– Yang semakin hari semakin banyak di Taman Aspirasi Batam.
BATAM (SK) — Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto SH MH, mengaku bahwa pihaknya telah menyurati Pemerintah Kota (Pemko) Batam, untuk segera mengambil langkah tegas, terkait keberadaan pengungsi di Taman Aspirasi Batam, yang nampaknya semakin hari semakin banyak saja. Mereka mendirikan tenda di sana. Nampak ada wajah-wajah baru di antara mereka. Jumlah mereka pun semakin banyak.
βLangkah tegas Pemko Batam sangatlah di perlukan, untuk mengantisipasi membludaknya para pengungsi di Batam, khususnya yang berada di Taman Aspirasi Batam,β kata Nuryanto, Selasa, (06/09/2016).
Dalam suratnya itu juga, Nuryanto meminta Pemerintah Kota Batam mengundang Menteri untuk Rapat bersama SKPD terkait membicarakan masalah pengungsi yang semakin bamyak saja jumlahnya di Batam.
Nuryanto juga seolah sedikit curiga bahwa jangan-jangan semua itu modus, mengingat International Organization for Migration (IOM) juga, konon kabarnya tidak bertanggung jawab terhadap keberadaan para Pengungsi tersebut, sehingga bisa saja ada pihak-pihak yang menyuruh mereka itu masuk ke Batam, sehingga mereka masuk ke Batam. Oleh karenanya, jumlah mereka semakin hari semakin banyak saja di Taman Aspirasi Batam.
Keberadaan Pengungsi dari berbagai Negara Perang, masih nampak semakin banyak saja di Taman Aspirasi Kota Batam. Awalnya, cuma ada sedikit saja, namun lama kelamaan jumlah pengungsi ini semakin banyak. Siang hari mereka tetap berada di Taman Aspirasi, Namun malam harinya, mereka pindah ke Halaman Gedung DPRD Kota Batam, yang memang tidak jauh dari Taman Aspirasi tersebut.
Beberapa pengungsi dalam Bahasa Inggris yang kurang sempurna menyatakan bahwa, mereka beserta anak dan istri pindah ke Gedung DPRD Kota Batam, hanya untuk menumpang tidur sesaat, dan menjelang pagi hari, mereka berpindah lagi ke Tenda-Tenda di Taman Aspirasi. Mereka mengatakan, bahwa mereka merasa nyaman dan aman dari gigitan nyamuk di malam hari dengan tidur di Halaman DPRD.
Bagaimana mereka semua bisa sampai ke Batam. Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa, mereka datang naik pesawat menuju Jakarta, lalu mereka menuju ke Batam, karena mereka merasa di Batam ini mereka tidak terusik dan aman. Mereka menyatakan tidak ingin kembali ke Negaranya yang tengah dalam keadaan perang. Mereka mengatakan merasa trauma melihat dan mengingat Negara-nya. (SK-Nda)







