BATAM — Indra Harahap, seorang warga asal Desa Pasir Panjang, berharap proyek Rempang Eco-City dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Hal itu disampaikannya saat mengikuti pergeseran ke hunian sementara yang difasilitasi oleh BP Batam bersama 13 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak pembangunan Rempang Eco-City.
“Semoga masyarakat tempatan menjadi prioritas dalam proyek di Rempang. Dengan begitu, ekonomi warga bisa lebih maju,” kata Indra, didampingi warga lainnya yang terdampak Proyek Rempang Eco-City, kemarin.
Untuk diketahui, saat ini BP Batam kembali memfasilitasi pergeseran 14 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak pembangunan Rempang Eco-City. Dengan tambahan ini, total warga Rempang yang telah pindah ke hunian sementara kini mencapai 180 KK.
Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait (Tuty), menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya mendukung percepatan realisasi proyek pengembangan Kawasan Rempang sebagai “The New Engine of Indonesian’s Economic Growth.”
Ariastuty menjelaskan bahwa sesuai instruksi Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, tim di lapangan selalu mengutamakan pendekatan persuasif terhadap warga yang terdampak, agar bersedia pindah ke hunian sementara. “Kami berharap, seluruh komponen daerah dapat mendukung realisasi program Rempang Eco-City yang menjadi proyek strategis nasional. BP Batam akan bekerja secara maksimal agar seluruh proses ini berjalan lancar,” ujar Tuty pada Rabu (21/8/2024).
Ariastuty juga menjelaskan bahwa setiap warga yang pindah akan mendapatkan santunan berupa biaya hidup sebesar Rp 1,2 juta per jiwa. Selain itu, BP Batam memberikan biaya sewa rumah dengan jumlah yang sama, yaitu Rp 1,2 juta per bulan untuk setiap kepala keluarga. “Kepada tiap warga, kami juga membebaskan mereka untuk memilih hunian sementara yang akan ditempati. Bisa pilih mandiri atau yang telah kami siapkan,” pungkas Tuty. ***
(Red)














