[OPINI] Masih Tingginya Tingkat Pengangguran “DI PROVINSI KEPRI”

oleh
Sayd Fikri, Mahasiswa Stisipol Raja Haji Tanjungpinang. (Foto : Ist)

[OPINI] Masih Tingginya Tingkat Pengangguran “DI PROVINSI KEPRI”

Oleh : Sayd Fikri
Mahasiswa Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Kemajuan teknologi yang kini kita rasakan menyebar sampai keseluruh lapisan masyarakat, baik itu di perkotaan hingga kepelosok tanah air, memang kemajuan teknologi kita rasakan sangat membantu dalam segala bidang terutama dibidang komunikasi dan informasi. Namun hal ini tidak saja membuat pemerintah dan masyarakat lega, namun tentunya menimbulkan masalah baru yang hingga kini belum dapat terselesaikan.

Masalah yang tiap tahun selalu menjadi persoalan adalah makin banyak saja masyarakat yang menjadi pengangguran. Pengangguran yang tinggi sangat berdampak terhadap kehidupan sosial, kemiskinan, kriminalitas, bahkan suhu politik yang juga semakin. Dengan jumlah angkatan kerja yang begitu besar, arus migrasi yang terus mengalir, serta dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga saat ini.

Jika masalah ini dibiarkan terus berlarut-larut, maka sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. Memang pengangguran sampai kapanpun tidak akan bisa untuk dihapuskan, namun bagaimana caranya diminimalisir. Masalah ini yang terjadi tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juga menimpa orangtua yang kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup atau mengurangi jumlah tenaga kerja.

Indikator masalah sosial bisa dilihat dari begitu banyaknya anak-anak yang mulai turun ke jalan. Mereka menjadi pengamen, pedagang asongan maupun pelaku tindak kriminalitas. Mereka adalah generasi yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan maupun pembinaan yang baik.

BPS Provinsi Kepulauan Riau mencatat jumlah Pengangguran tahun ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 7,69 persen menjadi 7,16 persen. Sementara di Bintan, Pemkab Bintan merilis tahun 2017 lalu ada penambahan Perusahaan Modal Asing (PMA) dari tahun sebelumnya. Tambahan itu sebanyak 19 PMA dengan investasi sebesar 24 juta dolar Amerika atau setara Rp 312 miliar. Ada juga pembangunan 10 hotel dan resort dengan nilai investasi Rp 7 triliun.

Dengan adanya pembangunan bernilai investasi triliunan itu, Pemkab Bintan yakin tenaga kerja yang diserap bisa sekitar 2.000 orang. Namun, kenyataannya tercatat angka pengangguran tertinggi di Kepri tahun ini ada di Bintan. Dari data BPS Kepri, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang ada di Bintan mencapai 8,08 persen. Berikutnya, Kota Batam sebesar 7,82 persen, Tanjungpinang 7,11 persen, Karimun 5,70 persen, Anambas 5,18 persen, Natuna 4,07 persen dan Lingga 3,23 persen.

Jumlah pengangguran pada Agustus 2017 ini mencapai 69.160 orang. Dari total itu, angka pengangguran tertinggi disumbangkan oleh tamatan SMA Kejuruan/SMK/STM sebesar 11,51 persen. Kemudian tamatan SMA Umum sebesar 7,12 persen, tamatan SMP sebesar 6,65 persen, tamatan Perguruan Tinggi (PT) sebesar 6,49 persen dan tamatan SD sebesar 4,53 persen.

Pengangguran merupakan masalah penting yang harus segera diatasi karena sangat berpengaruh kepada perkembangan suatu daerah. Pemerintah harus berperan dalam mengatasi masalah pengangguran. Upaya Pemerintah dalam mengatasi pengangguran dapat membantu mengatasi permasalahan pengangguran dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang meminimalisir akan terjadinya pengangguran. Suburnya tingkat pengangguran disuatu daerah mengindikasikan kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat.

Setiap warga negara berhak mempunyai pekerjaan dan memiliki kehidupan yang layak, seperti halnya tercantum pada Pasal 27 UUD 1945 yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, maka pemerintah wajib menyediakan lapangan kerja dan melindungi hak-hak tenaga kerja”.

Oleh karena itu, pemerintah harus dapat memberikan berbagai solusi dan berupaya untuk menurunkan atau mengatasi masalah pengangguran yang ada. ***

 

Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]