PGRI Tanjungpinang Cabut Laporan Polisi

oleh

– Dugaan Kasus Pemerasan oleh Dua Oknum Wartawan.

TANJUNGPINANG (SK) — Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tanjungpinang Encik Abdul Hajar mengatakan, pihaknya telah mencabut kembali laporan polisi, atas dugaan kasus penipuan dan pemerasan yang dilakukan dua orang mengaku sebagai oknum wartawan salah satu media terbitan mingguan di Jakarta, yakni Am dan Mz.

Kedua pria tersebut sebelumnya sempat diproses dan ditahan oleh tim penyidik Sat Reskrim Polres Tanjungpinang, Rabu (25/3/2015). Mereka ditangkap setelah adanya laporan dari sejumlah majelis guru termasuk pihak Kepala Sekolah dan Ketua PGRI Tanjungpinang yang merasa dirugikan akibat ulah tindakan kedua pria yang diketahui mengantongi dua kartu pers dari media yang mereka akui tengah digeluti saat ini.

“Pencabutan laporan polisi yang kita lakukan atas tindakan yang dilakukan oleh kedua pria mengaku wartawan tersebut, berdasarkan hasil kesepakatan yang telah kita ambil dengan sejumlah majelis guru di daerah ini,” ucap Encik, Senin (6/4/2015).

Menurut Encik, pencabutan laporan tersebut juga dilakukan tanpa ada tekanan atau intervensi dari pihak mana pun, melainkan murni atas dasar solidaritas dan kesepakatan bersama yang telah diambil oleh sejumlah majelis guru di daerah ini.

“Intinya dari sejumlah majelis guru yang pernah merasa dirugikan oleh dua orang yang mengaku wartawan itu, telah memiliki kata sepakat, bahwa mereka tidak mau lagi melanjutkan laporan yang pernah dibuat sebelumnya ke Mapolres Tanjungpinang,” ungkap mantan Kepala SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini serius.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang AKP Reza Morandi Tarigan, melalui Kaur Bin Ops Reskrim, Ipda Efendi membenarkan atas pencabutan laporan yang pernah dibuat oleh bebera mejelis guru, terhadap dua orang yang mengaku wartawan dan diduga telah melakukan penipuan serta pemerasan.

BACA JUGA  PGRI Tanjungpinang Gelar Lomba Kreatifitas Guru dan Siswa

“Laporan atas dugaan kasus tersebut telah dicabut kembali oleh pihak PGRI dan majelis guru di Tanjungpinang,” ucap Efendi.

Atas pencabutan laporan tersebut, lanjut Efendi, maka pihaknya terpaksa melakukan penangguhan penahanan terhadap kedua orang yang diduga sebagai pelaku dugaan kasus penipuan dan pemerasan tersebut.

“Perkara ini termasuk delik aduan, karena menyangkut pasal 368 KUHP tentang penipuan, sehingga bisa dicabut kembali oleh pelapornya,” ucap Efendi.

Disampaikan, selain pencabutan laporan tersebut, kedua pihak antara pelapor dan terlapor juga sudah memuat surat pernyataan untuk berdamai dan tidak mempersoalkan lagi tentang yang pernah diperbuat oleh kedua pelaku sebelumnya itu.

“Meskipun dugaan kasus ini telah selesai, namun kita masih tetap melakukan pemantauan terhadap kedua orang yang diduga sebagai pelaku penipuan tersebut. Jika mereka kembali melakukan hal yang sama, maka proses hukumnya, suatu waktu akan bisa kita lanjutkan kembali,” ungkap Efendi.

Segaimana diberitakan, dua pria yang mengaku sebagai oknum wartawan yang bertugas di Tanjungpinang, Provinsi Kepri, bernisial Am dan MZ, dibekuk pihak kepolisian, Rabu (25/3/2015).
Keduanya diduga telah melakukan penipuan dan pemerasan terhadap sejumlah kepala sekolah dan majelis guru setingkat SD, SMP dan SMA di Tanjungpinang.

Oknum wartawan tersebut tidak berkutik ketika ditangkap Tim Oprasional Polres Tanjungpinang saat akan kembali melakukan aksi pemerasan di Sekolah Dasar (SD) 015 Bukit Bestari, Tanjungpinang, dengan modus menanyakan tentang penyaluran dan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Pengungkapan dan penangkapan kedua oknum wartawan tersebut juga sejalan laporan puluhan kepala sekolah setingkat SD, SMP dan SMA di Kota Tanjungpinang yang telah membuat laporan ke Mapolres Tanjungpinang.

Ermala Meilina, Kepala Sekolah SMK 2 Tanjungpinang mengatakan, laporan ini ia lakukan atas nama Ikatan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tanjungpinang.

BACA JUGA  SMA PGRI Harapkan Perhatian Pemerintah

“Kami ke sini untuk membuat laporan terkait pemerasan yang dilakukan dua orang oknum wartawan itu,” ungkap Ermala kepada sejumlah wartawan saat ditemui usai membuat laporan di ruang SPK Polres Tanjungpinang.

Dikatakan Ermala, kedua orang itu mengaku wartawan tabloid yang datang dari Jakarta. Awalnya mereka menanyakan bantuan sekolah, seperti Dana BOS dan beberapa bantuan lagi dari pemerintah kota dan pemerintah provinsi.

“Awalnya memang dia hanya menanyakan beberapa bantuan yang kami dapat dari berbagai pihak. Tapi selanjutnya, mereka terus bercoleteh kesana-kemari yang seakan berusaha mencari-cari kesalahan di sekolah,” kata Ermala.

Disamping itu, kedua oknum wartawan tersebut juga menanyakan tentang buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Keduanya kemudian mengatakan kalau buku-buku itu diperjual belikan di sekolah. Padahal pihak sekolah tidak pernah sama sekali menjual buku dimaksud.

“Jadi kebetulan hari itu Jumat, saya mau pulang cepat. Dan saya langsung menanyakan bapak-bapak ini maunya apa. Karena saya mau pulang,” ucap Hermala.

Mendengar ia berkata begitu, terang Ermala, kedua oknum wartawan tersebut langsung berbicara blak-balakan. Tanpa basa-basi dia meminta uang untuk balik ke Jakarta. Dan jika tidak diberikan, ia mengancam akan memberitakan masalah jual beli buku itu.

“Mereka minta duit mau ke Jakarta. Jadi saya bilang sama dia, saya tidak pernah menjual buku LKS. Namun mereka tidak percaya dan tidak mau pergi sebelum dikasih duit,” terang Ermala.

Merasa terus didesak, akhirnya Ermala memanggil Bendahara sekolah dan menanyakan dana sekolah ada berapa.

“Dia dengar waktu Bendahara saya bilang tinggal Rp 500 ribu, langsung dimintanya segitu. Awalnya mereka minta Rp3 juta,” ucap Ermala.

Ternyata bukan Ermala saja yang diperas oleh oknum wartawan tersebut. Rekanan sesama kepala sekolah juga pernah didatangi dan dimintai duit oleh kedua wartawan tersebut.

BACA JUGA  Lis : KORPRI Dituntut Mampu Berikan Pelayanan Publik

“Bukan saya saja, teman-teman yang lain di sekolah juga pernah mereka lakukan hal yang sama,” ungkap Ermala lagi.

Hal senada, Ketua PGRI Kota Tanjungpinang, Encik Abdul Hajar mengatakan, sebelumnya ia sudah melapor kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang. Kemudian kepala Dinas melapor kepada walikota Tanjungpinang H Lis Darmansyah.

“Saat melapor, pak wali langsung menghubungi Kapolres untuk mengadakan audensi bersama para guru. Kami audensi selesa kemarin,” ungkap Encik.

Dari hasil audensi, kata Encik, Kapolres meminta kepada seluruh kepala sekolah, jika ada oknum yang mengaku wartawan meminta uang segera lapor ke Polsek terdekat.

“Kebetulan, dua orang itu tengah berada di SDN 015 Bukit Bestari, Kamis (25/3/2015) sekitar pukul 09.00 WIB, mereka coba melakukan pemerasan lagi. Dengan diam-diam, guru melapor dan akhirnya polisi datang dan menangkap kedua oknum wartawan itu,” ucap Encik.

Setelah kedua tersangka digelandang ke Mapolres Tanjungpinang, para guru berbondong-bondong datang ke Polres Tanjungpinang untuk membuat laporan.

“Hampir seluruh kepala sekolah dari SD, SMP, SMA dan SMK yang menjadi korbannya,” ucap Encik.(SK-APN)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.