Proyek Monumen Bahasa Terancam Gagal

oleh

TANJUNGPINANG (SK) — Sempat terhentinya pembangunan Monumen Bahasa Melayu di Pulau Penyengat, Tanjungpinang beberapa hari lalu dan kembali terancam gagal dalam menyelesaikan pembangunan tersebut. Hal itu membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri, seperti jatuh dalam lubang yang sama kedua kalinya.

Hal tersebut disampaikan oleh, Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UMRAH Suradji Muhammad Ssos, MSi, Senin (20/10) kemarin.

Ia menyayangkan Pemprov Kepri yang dianggapnya kurang siap dalam melakukan proses lelang proyek tersebut yang menelankan anggaran sebesar Rp12,5 miliar.

“Atas kejadian ini, menurut saya pemerintah seperti jatuh dalam lubang yang sama kedua kalinya. Lantaran pada pembangunan pertama, di tahun 2013 lalu, karena ketidak siapan pemerintah dalam melakukan lelang, Sehingga terjadi keterlambatan. Dan dalam kelanjutan pembangunan ini, juga terancam hal yang sama yakni tidak selesainya pembangunan,” ungkap Suradji.

BACA JUGA  Sani Sesali Proyek Monumen Bahasa Sempat Terhenti

Seharunya, kata Suradji, pemerintah belajar dari pengalaman sebelumnya. Agar hal-hal yang sebelumnya terjadi tidak akan terulang kembali. Kemudian, dalam menyikapi adanya pinjam pakai perusahaan dalam proyek di pemerintahan, seharusnya juga penyelenggara lebih waspada.

“Dalam pelelangan dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) itu, seharusnya pemerintah bisa memverifikasi secara faktual, bukan hanya verifikasi secara administrasi. Jadi mendatangi perusahaan-perusahaan yang mendaftarkan diri untuk menjadi kontraktor pembangunan tersebut. Agar ‘kontraktor-kontraktor yang nakal ini’ dapat diwaspadai,” tandas Suradji.

Sehingga apa yang diberitakan, bahwa kontraktor tersebut melarikan diri tidak terjadi. Menurutnya, Pemprov Kepri lebih waspada lagi dalam menyikapi “bloker-bloker” seperti tersebut.

Selain itu, tegas Suradji saat ini yang perlu dihindari pemerintah yakni jangan sampai nantinya masyarakat menduga keberanian kontraktor menghilang, karena adanya “deal-dealan” tertentu dengan pihak penyelenggara.

“Saya khawatir muncul dugaan dari publik bahwa kontraktor berani meninggalkan tanggungjawabnya itu karena merasa sebagian hasil pekerjannya itu diambil oleh pemerintah. Jadi ibaratnya ada fee-lah untuk pemerintah, jangan sampai dugaan itu muncul di tengah masyarakat,” ujarnya menduga.

BACA JUGA  Kasus Monumen Bahasa, AN, Y dan MY Terancam 20 Tahun Penjara

Lebih lanjut, Suradji mengatakan, bahwa pemerintah harus terbuka dalam permasalahan yang dihadapi saat ini. Dan memaksa kontraktor untuk segera menyelesaikan pembangunan Monumen Bahasa Melayu tersebut. Agar tidak ada anggapan miring mengenai terhentinya pembangunan dan hilangnya kontraktor.

“Pembangunan ini, telah menjadi agenda pak Presiden untuk dapat diresmikan dalam pelaksanaan HPN 2015 mendatang. Tentu menjadi perhatian lebih dalam persiapan pembangunan tersebut. Jadi menurut saya, pemerintah harsu lebih terbuka menyikapi hal ini,” pungkas Suradji.

Sementara itu, Tokoh Muda Pulau Penyengat, Said Ahmad mengatakan, sebenarnya proses pembangunan Monumen Bahasa ini sudah mengalami keganjilan sejak pengerjaan tahap pertama. Namun, karena kurangnya pengawas dari pihak pemerintah akhirnya banyak yang terabaikan.

“Pengerjaan tahap pertama saja, sudah banyak menyalahi aturan dan ketentuan sebagi proyek besar. Misalnya, saat pengecoran pondasi yang merupakan penopang bangunan di atasnaya. Kontraktor hanya menggunakan coran baisa dengan menggunakan molen. Bahkan penggunaan semen saja yang tadinya ditender menggunakan semen tiga roda diganti dengan semen lain. Kemungkinan juga besi yang digunakan tidak sesuai, karena pengawasannya, kurang maksimal,” jelasnya.

Diungkapkan Said, seharusnya pengecoran pondasi dasar harus menggunakan redemix, yang lazim digunakan untuk pengocoran sebuah pondasi. Kalau, semua dirubah dan tidak sesuai dengan sfesifiknya atau tidak sesuai bestek, bisa-bisa bangunan tersebut berdiri namun akan cepat roboh.

BACA JUGA  LAM Kepri Kecam Kontraktor Monumen Bahasa

“Bila begini, kami masyarakat Penyengat, sangat menyangkan. Seharusnya, banguanan ini akan menjadi kebanggan masyarakat Penyengat dan juga pada umumnya masyarakat Kepri. Sebab, MBM ini untuk mengenang, asal usul bahasa Indonesia sebagi bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Kami bangga bahasa melayu ini menjadi bahasa pemersatu,” bebernya lagi.(HK/SK-001)

No More Posts Available.

No more pages to load.