TANJUNGPINANG (SK) — Sosok Ismeth Abdullah tidak bisa dipisahkan dengan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Kepri. Sebagai Gubernur Pertama di Provinsi Kepri, di masa kepemimpinan beliaulah didirikan UMRAH, yang kini sudah berstatus negeri. Di masa beliau pula, gedung-gedung UMRAH dibangun.
Namun seiring perjalanan waktu, peran Ismeth Abdullah di Perguruan Tinggi “Plat Merah” pertama di Provinsi Kepri itu mulai dilupakan. Bahkan, dalam beberapa peristiwa penting di UMRAH, Ismeth tidak diundang. Termasuk pada acara Dies Natalis ke-IX, Sabtu, 24 September 2016 lalu, di Gedung Serba Guna, Komplek Perkantoran Gubernur Kepri, di Dompak, Tanjungpinang.
Bagaimana tanggapan Ismeth Abdullah tentang hal ini, berikut tanggapannya yang disampaikan kepada para Wartawan, Sabtu lalu :
UMRAH melaksanakan Dies Natalis Ke-IX, apakah bapak tidak di undang?
Bapak tidak tidak tau tu… Berita gembira itu justru bapak dengar sekarang dari anda. Kehadiran bapak di Tanjungpinang ini untuk menghadiri resepsi pernikahan anak Bapak Nahar (Ketua Bappeda Kepri) dengan Ibu Reni (Plt. Sekda Kepri).
Apakah ada “sesuatu” sehingga bapak tidak mendapat undangan pada acara Dies Natalis tersebut?
Anda perlu ingat, apa yang kita bangun belum tentu kita yang menikmatinya. Itulah yang terjadi hari ini. Bapak dulu yang membangun UMRAH, tapi kini bapak tidak melihat hasilnya. Apa yang terjadi pada diri bapak, juga akan terjadi pada orang lain, termasuk diri anda. Percayalah, semuanya sudah ada yang ngatur. Anda tak perlu kecewa mengapa saya tidak diundang, saya enjoy ja kok.
Namun di dalam lubuk hati yang paling dalam apakah bapak ingin menghadiri acara penting seperti itu?
Jelas dong… dalam beberapa moment penting di UMRAH bapak sebenarnya ingin datang. Tapi, pihak UMRAH mungkin punya pertimbangan lain mengapa mereka tidak mengundang bapak. Waktu peresmian UMRAH sebagai Perguruan Tinggi Negeri pada 26 Desember 2011, bapak juga tidak diundang. Anehnya ibu (Aida Ismeth, red) malah yang dapat undangan. Ibu di undang dalam kapasitasnya sebagai anggota DPD RI utusan Provinsi Kepri. Bapak dengan ibu sempat berdebat soal undangan itu. Akhirnya bapak mengalah, dan ibu menghadiri acara tersebut tanpa bapak.
Berita yang beredar bapak juga sempat di telepon Menteri Pendidikan dan Kebudayaan soal itu?
Betul… Bapak diberitahu oleh Prof. Dr. Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, red) yang meresmikan penegerian UMRAH. Pak Nuh bilang, “Pak Ismeth, bapak yang mendirikan UMRAH ngapaian tidak datang?” Waktu itu saya hanya menjawab,” walaupun saya tidak di undang, namun dari jauh saya mendoakan semoga acaranya itu sukses. Tolong sampaikan salam saya untuk Bapak Gubernur (waktu itu Muhamad Sani) dan Rektor UMRAH (waktu itu Prof. Dr. Maswardi Amin, M.Pd).”
Waktu itu bagaimana reaksi Pak Menteri?
Silahkan anda terjemahkan sendiri. Tak mungkin saya sampaikan di sini, nanti ada pula yang tersinggung. Cukup anda ketahui saja, tapi bukan untuk ditulis ya… Tolong anda catat, menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang, begitu juga sebaliknya. Kita kembalikan saja kepada Yang Di atas. Yang penting ikhlas.
Mungkin pihak UMRAH sudah lupa……….
Silahkan anda tafsirkan sendiri. Sebaiknya anda tanyakan soal itu kepada Rektor UMRAH. Bapak sadar, dulu bapak memang Gubernur di sini (Kepri, red), sekarang Bapak mantan Gubernur. Sekarang bapak tidak apa-apanya.
Ke depan, apa harapan bapak dengan UMRAH?
Ingat sejarah… pada acara penting di UMRAH seperti Dies Natalis ini, tolonglah tokoh-tokoh pendiri UMRAH ini di khabari atau di undang. Soal mereka datang atau tidak, itu soal belakangan. Jangan seperti sekarang ini, kabar berita pun tak ada. Petinggi di UMRAH harus ingat semboyan Bung Karno dengan Jas Merahnya “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.
Bisa bapak ceritakan sedikit kilas balik sejarah pendirian UMRAH?
Dulu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan minta penggabungan tiga perguruan tinggi di Kepri merger jadi satu jadi UMRAH sebagaimana yang terjadi di daerah lain. Ketiga perguruan tinggi tersebut adalah Poltekes Tanjungpinang, Politeknik Batam, dan STISIPOL Tanjungpinang. Bapak langsung menghubungi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, maunya kita tidak perlu seperti itu. Pendirian UMRAH tidak perlu mengorbankan yang lain. Sekarang anda bisa lihat sendiri ketiga perguruan tinggi yang dulu mau digabung dengan UMRAH, sekarang sudah berkembang pesat. Politeknik Batam sudah berstatus negeri, begitupula dengan Poltekes Tanjungpinang. STISIPOL sendiri sekarang terus berkembang.
Jika ada Dies Natalis seperti yang dilaksanakan UMRAH saat ini, apakah ketiga Perguruan Tinggi tersebut mengundang bapak?
Itulah yang membuat hati saya tersentuh. Jauh hari sebelum acara Dies Natalis tersebut mereka sudah mengabari bapak apakah bisa datang atau tidak. Pak Zamzami (Ketua STISIPOL Tanjungpinang) selalu mengabari dan mengundang bapak setiap ada acara Dies Natalis di STISIPOL. Terkadang karena kesibukan, bapak tidak bisa datang. Begitu pula dengan Poltek Batam.
Berarti bapak menyesal tidak di undang oleh pihak UMRAH?
Bapak ikhlas…
Terkait dengan komflik dana hibah antara pihak UMRAH dengan Pemprov Kepri, bagaimana pandangan bapak?
Segala sesuatu itu pasti ada jalan penyelesaiannya. Itu tergantung kepada kedua belah pihak, mau diselesaikan atau tidak. Malu kita terus berpolemik seperti ini. Bukalah lembaran baru demi masa depan UMRAH.
Kalau diminta untuk menyelesaikan polemik ini, apakah bapak mau turun tangan?
Demi Kepri apa yang tidak saya lakukan. Namun semuanya saya kembalikan kepada pihak yang bertikai.
Terakhir apa harapan bapak terhadap mahasiswa UMRAH yang baru?
Saya ingin mengucapkan selamat dan teruslah berkarya. Kini, orang tua dan masyarakat menunggu kiprahmu. (Tim)







