, ,

Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Karimun Lukai Rasa Keadilan Masyarakat

oleh -3.712 views
Ketua Laskar Melayu Bersatu (LMB) Provinsi Kepri, Datuk Azman Zainal SH, bersama pengurus LMB Kabupaten Karimun. (Foto : Taufik)
height="100%"

Sijori Kepri, Karimun — Kasus penangkapan AC, yang terbukti menyimpan pil ekstasi di dalam kantong celana, Senin, (9/9/2019) beberapa waktu lalu, telah dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Terhadap AC, dituntut JPU hukuman penjara 7 tahun. Sementara, IS, pelaku yang menjual barang haram tersebut ke AC, hanya divonis 10 tahun. Padahal, saat ditangkap, IS terbukti memiliki 4000 pil ekstasi.

Keputusan majelis hakim ini, tentu mengundang tanda tanya warga yang menyaksikan jalannya sidang.

”Terbukti miliki 4000 ekstasi hanya dihukum 10 tahun. Sedangkan vonis pengguna yang hanya memiliki beberapa butir, dituntut JPU 7 tahun. Perbedaannya sedikit. Menurut kita, vonis terhadap IS, sangat ringan, mengingat peranannya yang bisa dikatakan bandar,” ujar salah seorang warga, enggan namanya dipublikasikan, Rabu, (19/2/2020).

Terungkap dipersidangan, tersangka AC pertama kali diamankan polisi, Senin, (9/9/2019) malam, di Lobi Hotel Century, Tanjung Balai Kota, Karimun.

Dalam pemeriksaan polisi, didapati beberapa butir ektasi yang simpan dalam kantong celana AC. Pengakuan AC kepada petugas, ia mendapat barang haram tersebut dari seorang tersangka IS. Maka, polisi kembali melakukan pengembangan dan memburu IS.

IS berhasil diamankan pada Selasa, (10/9/2019), dini hari oleh anggota Satnarkoba di rumahnya, di kawasan Sungai Lakam Timur, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun.

Hasil pemeriksaan, didapati 4000 butil pil ekstasi. Tidak hanya itu, narkoba jenis sabu-sabu juga didapat petugas dari rumah IS sebanyak dua paket.

Atas perbuatan kedua tersangka AC dan IS dijerat polisi dengan pasal 114 ayat (2) subsider ayat (1) Undang-Undang RI No. 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukuman paling singkat lima tahun, paling lama 20 tahun penjara atau hukuman seumur hidup atau hukuman mati atau pidana denda Rp 1 miliar sampai dengan Rp 10 miliar.

Kemudian IS juga dikenakan Pasal 62 Undang-Undang RI No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika, dengan ancaman paling singkat lima tahun dan denda subsider Rp 100 juta.

Sementara itu, Ketua Laskar Melayu Bersatu (LMB) Provinsi Kepri, Datuk Azman Zainal SH, menilai, putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Karimun, yang diketuai oleh Joko Dwi Hatmoko SH MH itu telah melukai rasa keadilan masyarakat.

“Putusannya sangat jauh lebih rendah dari pada tuntutan Jaksa yang meminta terdakwa divonis 15 tahun. Di tempat lain, pemilik narkotika dengan jumlah lebih kecil banyak yang mendapat tuntutan tinggi,” tuturnya, Minggu, (23/2/2020).

Kepada Hakim yang mulia sebagai wakil tuhan dimuka bumi ini, hendaknya berbuat adil. Dia menyebut sementara nama AC, hanya memiliki 4 butir Pil ekstasi dari IS dikenakan tuntutan 7 tahun mau di vonis berapa lagi die, dan banyak lagi terdakwa cuma barang buktinya sedikit, semuanya dituntut dan divonis tinggi.

“Jaksa penuntut umum seharusnya juga langsung menyatakan banding dan tidak perlu menunggu hingga dua pekan ke depan,” ujar Datuk Azman.

Bukan itu saja, lanjut Datuk Azman, seperti kasus pencabulan. seharusnya Hakim juga harus bisa melihat dengan mata hati dan fakta yang ada, jangan yang ada duitnya diringankan, kalau tak ada duit dihukum tinggi.

Kedepan, ia meminta masyarakat terlibat langsung mengawasi persidangan kasus-kasus penyalahgunaan narkoba.

“Kehadiran warga mendorong terselenggaranya keadilan untuk memerangi narkoba,” paparnya. (Wak Fik)

Click to rate this post!
[Total: 1 Average: 5]
banner 740x400 banner 740x400 banner 740x400 banner 740x400