GESER UNTUK BACA BERITA
KEPRIOPINI

OPINI : Urban Farming, Ditengah Ketersediaan Bahan Pangan

×

OPINI : Urban Farming, Ditengah Ketersediaan Bahan Pangan

Sebarkan artikel ini
Rizky Gunawan, Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, Fisip UMRAH. (Foto : Ist)

OLEH : Rizky Gunawan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP UMRAH.

Penomena masyarakat kota yang terkesan tidak tertarik dengan aktivitas bercocok tanam tidak ada lagi saat ini. Bahkan, mereka mulai membalikkan paradigma baru, melalui sebutan Urban farming, konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Berbicara tentang urban farming, penulis memberi pemahaman sebuah metode pertanian perkotaan untuk membangkitkan produksi pangan. Serta menjadi salah satu jalan pintas bagi masyarakat kota yang hobi dan suka bercocok tanam, namun kesulitan mendapatkan lahan untuk pengembangbiakannya. Karena padatnya gedung dan infrastruktur lainnya.

Melalui metode Urban farming, warga kota tentu tidak direpotkan lagi mencari lahan. Karena, budi daya bisa dilakukan di depan rumah atau sekitaran lingkungan rumah yang masih memiliki lahan dan mampu dilaksanakan dan dikerjakan setiap saatnya.

Urban farming juga termasuk ke dalam metode penanaman yang menggunakan wadah seperti serabut, paralon, botol plastik, kaleng cat, karung beras, dan lain sebagianya. Dimana tempat itu membantu mengurangi sampah secara bertahap, serta mampu dijadikan tempat untuk menanam bahan-bahan pokok, seperti sayur sayuran, buah buahan, dan termasuk rempah-rempah bumbu dapur lainnya, demi kebutuhan sehari-hari.

Metode ini mengajarkan tentang bagaimana caranya menanam tanpa menggunakan pestisida dan bahan kimia lainnya, serta menggantikannya dengan bahan yang aman untuk digunakan. Seperti tanah kebun dengan benda-benda substrat, seperti kulit kacang, sabut kelapa, sekam padi, atau tanah. Bila substrat juga tidak tersedia, kita bisa menggunakan air yang dicampurkan dengan larutan pupuk. Apabila dalam menanam buahan dan sayuran menggunakan pestisida, maka akan mengakibatkan masalah pada unsur hara tanahnya, dan juga berbahaya setelah hasil buah dan sayuran di makan apabila tidak dicuci atau dibersihkan secara bertahap.

Selain proses metode penanaman yang mesti dan harus memperhatikan wadah yang ramah lingkungan dan bahan pupuk yang aman. Urban farming juga harus memperhatikan proses pengairan atau irigasi. Dalam proses pengairan atau penyiraman tanaman juga harus di perhatikan jenis air yang digunakan, seperti air yang layak atau masih bersih, serta air hujan. Untuk volume air yang dibutuhkan dalam proses penyiraman air lebih kurang 3 liter per hari, dengan luas 1 meter persegi, maka proses pengairan ini sudah termasuk relatif rendah. (dikutip dari alodokter)

Bukan cuman itu, proses penanaman tanaman mesti yang harus dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sayur bayam, wortel, timun, tomat, dan lainnya. Dan untuk buahnya, seperti buah apel, anggur, semangka, labu, dan berbagai macam buah yang mampu dan bisa di produksi rumahan, serta mengusahakan menanam tanaman herbal, seperti, jahe, lengkuas, kunyit, dan lain-lain nya.

Selain menanam atau bercocok tanam, urban farming juga memperhatikan aspek ternak dalam penerapan guna menjaga dan mempertahankan bahan pangan masyarakat kota. Ternak yang mampu dilakukan dalam skala rumahan, biasanya seperti ayam, bebek, ikan, dan berbagai macam produksi ternak, yang mampu menggunakan lahan sekecil apa pun.

Menurut data yang diambil, taman urban farming terbilang relatif produktif. Studi yang dilakukan oleh FAO (Food and Agriculture Organization) menunjukkan, bahwa satu meter persegi taman mikro dapat menghasilkan sekitar 100 bawang tiap empat bulan, 10 kol tiap tiga bulan, sekitar 200 tomat atau 30 kg per tahun, atau 36 bonggol selada per dua bulan.

Yang berarti menguatkan fakta, bahwasanya, urban farming juga mampu memberikan lonjakan besar untuk kebutuhan primer seseorang dalam menghadapi harga pangan yang tidak menentu akibat kekurangan bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat kota.

Selain itu, manfaat dari urban farming juga tergolong berguna. Selain mempertahankan pangan untuk produksi sendiri atau massal, salah satu manfaat yang bisa mencapai aspek ketahanan pangan, ekonomi, dan lingkungan sehat adalah memberikan lowongan pekerjaan yang mengerti keadaan lingkungan sehat, dalam penerapan metode urban farming skala besar yang mampu memberikan dorongan kepada pemilik taman mini tersebut untuk memberikan kesempatan kepada orang yang ingin membutuhkan pekerjaan.

Selain membutuhkan seorang karyawan, urban farming mengajarkan lingkungan sehat apabila penggunaan barang bekas sebagai wadah untuk menanam buah dan sayur yang ingin di tanam.

Beberapa keadaan yang tidak menguntung terjadi di saat pandemi ini. Beberapa pangan mengalami kenaikan, serta kelangkaan, karena kebutuhan masyarakat yang tinggi, sehingga ketahanan pangan suatu saat apabila tidak terkontrol dengan baik, maka akan mengakibatkan inflasi dan kelangkaan barang. Akibatnya barang pokok pun naik drastis.

Pangan yang dimiliki Indonesia sendiri, hingga 3 sampai 4 bulan akan mampu dan diusahakan cukup untuk kedepannya. Namun apabila tidak ada tindaklanjutan dari petani dan peternak, maka bisa saja barang yang dibutuhkan tidak ada. Maka dari itu, urban farming bisa menjawab soslusi yang dihadapi untuk memenuhi ketahanan pangan yang dimiliki. (dikutip dari kontan.co.id)

Maka dari itu, urban farming apabila digalakkan bersama dan disosialisasikan bersama akan pentingnya kebutuhan primer dan sekunder, semoga itu akan membantu menyokong produksi pangan untuk negara Republik Indonesia di masa yang akan datang. Namun, apabila ini tidak disebarluaskan atau di sosialisasikan, maka pernyataan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengatakan, ancaman krisis pangan dunia di tengah pandemi Corona seperti yang diprediksi oleh Food Agriculture Organization (FAO).

Dilain kesempatan, juga Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, juga mengatakan, stok pangan di Indonesia, baik di antara 11 bahan pokok, yang terutamanya produk hewani surplus, akan kehabisan cadangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seluruh indonesia. (dikutip dari detik.com)

Dan juga jumlah masyarakat kota yang makin hari makin bertambah juga mempengaruhi pangan yang dimiliki kota tersebut. Maka dari itu, apabila masyarakat kota mampu mandiri, yakni menerapkan metode urban farming, maka bisa saja kebutuhan untuk masyarakat kota tidak akan berkurang. ***

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100