Rumah Tarmina Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

oleh

– Berdinding Papan dan Beratap Seng Bocor.

BINTAN (SK) — Tinggal dirumah yang layak serta nyaman memang menjadi impian semua orang termasuk Tarmina (53), satu dari sekian banyak warga Sei Kawal, RT 5 RW 1, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, yang selama ini mengimpikan bisa tinggal dirumah yang lebih layak dari rumahnya saat ini.

Tarmina yang tinggal dengan ketiga orang anaknya serta suami tercintanya disebuah bangunan yang berdindingkan papan lapok dan seng yang bolong-bolong itu diatas cagak pelantar kayu, harus pasrah menerima keadaan rumahnya itu.

Pasalnya, dengan penghasilannya sebagai seorang jasa perbaikan jaring ikan milik nelayan. Penghasilan Tarmina hanya pas-pasan untuk menghidupi keluarganya itu. Sudah pasti, impian untuk bisa memperbaiki rumahnya yang bocor agar bisa lebih layak untuk ditempati itu hanya bisa pasrah menunggu adanya pihak yang berbaik hati untuk membantunya.

Impian tersebut ternyata hanya mimpi belaka, pasalnya, pemerintah setempat saja yang memiliki fungsi untuk bisa mensejahterakan kehidupan masyarakatnya sesuai dengan amanat yang terkandung dalam pembukaan undang-undang tahun 1945. Hingga saat ini, belum membuka matanya untuk melihat kehidupan Tarmina lebih dekat.

BACA JUGA  Bupati Bintan Sidak “KANTOR PELAYANAN”

Dari penuturan Tarmina, dirinya mengaku sudah sejak tahun 1985 menempati rumah yang berada persis diatas pelantar dikawasan dermaga tempat para nelayan Kawal bersandar. Selama ini, lanjutnya, belum ada pihak terkait termasuk di pemerintahan yang mengulurkan keringanan tangannya untuk membantu memperbaiki rumahnya itu.

Walaupun, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan melalui Dinas Sosial (Dinsos) Bintan, tengah gencar-gencarnya melakukan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) disejumlah daerah yang ada di Bintan. Ternyata hal itu, tak sama sekali menyentuh keberadaan rumah Tarmina.

“Ya selama ini belum pernah dapat bantuan dari manapun, apa boleh buat,” keluh Tarmina saat dijumpai dikediamannya, Selasa (31/03/2015).

Saat Sijori Kepri menyambangi kediaman wanita tua itu, memang awalnya sempat kaget karena melihat keadaan rumah yang tinggal menunggu robohnya itu, namun dibagian depan rumah terjejer rapi kendaraan roda dua.

Saat ditanya mengenai kendaraan-kendaraan yang berjumlah lima unit itu, Tarmina mengatakan, semua kendaraannya itu bukan milik keluarganya, melainkan milik para nelayan yang menitipkan kendaraannya selama melaut dengan sejumlah imbalan.

BACA JUGA  Apri : Mari Bersinergi "TINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN"

“Ini semua motor nelayan, mereka titip disini dan setiap bulannya mereka bayar Rp 20 ribu satu motor,” ungkapnya.

Dari pantauan dilapangan, keadaan rumah ibu Tarmina memang terlihat sangat memprihatinkan, pasalnya terlihat keadaan dinding yang berlapiskan papan lapok dan juga atapnya dari seng yang sudah bocor. Selain itu juga, untuk mengatasi kebocoran yang parah saat hujan tiba, dibagian ruangan tengah ditutupinya dengan terpal berwarna biru untuk mengurangi kebocoran yang parah.

Ketika Sijori Kepri terus menilik keadaan rumahnya kebagian belakang, terlihat dapur dan satu kamar tak berdinding menyatu dalam satu ruangan. Sementara bagian kamar mandi menyatu dengan tempat pencucian piring yang hanya ditutupi terpal biru yang sudah buruk.

Keadaan ini tentu saja harus menjadi perhatian khusus pihak terkait, seakan dalam realisasi RTLH yang dilakukan oleh Dinsos Bintan selama ini dilakukan secara tidak merata. Menjawab pertanyaan itu, Bupati Bintan, Ansar Ahmad mengaku akan segera menginstruksikan kepada Dinsos Bintan untuk segera melakukan croos cek.

BACA JUGA  Pembangunan RTLH Yang Tidak Selesai Berhadapan Dengan Hukum

“Kalau memang belum dapat bantuan, biasanya itu persoalan kepemilikan lahannya yang menjadi kendala. Namun saya akan perintah ke Dinsos untuk mengecek kembali lah nanti,” ucap Ansar ditemui di Bintan. (SK-DER)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.