KABUPATEN LINGGA – Permainan Gasing merupakan salah satu warisan budaya Melayu yang masih dilestarikan hingga saat ini, terutama di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri). Permainan ini memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pesisir Melayu.
Menurut catatan sejarah, Gasing pertama kali dimainkan menggunakan buah Berembang, yang banyak tumbuh di pesisir pantai. Buah ini berbentuk bulat dengan bagian tengah yang lancip, sehingga bisa diputar dengan tangan. Dari sinilah permainan Gasing berkembang menjadi lebih beragam dengan berbagai bentuk dan teknik permainan.
Empat Jenis Gasing yang Dikenal di Kabupaten Lingga
Di Kabupaten Lingga, terdapat empat jenis Gasing yang masih dimainkan dan memiliki fungsi berbeda, yaitu:
1️⃣ Gasing Peraje – Untuk Adu Putaran (Uri)
Gasing Peraje digunakan dalam permainan adu uri, di mana pemain berkompetisi untuk melihat Gasing siapa yang mampu berputar paling lama. Jenis ini mengutamakan stabilitas dan keseimbangan dalam putaran.
2️⃣ Gasing Jantan – Gasing Pemukul
Gasing Jantan berfungsi sebagai pemukul, yang digunakan untuk menjatuhkan atau menghentikan putaran Gasing lawan dalam permainan adu ketangkasan.
3️⃣ Gasing Betine – Gasing Pemasang
Gasing Betine, juga disebut Gasing Berembang, digunakan sebagai pemasang dalam permainan Gasing. Bentuknya lebih kecil dibandingkan jenis lainnya.
4️⃣ Gasing Jantung – Bentuk Khas Lingga
Gasing Jantung memiliki bentuk unik menyerupai jantung dan biasanya dimainkan dalam berbagai variasi permainan Gasing di masyarakat Lingga.
Pelestarian Permainan Gasing di Lingga
Permainan Gasing masih dilestarikan di beberapa daerah di Lingga, seperti Pulau Mepar dan Desa Sungai Buluh. Pemerhati sejarah dan kebudayaan Lingga, Lazuardy, menekankan pentingnya pelestarian permainan tradisional ini.
“Gasing adalah bagian dari warisan budaya yang harus terus dijaga. Ini bukan hanya permainan, tetapi juga simbol identitas masyarakat Melayu,” ujar Lazuardy, Kamis (20/2/2025).
Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, Azmi, mengapresiasi usaha Dinas Kebudayaan serta masyarakat dalam menjaga permainan ini tetap lestari.
“Kami dari LAM Lingga sangat mendukung dan mengapresiasi upaya pelestarian Gasing. Semoga permainan ini tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi mendatang,” ungkapnya.
Dengan adanya dukungan berbagai pihak, diharapkan Gasing tetap menjadi bagian dari kebudayaan Kepri dan terus dikenalkan kepada anak-anak muda sebagai warisan budaya yang tak ternilai. ***








