Guru Besar Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Wihana Kirana Jaya, membahas posisi Pulau Nipa dari perspektif ekonomi.
Menurutnya, pembangunan Pulau Nipa juga masuk dalam konteks paradigma ‘membangun dari pinggiran’, yakni wilayah 3TP (terdepan, terluar, tertinggal, dan perbatasan).
“Pulau Nipa sebagai wilayah 3T dan sekaligus perbatasan, harus di(re)persepsikan sebagai etalase Negara, sehingga perlu dibangun sarana dan prasarana yang memadai,” kata Prof Wihana.
Sebagaimana posisi pulau Batam, lanjut Wihana, posisi pulau Nipa meskipun hanya pulau kecil, pulau ini sangat strategis, terutama sebagai salah satu titik penentu batas ZEE 12 mil, karena merupakan salah satu pulau terdepan/terluar.
Seperti diketahui, kata dia, pulau ini telah direklamasi dari semula yang luasnya hanya 0,5 hektar menjadi 60 hektar lebih. Pulau ini bermakna/signifikansi jamak, yakni dari perspektif pertahanan, batas wilayah terluar (titik penentu ZEE), konservasi, maritim, dan ekonomi.
Prof Wihana menyebutkan, dalam perspektif SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threats), ‘ganggguan’ dari para broker itu merupakan upaya untuk menggerus kepercayaan para investor (potensial) dengan mengeksploitasi kelemahan-kelemahan yang ada pada PT Pelindo dan PT Asinusa Putra Sekawan (pemegang konsesi BUP), serta kelengkapan infrastruktur secara umum.
“Gangguan dari para broker tidak perlu disikapi secara berlebihan,” tegas Wihana. ***
(red)














