Selain itu juga, dilakukan Diversifikasi Sagu yang diolah menjadi berbagai menu makanan dan minuman yang nikmat. Dan dalam hal ini Meranti telah berhasil menciptakan hampir 400 jenis varian makanan olahan Sagu yang dibuktikan dengan diraihnya Rekor MURI.
“Jika tidak ada Goodwill dari Pemeirntah untuk menjadikan Sagu sebagai makanan statregis Nasional, maka sampai kapanpun Sagu tidak akan menjadi Pangan statregis Nasional,” ucap Irwan.
Irwan juga mengatakan, jika Presiden mengatakan setelah Pandemi Covid-19 akan muncul era baru, maka nantinya juga akan muncul New Habbit dari yang biasanya masyarakat mengkonsumi beras menjadi makan Sagu.
Menyikapi saran dan masukan dari Bupati Meranti untuk menjadikan Sagu sebagai Pangan Stategis Nasional, dimana Bulog masuk kedalam Managemen bisnis Sagu, Direktur Pengadaan Bulog Wibisono Poespitohadi mengatakan, diperlukan kerjasama dan koordinasi maksimum antar Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi. Untuk usulan Sagu sebagai pangan pokok dan memberi penugasan pada Perum Bulog masuk dalam bisnis Sagu, Kementerian Lingkungan Hidup dan PU PR untuk penyediaan Infrastruktur pendukung Industri Sagu. Kementrian Pertahanan untuk menjaga wilayah Sagu yang banyak tumbuh di daerah pantai, Kementerian Pertanian untuk membina para petani, Kementerian Perhubungan untuk akses, Kementerian Perdagangan untuk menangani pemasaran ekspor-Import, serta pihak swasta yang sudah menjalankan bisnis Sagu saat ini.
Sehingga Bulog dapat melaksanakan perannya dalam hal mewujudkan ketersediaan pangan, keterjangkauan dan stabiltas harga pangan Nasional.
“Dari Segi Hilir, Bolog akan membentuk Managemen yang mumpuni disektor pergudangan untuk penyimpanan, industri untuk pengolahan Sagu menjadi tepung, Segi tengah bekerjasama dengan pihak swasta untuk memasarkan. Dari Segi Hulu, dapat menyalurkan kepada masyarakat dan warga miskin penerima manfaat dari Pemerintah,” jelas Wibisono.
Saat ini, dari kacamatanya yang menjadi kedala dalam pengembangan Potensi Pangan Sagu meliputi 3 tantangan, yakni keterbatasan Infrastruktur, Minimnya Industri Sagu, serta Aspek Pemasaran yang hanya menyentuh 5 persen dari keseluruhan total produksi.
Sementara itu, Narasumber lainnya, yakni Rektor Institute Pertanian Bogor, Prof Dr Arif Satria, mengatakan, masa Pandemi Covid-19 ini diharapkan menjadi momentum bagi kemandirian pangan Nasional. Karena sebagian besar negara pengekspor beras sudah menahan stok pangannya untuk kebutuhan dalam negeri. Bagi Indonesia tak ada jalan lain selain menciptakan kemadirian Pangan Nasional. Salah satu komodity yang paling layak untuk mewujudkan kemandiran pangan Nasional adalah Sagu yang belum termanfaatkan secara maksimal.
Menurut Rektor IPB, saat ini perlu disusun sebuah program terintegrasi bagaimana cara menanan, mengolah, mengelola Logistik, mengkonsumsi, serta memasarkan Sagu. Nantinya program ini akan disampaikan kepada Pemerintah. Dalam hal ini Presiden RI sebagai acuan mengeluarkan kebijakan ketahan Pangan.
Arif Satria berpendapat, Pangan Sagu akan menjadi Perspektif baru, seperti Future Food atau Pangan masa depan. Jika dulunya pada generasi pertama Gula hanya bisa dihasilkan dari Tebu, kini pada Next generation gula dapat dikembangkan dari limbah Sawit.
Begitu juga Future Protein, jika dulunya Protein bersumber dari Daging Sapi, kini dengan kemajuan teknologi yang luar biasa dapat diolah dari Sayuran, sehingga pangan menjadi lebih beragam dan mudah didapat.
“Sudah saatnya kita berfikir bagaimana menciptakan Pangan masa depan. Salah satunya dengan mengispirasi semua bagaimana Sagu dapat menjadi sumber pangan alternatif potensial,” ujar Prof Arif.














