BINTAN (SK) — Perwakilan Mahasiswa Bintan dan Mantan Honorer dilingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan yang terdiskualifikasi saat pengumuman honorer di media massa pada Tanggal 27 Desember yang lalu, melakukan aksi unjuk rasa, di halaman Kantor Bupati Bintan, Selasa (03/01/2017), sekitar pukul 10:00 WIB, dalam cuaca hujan.
Beberapa mahasiswa yang merupakan warga Bintan itu, merasa terpanggil untuk mempertanyakan kebijakan Bupati Bintan, Apri Sujadi, yang mengharuskan honorer di lingkungan Pemkab Bintan, ber KTP Bintan, seperti yang disampaikan salah satu orator Himpunan Mahasiswa Bintan, Sadiq.
“Pada hari ini orang Tanjungpinang tak boleh bekerja di Bintan. Kalau orang Bintan tak boleh kuliah di Tanjungpinang, kami nak kuliah dimana? Mau bodoh orang-orang ini? Kami minta ini pengumuman, dicabut !,” tegas Sadiq, di halaman Kantor Bupati Bintan.
Karena saat itu Bupati Bintan belum juga keluar menjumpai para pengunjuk rasa, Sadiq terus berorasi menyampaikan orasinya, dan tidak mau yang datang menjumpainya hanya Sekda Bintan, melainkan adalah Bupati Bintan, Apri Sujadi.
“Bupati, mana Bupati, kami mau jumpa dengan beliau. Kawan-kawan, kalau Bupati tak mau jumpa kita, kita masuk saja. Kita cari Bupati,” ajak Sadiq, kepada rekan mahasiswa.
Kemudian Sadiq mempersilahkan kepada salah seorang honorer di RSUD Bintan yang merasa terbuang, ibu Ami, yang juga kebetulan adalah tetangga Apri Sujadi, sehingga keluhannya membuat wartawan, aparat, dan yang hadir ikut merasa sedih.
“Pak Bupati yang terhormat, saya honorer dari Tahun 2010, semenjak Pak Ansar Ahmad. Kami tak pernah bermasalah denga Pak Ansar. Kami tidak di buang. Suami saya nganggur, anak-anak saya kuliah. Sekarang saya diberhentikan. Banyak sangkutan di Bank. Siapa yang akan bayar. Orang di penjara saja dapat konpensasi pak, untuk kebutuhan hidup sekian bulan. Kami ini bekerja pak, tidak dapat apa-apa. Dari awal pemilihan bapak menjadi anggota Dewan, kami di depan, memilih dan mendukung bapak,” teriak Ami sambil menangis.
Sebelum Ami, Junaidi yang juga honorer dari Tahun 2012, juga melakukan orasi menggunakan pakaian dinas yang basah kuyup, karena siang itu hujan lebat, dan menyampaikan keluhannya, karena ia juga pempunya istri dan anak, serta mempunyai tangnggungan hutang di Bank.
“Kalau bicara pengorbanan, tidak terhingga, tapi kenapa di penghujung tahun, kami didera dengan hal seperti ini. Alangkah hebatnya negeri ini. Sudah sangat lama kami berbakti, berbuat, dibuang begitu saja. Apakah kami harus pengangguran, harus menambah jumlah maling, yang menambah kerja bapak-bapak polisi. Tadi saya berangkat kesini, istri saya menangis karena bulan depan akan melahirkan. Anak-anak kami mau makan apa, ini baru beberapa dari sekian ratus orang, jadi kami sangat ingin bertemu Bupati,” kata Junaidi, dengan nada menahan sedih.
Tidak ketinggalan, Yosi honorer yang sudah 10 (Sepuluh) tahun dan merasa punya potensi juga kesal atas kebijakan Bupati Bintan ini, karena ia juga masih banyak sangkutan hutang di Bank. Dengan gaji hanya RP.1.200.000,- (Satu juta dua ratus ribu rupiah).
“Saya punya potensi, walaupun saya tinggal di Tanjungpinang, tapi saya mengabdi di Bintan, saya naik kan Bintan, bukan Tanjungpinang. Tapi apa yang saya dapatkan, percuma, sia sia. Sekarang saya sudah berkeluarga, anak dua, hanya numpang makan dengan gaji Satu Juta Dua Ratus ribu saja, belum potongan Bank, sisa hanya lima ratus ribu, belum uang minyak empat ratus ribu, tapi saya masih tetap bertahan dan loyal bekerja. Kami bukan mencari kaya, hanya untuk menghidupkan anak-anak kami. Nama Bintan sudah sampai Nasional. Baru baru ini Bupati dapat penghargaan, dan ada andil jawatan saya di situ. Tapi apa yang saya dapatkan,” teriak Yosi, dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian mahasiswa dan mantan honorer yang berjumlah sekitar 20-an orang itu hendak memaksa masuk, namun ditahan oleh aparat, sehingga terjadi sedikit kericuhan, hingga Sekda Bintan muncul menyampaikan, bahwa Bupati bersedia bertemu dengan pengunjuk rasa di ruangan rapat III. (SK-MU/C)










