Bandara Khusus Matak Lumpuh Total

oleh

– Ratusan Pendemo Duduki Lapangan Bandara

ANAMBAS (SK) — Ratusan pekerja yang tergabung dalam Kelompok Peduli Anambas (KPA) menggelar aksi unjuk rasa di Bandara Khusus Matak Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), Kamis (7/5/2015). Akibat aksi tersebut, bandara penunjang operasional Perusahaan Conoco Philips dan beberapa penerbangan komersil menjadi lumpuh total lantaran ratusan pendemo menduduki sebagian lapangan landasan pesawat.

Aksi tersebut merupakan buntut, sikap perusahaan Conoco Philips yang melakukan pemutusan kontrak kerja terhadap puluhan pekerja lokal. Sebelumnya telah digelar rapat pembahasan antara tenaga kerja lokal dengan pihak perusahaan, namun tidak membuahkan hasil kesepakatan bersama.

Dalam orasinya, ratusan pekerja tersebut meminta kerja sama dan penjelasan terkait tuntutan yang diajukan oleh pekerja beberapa waktu yang lalu. Namun hingga saat ini tuntutan yang ditawarkan belum ada penjelasan.

“Kami menolak tenaga kerja dari Jakarta dan menolak tenaga kerja lokal yang tidak disambung kontrak kerjanya agar dapat dipekerjakan kembali. Kami meminta tidak ditugaskan lagi di Matak yang kami anggap tidak bisa bekerja sama dan tidak peduli dengan masyarakat. Dan kami meminta anggaran CSR tahun 2016 dan seterusnya dapat langsung diserahkan ke pihak desa dan meminta barang junk perusahaan dihibahkan ke desa-desa,” dalam orasinya.

BACA JUGA :  Ribuan Masyarakat Tanjungpinang Antusias Menyaksikan Wali Band

Kepala Desa Ladan Abdul Hayan, perwakilan dari masa ini menyampaikan bahwa pihaknya akan tetap bertahan bahkan menginap di Bandara Matak tersebut dengan lebih banyak pekerja lagi.

“Sebelumnya kami meminta maaf betul kepada bapak-bapak aparat keamanan. Karena kami akan tetap bertahan sampai menginap di sini dengan lebih banyak pekerja lagi, atau tiga pimpinan (Conoco Phillips, Star Energy, dan Premier Oil,red) yang menginap di tempat kami. Kami melihat tidak ada niat baik dari perusahaan di Jakarta,” ujarnya yang disambut riuh pekerja lokal yang melakukan aksi.

Sementara itu, anggota DPRD KKA Jasril Jamal mewanti-wanti niat perusahaan untuk mendatangkan aparat tambahan untuk mengamankan ratusan pengunjuk rasa hari ini.

BACA JUGA :  Putusan MK Bukti Kemenangan Masyarakat Kepri

“Kami harapkan hal tersebut tidak terjadi, karena masih dalam kondisi aman dan kita masih negosiasi secara baik. Aparat yang ada sudah cukup baik,” terangnya.

Masih dalam kondisi yang tegang dan cuaca panas terik pendemo meminta kepada pihak perwakilan perusahaan Manajer Security Supriyadi agar dapat menghubungi langsung kepada Vice President Development Joang. Setelah terhubungi melalui telepon seluler, Joang mangatakan empat pengajuan yang diminta pekerja hanya dua diantaranya yang dapat disanggupi, yakni anggaran CSR tahun 2016 langsung diserahkan ke pihak desa dan barang junk perusahaan dihibahkan ke desa-desa.

“Sedangkan untuk butir pertama dan kedua yakni, menolak tenaga kerja dari Jakarta dan meminta menyambung kontrak tenaga kerja lokal agar dapat dipekerjakan kembali. Pihak perusahaan tidak dapat memenuhi karena sudah menjadi keputusan final perusahaan dan kami berharap dengan keputusan ini dapat dimengerti,” ungkapnya.

Sontak saja para pendemo meneriakan suaranya bahwa pihak perusahaan tidak mau bekerja sama yang baik dengan tenaga kerja lokal, hal ini tidak bisa dibiarkan.

BACA JUGA :  Terkait Kepala BP Batam Baru “LSM BERDEMO"

“Ini kampung kite, bumi kite dan kite bukan minta uang akan tetapi minta hak kami dan kami hanya ingin bekerja dikampung kami sendiri,” teriak salah satu pendemo.

Perwakilan pekerja tetap melakukan mediasi kepada pihak perusahaan Conoco Philip agar dapat memenuhi tuntutan empat poin tersebut, hingga sore tiba tepatnya pukul 17.00 WIB belum dapat keputusan yang diharapkan dan masa akhirnya membubarkan diri secara tertib. (SK-Ind)

Editor: Rico Barino

Ratusan Pendemo Duduki Lapangan Bandara Khusus Matak (Photo: Indra Gunawan)
Ratusan Pendemo Duduki Lapangan Bandara Khusus Matak (Photo: Indra Gunawan)
Shares

No More Posts Available.

No more pages to load.