Cerpen : Lampu dan Nafas

oleh
Oleh : Chairunnisa

Mentari memperlihatkan sinarnya pagi ini, terlihat gembira. Menikmati minggu pagi dengan berjalan mengelilingi komplek rumah paman yang baru sehari kudiami. Melewati jalan setapak, berlubang bahkan berbukit. Hanya lalu lalang kendaraan yang kutemui disetiap sudut jalan. Tak terlihat pohon-pohon rindang seperti Pou. Pou adalah nama pohon yang sejak kecil kutanam dan kurawat hingga ia tumbuh dewasa dengan gagahnya. Ya itulah pohon yang selalu menjadi tempat labuhan tawa dan sedihku. Pou tumbuh dengan pondok kecil yang ayah hadiahkan padaku ketika aku berumur 12 tahun. Batang yang tak cukup kupeluk itu penuh dengan coretan berupa kikisan batu, tentang keluarga, sahabat bahkan lelaki yang kusukai. Pou seperti pengganti ayah bagiku, mendengarkan setiap ceritaku dan menenangkan.

Hari pertama di bulan April. Hari asing yang berbeda. Sangat jelas berbeda antara kampung dan kota, memang tak terbayang jauh bedanya. Proses pernafasanku pun ikut berbeda. Jujur, udara di kota tak sesegar di kampung.

“3 tahun bukannya bentar. Selama itu harus nafas kayak gini? Bakal mati gak sih ini Tuhan.” gumamku dalam hati.
Kehidupan di kota terlalu mengerikan. Semua jauh diluar perkiraanku. Begitu banyak yang harus ku ubah. Mulai dari sikap, cara bicara dan proses penyaringan udara pada hidungku.

Empat bulan berlalu tanpa berkebun dan belajar di pondok Pou, bagaikan hidup tanpa udara. Terdengar rancu, tapi itu gambaran tepat. Aku mencari celah bagaimana bisa menggantikan kebiasaan berkebunku. Tak ada yang bisa ku olah. Halaman rumah paman juga terlalu kaku. Tak ada satupun tumbuhan yang berani tumbuh, yang ada hanya gelaran semen dan keramik. Mungkin karna paman dan bibi sibuk, sampai-sampai tak pernah berfikir untuk mengurus taman kecil yang akan menghiasi sudut halaman rumah mereka. Padahal halaman rumah di komplek paman cukup luas.

Sabtu petang yang padat. Aku berjalan melihat-lihat seisi kota sendirian. Bermodalkan kaos oblong, celana kain, tas lusuhku dan sendal jepit. Memperhatikan setiap sudut jalan kota yang dipenuhi kendaraan dan pedagang keliling. Seketika tatapanku terdiam melihat asap raksasa berkabut hitam dari balik pagar seng. Asap itu memanggil rasa ingin tahuku. Hingga akhinya kudekati sumber asap itu. Kulihat orang sedang membakar tumpukan sampah yang berbukit-bukit. Kurasa dikampungku aku tak pernah melihat ada orang yang tega membakar tumpukan sampah sebanyak itu. Apa salahnya jika tumpukan sampah itu diolah. Kukira orang di kota punya intelektual yang tinggi untuk menanggulangi sampah. Pantaslah panas matahari semakin hari semakin menjadi. Apalagi bagi kota yang tak sadar akan manfaat tumbuhan.

Kobaran api yang melahap sampah itu membuatku menjadi rajin memikirkannya, membayangkan bagaimana penanggulangannya. Apakah pantas pelajar SMA sepertiku memusingkan diri memikirkan hal semacam itu? Tapi kurasa harus.

Jam pelajaran pertama hari ini membuatku sedikit berfikir. Guruku memberi tugas tentang bagaimana membuat lampu tidur. Kuhubungkan ide bagus itu dengan kegelisahanku pada pembakaran sampah kemarin. Sudah seharian ku memikirkannya, browsing mencari ide. Ideku mulai muncul, sepertinya lampu tidur dari plastik bekas tak terlalu buruk. Ku coba membuatnya, ku tumpahkan berbagai kreatifitasku di sampah plastik itu.

Esoknya kutunjukkan hasil karyaku didepan kelas. Mereka terpukau melihat lampu menyala ditengah sampah plastik yang sudah diperindah, termasuk guruku. Setelah selesai jam pelajaran, aku diminta untuk mengahadap guruku. Diruangannya aku ditanya tentang lampu dari sampah plastik tersebut. Ku jelaskan tujuan mengapa aku membuatnya dari sampah plastik. Kukatakan agar mengurangi pembakaran sampah yang membuat polusi dan mengancam bolongnya lapisan ozon. Alasanku diterima dengan baik.

Yippiiiiiiii….!!!! Ketika kulihat cover majalah sekolah namaku terpampang jelas atas pembuatan lampu tidur dari sampah plastik. Seluruh warga sekolah memperbincangkan lampu tersebut. Kukira ideku akan menjadi guyonan teman-temanku, tapi aku salah ternyata guru dan teman-temanku memberiku banyak pujian. Wah, senang sekali rasanya ideku diterima seluruh warga sekolah. Dan ternyata majalah sekolah dibaca oleh salah satu wali murid di sekolah kami. Ia adalah seorang pengusaha. Ia sangat tertarik dengan lampu itu, karna menurutnya menarik dan sangat membantu mengurangi kerusakan alam. Beliau mengajakku bekerja sama atas pembuatan lampu tersebut. Tanpa berfikir dua kali, kuterima tawaran beliau.

Diresmikan dan siap dipasarkan. Menegangkan, tapi terasa sangat senang melihat hasil karyaku disenangi banyak orang. Bukan main berhasil lagi pemasaran lampuku, sampai masuk ke berbagai pasar di seluruh Indonesia.

Suasana kota juga semakin berubah. Tak kulihat lagi pembakaran sampah disudut manapun. Sekarang sampah sudah menjadi hal yang cukup berharga, tak ada lagi yang membuangnya percuma begitu saja. Bukan hanya lampu dari sampah plastik saja, sudah banyak berbagai macam pengolahan sampah menjadi kerajinan dan barang-barang berekonomis tinggi. Kota sudah tak sesedih dulu. Udara sudah hampir tersaring bersih, walau hanya sebagian setidaknya tak sekotor dulu. Kurasa hidungku pun sudah tak perlu menimang penderitaan yang amat berat seperti dulu. Senang bisa mengurangi penderitaan pernafasan warga kota. (Chairunnisa)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.