SIJORIKEPRI.COM, TANJUNGPINANG — Jika tahun 2016, anugrah Jembia Emas diraih penyair Husnizar Hood, namun pada tahun 2017 ini penghargaan tersebut diraih Sejarahwan Aswandi Syahri.
Pembina Yayasan Jembia Emas, Rida K Liamsi, mengatakan, sekarang ini ada sekira 40 orang yang aktif berkarya, namun yang banyak itu penyair, sedangkaan sejarahwan tidak banyak. Dan dari 10 nominator terbaik, hanya ada satu saja yang dipilih untuk mendapatkan Anugrah itu.
“Di Kepri ini, Sejarahwan sangat langka. Aswandi merupakan satu-satunya sejarahwan yang paling aktif,” ungkap Rida, usai penyerahan Anugrah Jembia Emas 2017, di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Jumat, (22/12/2017), malam.
Adapun 9 (sembilan nominator lainnya diantaranya, Ramon Damora, Teja Albahd, Abdul Kadir Ibrahim (Akib), Abdul Malik, Amsyakar Ahmad, Andi Lingkepin, Ali Ipon, Deddy Yunizar, Tarmizi, dan nominator ini bisa saja berulang-ulang, sepanjang tahun depan masih tetap berkarya.
“Dari para nominator, ada 2 (dua) nama baru, yaitu, Ahli Pantun, Ali Ipon dan Birokrat Amsyakar, yang memiliki puisi-puisi yang sangat kental kemelayuannya,” ujar Datuk Seri Lela Budaya itu.
Penulis buku “Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu” itu menjelaskan, anugrah Jembia Emas ini diberikan adalah untuk menghargai kepada seniman, budayawan, sejarahwan di Kepulauan Riau, terutama dalam mengembangkan Kebudayaan Melayu.
Penghargaan ini mirip dengan penghargaan Anugrah Sadang di Pekan Baru, yang sudah berjalan 25 tahun, karena saya masih mengelola Harian Riau Pos yang memberikan kekuatan untuk mendukung Anugrah itu.
Dan Anugrah Jembia Emas ini adalah bentuk CSR dari Tanjungpinang Pos, melalui Yayasan Jembia. Tanjungpinang Pos secara rutin menyiapkan Halaman Jembia, dengan 8 (delapan) halaman setiap minggu, yang berisi persoalan kebudayaan, puisi, cerpen, dan lainnya. Dan sekarang tak banyak lagi surat kabar yang memberi tempat seperti itu kepada kebudayaan.
Chariman Riau Pos Group itu mengungkap, yang berat itu sebenarnya adalah mempertahankan tradisi setiap tahunnya, dan berharap Anugrah ini dapat terus berjalan untuk tahun-tahun kedepan, dan ada perubahan dari Anugrah ini, sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) katagori.
“Yaitu, seniman budayawan itu sendiri, kemudian adalah karya buku dan non buku. Kalau Yayasan Jembia ini ada rezeki lebih, InsyaAllah akan ada penambahannya,” sebutnya.
Terkait kelangkaan sejarahwan, Rida mengharapkan kedepannya pemerintah bisa mengirimkan teman-teman yang memiliki bakat tentang sejarah untuk belajar sejarah hingga ke luar negeri, karena ilmu sejarah itu berkembang terus. Sementara kita disini yang banyak itu jurusan sastra.
Dan di Kepri saat ini Tidak banyak. Yang paling aktif Aswandi Syahri, namun ada beberapa orang di BNBP (Balai Pelestarian Nilai Budaya) yang perlu kita galakkan lagi seperti Dedi Arman, dan Wiwik.
“Pemerintah diharapkan mendorong untuk menambah SDM tentang sejarah dan kebahasaan itu, dengan memberikan beasiswa untuk belajar. Apalagi sejarah Indonesia banyak tercatat juga di Belanda,” pungkasnya. (SK-MU)








