahkan ada yang kaget ketika seorang pemimpin memberikan tugas dadakan yang tujuannya untuk mencapai target, namun waktu yang diberikan sangat singkat.
  5. Gaya Kepemimpinan Delegatif.
    Gaya kepemimpinan delegatif ialah lebih menitikberatkan keputusan kepada bawahannya dan sedikit atasan memberikan arahan kepada bawahannya. Dan biasanya gaya kepemimpinan ini lebih membuat bawahan untuk dituntut lebih maksimal kerjanya dan juga lebih kreatif, serta berpikir kritis, hingga mempunyai motivasi yang tinggi.
  6. Gaya Kepeimipinan Birokratis.
    Seperti dari namanya, kepemimpinan birokratis yaitu dimana gaya kepemimpinan ini mengacu pada peraturan. Peraturan yang sudah dibuat atau ditetapkan harus dipatuhi, bukan hanya dari seorang pemimpinnya saja namun juga berpengaruh terhadap bawahannya. Namun kalau dari segi pada saat mengambil keputusan, yaitu berpusat pada pemimpinnya. Gaya kepemimpinan ini terbilang yang disiplin juga yang dibuat dari atasan tergantung bagaimana yang akan diterapkan seorang pemimpin tersebut.
  7. Gaya Kepemimpinan Paternalistik.
    Gaya kepemimpinan paternalistik memiliki sifat yang sangat dewasa seperti kebapakan. Menganggap bawahannya tidak dapat mandiri tanpa adanya dorongan dalam melakukan sesuatu. Namun gaya kepemimpinan ini justru lebih membuat para bawahannya untuk bekerja, karena dorongannya dari pemimpin tersebut.
  8. Gaya Kepemimpinan Transformatif.
    Gaya kepemimpinan transformatif ini menggunakan kharisma mereka untuk melakukan perubahan oragnisasinya. Pemimpin transformatif ini lebih mementingkan para pengikutnya ketimbang memberikan instruksi atau arahan kepada bawahannya. Gaya kepemimpinan ini lebih memposisikan dirinya itu sebagai mentor yang dapat menampung apresiasi dan keluhan bawahannya.
  9. Gaya Kepemimpinan Servant Leadership.
    Gaya kepemimpinan yang disukai oleh bawahannya. Pemimpin gaya servant leadership ini melayani dengan tulus terhadap bawahannya dan dapat bekerjasama dengan bawahannya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya secara bersama-sama. Gaya kepemimpinan ini lebih mengutamakan kebutuhan pengikut sebagai prioritas.
  10. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire.
    Gaya kepemimpinan Laissez Faire ini, pemimpin tidak ada peran atau tanggung jawab terhadap bawahannya, seperti tidak memberikan arahan atau atau instruksi, bahkan komunikasi kepada bawahannya, sehingga bawahannya lebih berbuat sekehendaknya. Justru gaya kepemimpinan ini timbul banyaknya kekacauan.
  11. Gaya Kepemimpinan Autocratic.
    Gaya kepemimpinan ini lebih tidak menerima kritik atau saran. Gaya kepemimpinan ini menuntut adanya kepatuhan penuh dari bawahannya kepada atasannya, tanpa adanya pembangkangan, perlawanan dan keraguan dari bawahannya.
  12. Gaya Kepemimpinan Kharismatik.
    Tipe kepemimpinan kharismatik adalah gaya kepemimpinan yang mempunya daya tarik yang luar biasa yang dapat mempengaruhi orang lain, sehingga banyak orang mengaguminya, bahkan ada yang menjadi pengikutnya. Pemimpin gaya kharismatik ini dapat dilihat dari cara mereka berbicara, berjalan maupun bertindak dan mengambil keputusan.
BACA JUGA  OPINI : Dilema Persiapan Lebaran “DAN SHALAT TARAWIH”

Nah dari yang di sebutkan diatas mungkin ada dari gaya kepemimpinanmu yang kamu lakukan, namun pemimpin disini bukannya hanya berpihak terhadap apa yang mau dikehendakinya, melainkan seorang pemimpin itu juga harus memikirkan dan peka terhadap lingkungan internal, maupun eksternal, seperti, dengan masyarakat atau warga sekitar, dengan partner kerja, dan karyawan atau bawahan.

Seorang pemimpin juga tidak berat sebelah atau dikatakan memikirkan dirinya sendiri, melainkan juga harus memikirkan internal dalam organisasi atau perusahaannya, agar tidak ada miss komunikasi, serta kenyamanan dalam lingkungan kerja yang dalam proses mengerjakan suatu pekerjaan itu lancer, tanpa adanya hambatan. Yang menjadi keraguan diantara beberapa pihak, mulai dari kesejahteraan karyawan atau bawahannya.

Jika sebagai pemimpin Negara, harus memikirkan kesejahteraan masyarakatnya, lalu kenyamanan lingkungan kerja mulai dari ruangan yang nyaman, alat-alat yang memadai, lingkungan kerja yang bersahabat dan komunikasi dari seorang pemimpin atau atasan yang tidak pernah putus agar tidak adanya miss komunikasi.

Dari yang sudah dijelaskan tadi, ada salah satu contoh gaya kepemimpinan yang membuat karyawan atau bawahannya nyaman atas kerjaannya dan tepat waktu pada saat di tuntut apa yang sudah dikerjakan dalam pekerjaan yang sudah diberikan. Salah satunya ialah pemimpin sebuah perusahaan besar yaitu Google.

BACA JUGA  Stakeholder Perlu Pelatihan Sistem Informasi Belajar Intensif Mandiri Bidang Konstruksi

Seorang pemimpin di google tidak bersifat rasis atau menekan terhadap karyawannya sebagaimana ketika seorang pemimpinnya memberikan arahan dan tugas kepada bawahannya. Ia membebaskan waktu untuk suatu pekerjaan yang tertentu dan tidak menekan bawahannya. Untuk jenis pekerjaan tertentu yang diberikan, karyawan atau bawahannya dapat mengerjakan tugasnya kapan saja, namun ditentukan waktu laporan atas pekerjaan yang sudah diselesaikan. Teruntuk bawahannya juga harus bertanggung jawab ketika atasan meminta laporan pekerjaan yang sudah diberikannya pada saat jatuh tempo pekerjaannya harus diantar.

Gaya kepemimpinan google ini termasuk dalam gaya kepemimpinan delegatif, yang dimana karyawan atau bawahannya dituntut lebih berpikir kritis, kreatif, dan mempunayi motivasi yang tinggi untuk pekerjaannya dan diri sendiri, bahkan tim.

Nah dari beberapa yang disebutkan tadi mungkin bisa ditelaah, yang bagaimanakah cara gaya kepemimpinanmu. ***

 

No More Posts Available.

No more pages to load.