TANJUNGPINANG – Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kepri dalam memperkuat sektor sport tourism dan marine tourism sebagai strategi unggulan menghadapi dinamika pariwisata global.
Penguatan sport dan marine tourism Kepri ini disampaikan Ansar Ahmad saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk Tourism Under Fire: Menyoroti Kerentanan Sektor Wisata Akibat Eskalasi Konflik Perang Internasional yang digelar secara daring, Senin (16/3/2026).
Dalam paparannya, Ansar menyebutkan bahwa Kepulauan Riau memiliki keunggulan geografis sebagai daerah kepulauan yang berada di jalur strategis internasional.
“Posisi strategis tersebut turut mendukung perkembangan sektor pariwisata di Kepulauan Riau,” kata Ansar.
Ia menjelaskan, Kepri berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka yang dilintasi sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer setiap tahunnya, sehingga memiliki potensi besar dalam menarik wisatawan mancanegara.
Sepanjang tahun 2025, Kepulauan Riau mencatat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2.027.037 orang, menjadikannya sebagai pintu masuk wisman terbesar ketiga di Indonesia.
Namun demikian, Ansar mengingatkan bahwa dinamika geopolitik global dapat berdampak pada sektor pariwisata, mulai dari munculnya travel warning hingga peningkatan biaya perjalanan akibat fluktuasi harga minyak dunia.
“Kepulauan Riau memiliki posisi yang sangat strategis sebagai beranda NKRI dan pintu gerbang wisatawan mancanegara. Karena itu kita harus memperkuat strategi pariwisata agar tetap resilien di tengah dinamika geopolitik global,” ujarnya.
Untuk itu, Pemprov Kepri mendorong pengembangan sport tourism dan marine tourism sebagai sektor unggulan yang dinilai mampu menarik minat wisatawan sekaligus memperkuat daya saing daerah.
Selain itu, Pemprov Kepri juga melakukan diversifikasi pasar wisata dengan memperkuat wisatawan nusantara sebagai penopang utama sektor pariwisata.
Ansar optimistis dengan strategi tersebut, target kunjungan 2,7 juta wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau pada 2026 dapat tercapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan. ***
















