GESER UNTUK BACA BERITA
KEPRIPROFILRIAU

In Memoriam Cut Maryam Amin

×

In Memoriam Cut Maryam Amin

Sebarkan artikel ini

– Wanita Sederhana Pencinta Perdamaian

*) Maswito

Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

innaLillah

“Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua akan berpulang kepada-Nya” (Qs. Albaqarah 156)

SIJORI KEPRI (SK) — BERITA duka itu datang, Jumat (17/9/2015) sekitar pukul 19.12 WIB.  Seorang tokoh pejuang pergerakan kemerdekaan RI, pendamping setia Gubernur Riau pertama, SM Amin Nasution  berpulang kehadapan Sang Pencipta.

Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Aida Ismeth kepada sahabat dan koleganya beberapa saat setelah almarhummah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Telah meninggal dunia bunda kami tercinta Cut Maryam Amin, Jumat (17/9) pukul 19.12 WIB di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Jenazah akan diberangkatkan pada hari Sabtu (16/9/2015) pukul 09.00 WIB dari rumah duka Jl. Sumenep No 13 Jakarta Pusat ke tempat peristirahatan yang terakhir di Taman Pemakaman Umum Kusir, Jakarta, Sabtu (18/9/2015) pukul 09.00 WIB,” begitu pesan yang dikirimnya.

Kabar duka itu datang seminggu sebelum perayaan HUT ke-13 Provinsi Kepri  yang jatuh pada Kamis (24/9/2015). Almarhumah yang juga mertua dari Ismeth Abdullah, Gubernur Provinsi Kepulauan Riau pertama itu, sebelum wafatnya sempat dirawat akibat menderita komplikasi penyakit jantung. Selain itu, almarhumah juga sudah uzur pada umurnya yang 95 tahun itu. Atas kabar duka itu, keluarga besar Aida Ismeth  minta mendoakan agar almarhumah mendapatkan tempat yang terbaik dari Sang Pencipta.

“Atas nama keluarga, kami  mohon  doa yang sedalam-dalamnya, semoga segala amal baik yang pernah dibuat oleh almarhumah, khususnya dapat diterima oleh Allah SWT,”  harap Aida.

Kepergian almarhumah membawa duka yang begitu mendalam bagi keluarga besar  Aida Ismeth.

“Kami betul-betul kehilangan.  Ibu merupakan sosok teladan dalam kehidupan kami anak, menantu, cucu, dan cicitnya,” kenang Aida Ismeth.

Menjelang ajal menjemputnya kenang Aida Ismeth,  almarhumah selalu  menunjukkan ketabahan  dalam melawan penyakit yang diidapnya.

“Dalam situasi kritis  menjelang kepergiannya di RS Harapan Kita Jakarta, beliau tidak pernah mengeluh. Beliau tabah sangat tabah hinggak ajal menjemut dirinya,” ujar Aida Ismeth.

Cut Maryam Amin. (Photo : Ist)
Cut Maryam Amin. (Photo : Ist)

Cut Maryam Lintas Sejarah

Dalam lintasan sejarah perjuangan Indonesia, sosok Cut Maryam Amin saat ini  memang terlupakan. Padahal, perannya sebagai pendamping tokoh pejuang dan pergerakan SM Amin  sangatlah besar.  Dibalik kesuksesan dan nama besar SM Amin, dia adalah wanita tangguh yang pantang menyerah.

Bersama suami tercinta,  Cut Maryam  Amin tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan panjang republik ini dalam merebut, merpertahankan, dan mengisi  kemerdekaan juga menjadi simbol kesederhanaan dan suri teladan bagi masyarakat yang mengenangnya. Budi baik akan dikenang sepanjang masa, begitu juga pola hidup sederhana yang diterapkan dalam hidupnya dalam berumah tangga patut menjadi cerminan bagi generasi penerus bangsa saat ini. Beliau adalah wanita sederhana pencinta perdamaian.

Almarhumah pernah bermukim di  Tanjungpinang  ketika suaminya SM Amin Nasution menjabat sebagai Gubernur Riau pertama kurun waktu 1958 – 1959 sebelum ibu kota Provinsi Riau dipindahkan dari Tanjungpinang ke Pekanbaru akhir tahun 1959.

Dalam pandangan Aida Ismeth – sang anak tercinta, ibunya begitu terkesan dengan Tanjungpinang.  Kendati hanya dua tahun bermukim di Tanjungpinang, sosok perempuan tangguh yang sangat membanggakan itu begitu tunak mendampingi suaminya.
“Ibu selalu kangen dengan Tanjungpinang. Setiap lekuk gedung daerah (tempat tinggal ibu dulu) hapal di luar kepalanya. Begitulah ibu,” kenang Aida – sapaan akrab Aida Ismeth.

Sayang kata Aida,  dengan  alasan kesehatan dan usianya juga sudah renta, ketika suaminya  Ismeth Abdullah  menjadi Gubernur Kepri pertama, dia berkeinginan membawa ibunya tinggal di Tanjungpinang.  Namun niat itu tak kesampaian.

“Situasilah yang tidak memungkinkan waktu itu,” tambah Aida.

Menurut Aida, ibunya  merupakan sosok perempuan  yang tidak pernah mengeluh. Hidupnya selalu bersyukur, rendah hati, tak pernah sombong, dan berjiwa penolong. Saya sendiri malu pada ibu jika ada persoalan selalu mengeluh.

“Beliau tabah dan kuat sekali. Betul-betul turunan Cut Nyak Dien – pahlawan nasional dari Aceh, beliau pun Cut,” tambah Aida.

Aida  menyebutkan  kendati ayahnya (SM Amin Nasution, red)  pernah menjadi gubernur di tiga provinsi berbeda yakni Nanggroe Aceh Darussalam,  Sumatera Utara dan Riau, namun kesederhanaan selalu mewarnai perjalanan hidup ibunya. Sebenarnya  sebagai istri dari seorang gubernur atau pejabat negara, waktu itu ibu bisa saja memakai  fasilitas negara yang diberikan kepada ayahnya. Namun, itu tak pernah dilakukannya, bahkan  rumah dinas pemberian dari Presiden Soekarno pun ditolaknya dengan halus.

Waktu itu kenang Aida, untuk  menghargai jasa-jasa ayahnya SM Amin, Presiden Soekarno pernah menawari rumah dinas kepada orang tuanya. Namun keduanya kompak menyatakan tidak mau. Begitu juga  ketika Soekarno menawari jabatan menteri kepada ayahnya, ibu dan ayahnya juga menolak halus tawaran itu dengan alasan tak elok memangku jabatan terlalu lama.

Aida masih ingat betapa kedua orang tuanya menolak anak-anaknya memakai fasilitas negara yang diberikan kepada orang tuanya.

“Dulu sewaktu masih aktif di pemerintahan, ayah kami  punya mobil dinas. Namun  jangan coba pakai atau pinjam di luar jam dinas, ayah dan ibu akan marah. Jadilah kami kakak beradik kemana-mana pergi jalan kaki atau naik sepeda. Orang bilang anak pejabat kok jalan kaki ke mana-mana, kami nyantai aja. Kenyataan memang begitu kok,” kenang Aida.

Aida pun merasa trenyuh melihat banyak pejabat negara  saat ini yang memanfaatkan  fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya. Tapi, itulah kondisinya saat ini, lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belalangnya.

Pada masa  Bung Karno dulu, pejabat negara malu memakai  mobil dinas diluar jam dinas, sekarang malah sebaliknya. Minsed (pola pikir) masyarakat itu sekarang sudah berubah akibat kemajuan zaman. Ya, inilah dunia.

Sementara itu dalam pandangan Ismeth Abdullah, ibu mertuanya itu adalah seorang ibu yang selalu mengajarkan keteladanan dalam perjalanan hidupnya.

“Ibu selalu  mengajarkan kesederhanaan kepada kami. Budi baiknya kekang sepanjang masa. Ibu adalah inspirator bagi anak, cucu dan cicitnya,” kenang Ismeth Abdullah.

Cut Maryam Amin dan Aida Ismeth.(Photo : Ist)
Cut Maryam Amin dan Aida Ismeth.
(Photo : Ist)

Bermental Baja

Aida menyebutkan  ibunya  merupakan wanita bermental baja yang gigih dan tekun dalam mendukung setiap karir dan profesinya ayahnya di tengah masyarakat waktu itu. Bahkan, dalam melayani masyarakat yang dipimpinya, ketika itu kedua orang yang sangat “istimewa” dimatanya ini sering melupakan kepentingan dirinya sendiri.

Mengacu kepada perjuangan dan ketegaran ibunya,  Aida membangun rumah tangga bersama Ismeth – sapaan suami tercinta dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab.

“Sang ibu juga selalu memberikan pemahaman kepada kami anak-anaknya agar membiarkan  hidup ini berjalan dengan apa adanya, seperti air tetap mengalir. Air dimanapun mengalir, akan tetap bermanfaat.

Bagi  Aida,  ibunya  merupakan sumber kekuatan, inspirasi  dan motivasi  dalam hidupnya. Jejak perjalananan hidupnya yang penuh lika-liku juga tak lain diabadikan untuk sang ibu.

“Setiap pulang ke rumah sang ibu di Jl. Sumenep, saya selalu duduk bersimpuh mencium kaki ibu sebelum mencium tangan ibu dengan penuh khidmat,” ujar Aida.

“Surga itu dibawa telapak kaki Ibu? Saya ingin masuk surga bersama Ibu,” Aida dengan mimik serius.

Ibu Angkat Aktifis

Bagi kalangan aktifis pergerakan mahasiswa, khususnya dari  tiga provinsi (Aceh, Sumatera Utara, dan Riau), Cut  Maryam Amin sudah dianggap sebagai “ibu angkat” sendiri.  Rumahnya  yang kecil dan sederhana di Jl. Sumenep No. 13  Jakarta Pusat selalu ramai dikunjungi setiap hari.  Orang datang silih berganti dan tak mengenal waktu.

Tak hanya dari kalangan aktifis pergerakan mahasiwa, di rumah ini juga banyak menampung orang-orang yang sekolah dan pencari kerja  dari pelbagai daerah di Indonesia yang merantau ke Jakarta. Rumahnya seperti asrama.

Menurut Aida, jiwa besar, tidak pernah membedakan suku, agama, dan daerah asal yang ditanamkan orang tua kepada keluarganya ini menjadikan dirinya bisa menempatkan diri di mana dan kapan saja. Aida juga tidak merasa canggung bergaul dengan orang pinggiran, masyarakat kelas bawah dan orang-orang miskin sekalipun. Sebab, sedari kecil mereka sudah  terbiasa bergaul dengan mereka.

Cinta Sampai Mati

Aida mengibaratkan cinta ibunya terhadap ayahnya sampai mati. Sebelum ajal menjemputnya, ibunya  berpesan jika nanti ajal menjemputnya tolong kuburkan ibu dekat dengan suaminya (SM Amin, red).  Jadilah  jasad ibu kami satu liang dengan ayah kami di Taman Pemakaman Umum Kusir Jakarta.

“Inilah mungkin yang dinamakan cinta sejati yang dibawah sampai mati,” kenang Aida.

Menurut Aida sebagai pejuang kemerdekaan,  ayahnya dan ibunya sebenarnya layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan yang tak begitu jauh dari rumahnya. Namun kedua orang tuanya  menolak dimakamkan dengan alasan sederhana ingin dekat dengan masyarakat biasa dan bisa diziarahi kapan saja.

Di Taman Pemakaman Umum Kusir,  memang banyak pahlawan dan pejuang Indonesia yang dimakamkan di situ. Sebut saja  Muhamad Hatta (Bung Hatta),  Sutan Syahrir (Bung Syahrir), Buya Hamka, Soetomo (Bung Tomo), Sarwo Edhi Wibowo, Soerjadi Soerjadarma, Hoegeng Imam Santoso, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (RS Soekanto), Ali Sadikin (Bang Ali) dan sederet tokoh ternama lainnya di republik ini. Termasuk si pendekar hukum Adnan Buyung Nasution yang meninggal dunia beberapa hari setelah Cut Maryam Amin juga dimakamkan di situ.

“Di Taman  Pemakaman Umum Kusir banyak pahlawan nasional yang dimakamkan di situ. Mereka damai terbaring di tempat itu,” ujar Aida Ismeth.

Selamat jalan Cut Maryam Amin. Jasa dan nama baikmu akan tetap kami kenang sepanjang masa.*)

Identitas  Diri :

Nama                : Cut Maryam Binti Teku Nyak Banta
Nama Suami     : SM Amin Nasution
Meninggal         : Jakarta Jumat /15 September 2015 Pukul     
                           19.12 di RS Harapan Kita Jakarta
Dikebumikan     :Taman Pemakaman Umum  Kusir pada Sabtu
                           18 Septembet 2015

Anak dan Menantu

Penulis : Kontributor  Sijori Kepri

 

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100