Reses, Weni Angkat “PERMAINAN RAKYAT”

oleh
Anggota DPRD Kepri Hj Yuniarni Pustoko Weni, dalam resesnya mengangkat permainan rakyat yang selama ini sudah semakin terlupakan. (Foto : Wak Tung)

SIJORIKEPRI.COM, TANJUNGPINANG — Reses pada triwulan pertama pada tahun 2018 ini, selain menyerap aspirasi rakyat diberbagai kalangan, juga mengangkat permainan rakyat yang selama ini sudah semakin terlupakan.

Permainan rakyat yang memiliki unsur olahraga yang mengolah fisik dan juga fikiran, serta unsur kebersamaam dan lainnya inilah yang diangkat kembali oleh anggota DPRD Kepri yang duduk di Komisi IV, Hj Yuniarni Pustokoweni SH, yang akrab disapa bunda Weni, dalam resesnya yang dilaksanakan di Lapangan Volley Sulaiman Abdullah, Minggu, (08/04/2018).

Namun sebelum acara inti reses, diawali dahulu dengan senam bersama, termasuk senam Maklodeh, yang dilakukan denga suka ria, sehingga tidak terasa keringat keluar.

Adapun beberapa permainan dan olahraga rakyat yang baru diangkat kembali tersebut diantaranya, Kasti, dan permainan hadang, atau Belon, atau ada juga yang menyebutnya Benteng.

Dalam penyampaiannya dihadapan siswa-siswa yang, serta beberapa OPD terkait, Weni mengatakan, ini baru reses permulaan, (pengenalan kembali karena sudah lama ditinggalkan), tapi nanti akan ada reses kedua dan ketiga, baru kita bisa lakukan adu tanding untuk anak anak se-Kota Tanjungpinang.

BACA JUGA :  Abdul Gani Serap Aspirasi Masyarakat "KECAMATAN PULAU POSEK"

Untuk itu, lanjutnya, ia mengajak berbagai unsur untuk membuka lembaran lama yaitu permainan olahraga tradisional yang banyak mengolahragakan atau fisik.

“Jadi generasi kita nanti tidak hanya faham akan tekhnologi yang mengolah fikiran, tapi juga pandai mengolah tubuh, untuk mengenal lingkungan dan tumbuh sebagai pemuda pemudi yang sehat,” katanya.

Mengangkat kembali olahraga tradisional ini bukanlah tidak ada alasan, tadi justru banyak nilai-nilai yang dapat digali didalamnya. Weni mengatakan lagi bahwa olahraga dan permainan tradisional jangan dilupakan, karena banyak mengandung nilai-nilai yang baik.

“Dalam satu permainan saja, kita menjumpai nilai kebersamaan, nilai perjuangann nilai strategi ketahanan, konsentrasi dan sasaran,” ungkapnya.

Tambahnya, wacana yang baik ini tidak akan berhasil kalau kita tidak mulai secara bersama-sama, baik dikalangan masyarakat, dan sekolah-sekolah, terutama juga dukungan para guru-guru olahraga.

Sekali lagi, imbuhnya, kita memandang perlu akan reses di Kota Tanjungpinang ini sebagai pilot project, atau daerah percontohan yang nantinya akan ia kembangkan di Kabupaten/Kota lainnya, di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

BACA JUGA :  "ANGGOTA DPD RI" Reses ke Kabupaten Lingga

“Tentunya semua itu bisa telaksana dengan kerja sama dan bantuan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, dan hanya kepada Allah AWT saja kita dapat berserah diri,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Kadispora Kepri, juga Maifrizon, memberikan apresiasi atas reses itu, yang nantinya olahraga tradisional bisa diterapkan juga di sekola-sekolah.

Selain Meifrizon, Syamsuardi, mantan ketua Forum Guru Olahraga Kota Tanjungpinang (FGO), yang dulu disebut IGO (Ikatan Guru Olahraga), memberikan beberapa terik dan cara-cara permainan tradisional kepada siswa-siswa yang hadir agar lebih memahami pola permainannya.

“Tapi untuk jelasnya lagi nanti, kita praktekkan langsung dilapangan, dan diawali oleh para guru-guru dan bapak-bapak yang hadir, karena dulunya memang mengalami masa-masa permainan tradisional tersebut,” katanya.

Pantauan Sijori Kepri, beberapa guru Olahraga sempat berbincan-bincang baik sesamanya maupun bunda Weni dan Maifrizon, yang intinya akan mengangkat kembali olahraga tradisional ini di sekolah-sekolah, karena banyak mengandung nilai-nilai kebersaman yang akhir-akhir ini semakin terlupakan.

Kemudian barulah para senior memberikan percontohan, dan ditiru para anak didik untuk melakukan permainan olahraga tradisional tersebut.

BACA JUGA :  Pemkab Lingga Usulkan Pembangunan Trotoar di Dabo Singkep

Beberapa guru olahraga dan ASN yang hadir mengatakan, bahwa olahraga tradisional ini kelihatannya remeh, tapi cukup menguras tenaga.

“Namun karena menyenangkan, sehingga tidak terasa keringat banyak yang keluar,” ungkap guru yang tidak menyebutkan namanya.

Acara selesai kira-kira pukul 10:00 WIB, dan berlangsung aman. Hadir juga beberapa Kabid dan Kasi dari Perwakilan dari Dispora Kota Tanjungpinang, Disdik Kota Tanjungpinang, Kepala Bappeda Kota Tanjungpinang, Surjadi, dan beberapa Kepala OPD lainnya, serta puluhan murid-murid di berbagai SMP dan SMA. (Wak Tung)

 

Shares

No More Posts Available.

No more pages to load.