Suryatati Jadi Saksi Sidang Dedy Candra

oleh
– Kasus Korupsi Pengadaan Lahan USB Tahun 2009

TANJUNGPINANG (SK) — Mantan Walikota Tamjungpinang, Suryatati A Manan, hadir sebagai saksi sidang dugaan korupsi proyek pengadaan lahan untuk pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) APBD tahun 2009 Rp2,9 miliar dengan terdakwa Dedy Candra, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Senin (13/10).

Selain Tatik, sapaan akrap Suryatati A Manan ini, hadir juga 5 saksi lainya, yakni Gustian Bayu (tersangka perkara terpisah-red), Bryan Hermawan, selaku keponakan dan Rohaya selaku istri Dedy Candra, Anum Tri Saputra, staf Bappeda dan Marhaynis, selaku Notaris.

Tatik dalam keterangan mengaku pernah mengangkat Dedy Candra sebagai Kepala Bagian (Kabag) Pemerintahan Pemko Tanjungpinang, kemudian pernah mendapatkan laporan adanya wacana tentang pelaksanaan proyek USB tersebut, sesuai usulan dari Dinas Pendidikan (Disdik) termasuk dari Dedy Candra saat itu.

Berdasarkan usulan tersebut, ia kemudian mempercayai untuk dilakukan pembentukan tim 9 guna menentukan lokasi dan nilai harga tanah sesuai peruntukannya. Setelah adanya penentuan lahan, Tatik juga mengaku pernah melakukan peninjauan ke lapangan bersama Dedy Candra dan Kadisdik Tanjungpinang saat itu.

Namun ketika ditanya majelis hakim, kenapa ketua tim 9 yang ditunjuk oleh Pelaksana tugas (Plt) Sekdako saat itu, yakni Wan Samsi selaku Asiten Pemerintahan. Sementara berdasarkan aturan perundangan berlaku, seharusnya ketua dan anggota tim 9 adalah Sekdako, melalui surat keputusan (SK) Walikota.

BACA JUGA  Tatik Ogah Ikut Pilgub Kepri

“Sepengetahuan saya, karena pejabat Sekdako saat itu masih sebagai menjabat Plt,” ucap Tatik menjawab pertanyaan majelis hakim.

Sementara, Gustian Bayu sebagai saksi mengaku, dari tim pembebasan lahan yang dibentuk, baik tim 5 dan tim 9 saat itu, hanya satu kali diadakan petemuan, namun tidak dihadiri oleh semua anggota tim, termasuk Wan Samsi selaku ketua tim 9 dan Syafrial Evi, selaku kepala Bappeda saat itu, sekaligus menjabat sekretaris tim.

Ketika ditanya majelis hakim tentang tanda tangan kedua pejabat yang tidak hadir saat pertemuan itu, Gustian Bayu menjawab, bahwa keduanya tetap menandatangani berita acara yang telah disodorkan kepadanya.

“Kalau berita acara kejadian Wan Syamsi selaku ketua tim, yang membawanya adalah Dedy Candra, sedangkan untuk Syafrial Evi, saya lupa siapa yang membawanya,” ucap Bayu.

Hal lebih menariknya, Gustian Bayu dalam menjawab pertanyaan majelis hakim juga menyebutkan, bahwa masing-masing anggota tim, baik tim 5 dan tim 9 yang dibentuk mendapatkan honor sebesar 4 persen dari harga lahan yang dibeli. Besarnya uang tersebut diluar honor dari anggaran yang tersedia dari ABPD 2009.

BACA JUGA  Penyair Kepri “MABUK SEJUTA MAKNA”

“Benar pak hakim. Artinya tim 5 ditambah tim 9, jumlahnya sebanyak 14 item yang mendapatkan uang honor (fee proyek-red). Dan saya mendapatkan 2 kali honor, baik sebagai anggota tim 5 maupun anggota tim 9,” ugkap Gustian Bayu yang juga diketahui sebagai tersangka dalam perkara terpisah.

Sidang kali ini, jaksa penuntut umum (JPU) juga menghadirkan saksi Bryan Hermawan, selaku keponakan dan Rohaya selaku istri Dedy Candra.

Kehadiran saksi ini, menyangkut aliran dana yang masuk kerekening kedua saksi yang nilainya mencapai ratusan juta bahkan jumlahnya hampir mendekati angka Rp1 miliar hasil dari jual beli lahan untuk pengadaan USB yang diperoleh saat itu.

Anehnya, saksi Bryan Hermawan, selaku keponakan Dedy Candra mengaku, tidak mengetahui jumlah uang ratusan juta rupiah yang masuk ke dalam buku rekeningnya saat itu. Ia hanya mengaku, pernah meminjamkan kartu pelajarnya, saat ia masih duduk di kelas 2 SMA oleh Dedy Candra.

“Niat awalnya, buku rekening di bank tersebut untuk kebutuhan jajan dan uang sekolah saja. Namun saya tidak tahu siapa yang memasukan uang senilai ratusan juta rupiah ketika itu. Saya baru tahu setelah dikabari oleh orang tua,” ucap saksi.

BACA JUGA  Penyair Kepri “MABUK SEJUTA MAKNA”

Sementara saksi Marhainis, selaku Notaris mengaku, jika dirinya menerbitkan akta jual beli atas nama Suradi pemilik tanah dan Suroto dengan jumlah tiga sertifikat tanah yang dibuatkan akta penjualannnya. Dari hasil tersebut, ia mengaku mendapatkan uang Rp250 ribu untuk biaya satu penerbitan akta jual beli yang dibayarkan langsung oleh terdakwa Dedy Candra.

Dilain pihak, saksi Anung, selaku staff Bapedda Pemko Tanjungpinang saat itu mengatakan, dirinya hanya bertugas menginput data pembebasan lahan yang diajukan oleh Bagian Pemerintahan, dengan pagu dana senilai Rp5 miliar untuk 5 item lahan yang akan dibebaskan,

“Namun berapa terealisasi anggarannya untuk pengadaan lahan USB tersebut, saya tidak tahu,”ucapnya. (HK/SK-001)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.