BATAM (SK) — Kejahatan sexual terhadap anak di bawah umur di berbagai Kota, seperti di Kota Batam ini, kerap terjadi. Berbagai cara di lakukan oleh si pelaku, demi untuk bisa menjerat mangsanya agar tercapai maksudnya. Misalnya, dengan cara di iming-iming permen, uang dan lain sebagainya kesukaan anak-anak.
Seringkali kita mendengar atau membaca kabar berita tentang hal tersebut. Semua itu, bisa saja terjadi kapan saja dan dimana saja. Bahkan hal itu biasanya di lakukan oleh orang-orang terdekat dari si korban. Apakah itu tetangga, teman bermain di rumah atau di lingkungan tempat tinggal.
Kejahatan sexual yang menimpa anak di bawah umur tersebut, tidak luput mendapatkan tanggapan dari Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Ir Riki Indrakari. Beliau mengatakan, bahwa Pertahanan keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk menghindari terjadinya kejahatan sexual pada diri anak.
“Kejahatan sexual, biasanya di lakukan oleh orang-orang terdekat korban. Apakah tetangga ataukah teman. Yang jelas biasanya mereka saling kenal. Walaupun ada juga kadang orang jauh yang melakukannya, misalnya. Semua itu juga tidak terlepas dari pada bagaimana pengawasan keluarga,” kata Riki, di Ruang Kerjanya, Senin, (26/09/2016).
Riki juga menegaskan, pertahanan keluarga, merupakan hal penting yang harus diutamakan dan di perhatikan dalam menjaga anak-anak dalam sebuah keluarga, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Itu dulu yang diutamakan, bukan berharap dari atau pada orang lain,” Tegas Politisi Partai Keadilan Sejahtera itu.
Dicontohkan Riki, bahwa biasanya kasus-kasus kejahatan sexual terjadi tidak di sekolah. Itu artinya anak-anak pas berada di dalam pengawasan keluarga. Seharusnya keluarga mesti tahu di mana keberadaan anaknya. Harusnya, yang di hukum malah bisa orang tua. Bagaimana mengawasi anaknya.
“Andaikata pun orang tua mengaku sibuk bekerja. Terutama para ibu harus bekerja, kan sebaiknya ada yang menjaganya, ada yang mengawasinya. Sebaiknya, ya kalau bisa para ibu pun tidak bekerja di luar rumah. Banyak hal-hal yang bisa dilakukan di rumah yang bisa menghasilkan uang,” ujarnya.
Menurutnya, para ibu bisa berbisnis di rumah, tanpa harus bekerja, sehingga bisa sambil mengawasi anak-anaknya. Kembangkan kreativitas ketrampilan yang ada atau yang di punya misalnya. Kalau hal ini mungkin bisa saja ada peran Pemerintah. Misalnya dengan memberikan ketrampilan pada para ibu rumah tangga.
“Misalnya pemerintah melatih para ibu rumah tangga dengan berbagai macam ketrampilan, yang nantinya bisa menghasilkan uang bagi para ibu rumah tangga. Lalu memberikan modal yang bisa di pakai, misalnya pada RW, satu RW seratus juta. Kalau ada 700 RW, baru 70 Miliar,” pungkasnya. (SK-Nda)








