Warga Anarkis, Tim SAR Diancam Dengan Senjata Tajam dan Dilempar Dengan Batu

oleh
Tim SAR bersama warga dan keluarga korban Kapal KM Cahaya Arafah yang tenggelam di Perairan Tokaka, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten, Halmahera Selatan, Maluku Utara. (Foto : Basarnas)

Ternate, Sijori Kepri — Keluarga korban dan beberapa warga tidak sabar. Mereka menuntut dilibatkan dalam operasi penyelaman dengan menggunakan selang dan kompresor untuk mencari korban Kapal KM Cahaya Arafah yang dilaporkan tenggelam bersama Personnel On Board (BOP) 77 orang di Perairan Tokaka, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Senin, 18 Juli 2022, malam, sekira pukul 22.40 WIT.

Kepala Kantor SAR (Kakansar) Ternate, M Fathur, mengatakan, saat itu terjadi perdebatan sengit. On Scene Comander (OSC) bersama Kapolsek Saketa, personil Polairud, personel Lanal, dan Kades Obit berupaya memberikan penjelasan dan memohon warga untuk bersabar menunggu peralatan selam yang 15 menit lagi sampai.

Namun, beberapa warga tersebut justru terprovokasi dan melakukan tindakan anarkis. Mereka mengancam tim SAR dengan senjata tajam dan melempari KN SAR Pandu Dewanata menggunakan batu.

Melihat situasi yang tidak kondusif, Fathur, selaku SAR Mission Coordinator (SMC) memerintahkan Kapten KN SAR Pandu Dewanata menggerakkan kapal menjauhi Dermaga Tokaka menuju Pelabuhan Babang Kepulauan Bacan.

“Kami jelas tidak dapat mengakomodir atau merekomendasikan keinginan beberapa warga tersebut. Karena menyelam dengan menggunakan selang dan kompresor tidak aman (safety) bagi penolong, justru sangat membahayakan keselamatan si penolong, apalagi pada kedalaman sekitar 30 – 50 meter. Kami melaksanakan tugas ini sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP). Kami tidak mau mengambil resiko dengan melibatkan masyarakat yang akan ikut menyelam menggunakan selang dan kompresor tersebut,” jelas Fathur.

BACA JUGA  Akibat Cuaca Buruk, Hingga Kini 3 Nelayan “BELUM DITEMUKAN”

Di dalam SOP, operasi juga dapat dihentikan jika situasi dan kondisi tidak aman, termasuk adanya ancaman masyarakat terhadap keselamatan tim SAR.

Di Pelabuhan Babang itu dilaksanakan rapat koordinasi melibatkan Camat Gane Barat, Danramil, Kapolsek, dan Potensi SAR yang tergabung dalam tim SAR. Tim SAR tidak akan melanjutkan operasi SAR jika tidak ada jaminan keselamatan di Dermaga Tokaka.

Akhirnya, Camat dan Danramil mengumpulkan seluruh keluarga korban dan masyarakat di Kelurahan Tokaka.

Mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan, bahwa keluarga korban dan masyarakat meminta maaf atas insiden yang terjadi dan meminta agar tim SAR kembali meneruskan operasi SAR di lokasi kejadian.

Setelah mendapat jaminan dari Camat Gane Barat, tim SAR pun kembali ke Pelabuhan Tokaka untuk melanjutkan operasi SAR.

Operasi SAR lanjutan dibagi menjadi 4 (empat) sektor dengan melibatkan lebih banyak Potensi SAR.

Dukungan alat utama laut masing-masing KN SAR 237 Pandudewanata, KP Gamalama XXX-3002, KAL Tidore III-14-11, KRI 853 Tatihu, KRI 854 Layaran, KRI 867 Albakora, KN Ular Laut 405, KNP 358, Sea Rider Pandu Dewanata, Rubber Boat Unit Siaga SAR Bacan Halmahera Selatan, dan long boat dari masyarakat nelayan.

BACA JUGA  Setelah 5 Hari Pencarian, Rahmat Akhirnya Ditemukan Tim SAR Gabungan

Sementara tim SAR yang terlibat dalam operasi tersebut juga bertambah banyak, diantaranya Kantor SAR Ternate, Ditpolairud Polda Maluku Utara, Lanal Ternate, BPBD Provinsi Maluku Utara, KSOP Ternate, Kantor Kamla Zona Timur, Satjar Kodim 1509 Labuha, Satjar Polres Kabupaten Halmahera Selatan, BPBD Kabupaten Halmahera Selatan, KUPP Babang, dan masyarakat setempat.

“Kami mengerahkan KN SAR 237 Pandu Dewanata. Kapal tersebut kami sandarkan di dermaga Tokaka dan kami jadikan sebagai posko apung untuk pelaksanaan operasi SAR setelah melihat area lokasi tenggelamnya kapal hanya berjarak 100 sampai dengan 150 meter saja,” ujar Fathur.

Selanjutnya, sekira pukul 10.13 WIT, tim SAR menemukan tumpahan minyak. Pukul 12.00 WIT, tim SAR melaksanakan evaluasi di Posko.

Berdasarkan hasil evaluasi, tim SAR berencana melaksanakan pencarian di dalam air atau melaksanakan penyelaman.

Sekira pukul 13.00 WIT, tim SAR menggunakan rubber boat menuju lokasi untuk melaksanakan assessment awal penyelaman.

Diketahui, kedalaman laut diperkirakan sekitar 30 – 45 meter. Bersamaan dengan itu, peralatan selam dikirim dari Pelabuhan Babang menggunakan speedboat KUPP Babang dengan estimasi tiba di Posko sekira pukul 15.15 WIT. (nrl/AB*)

Shares