GESER UNTUK BACA BERITA
OPINI

Momentum Pengurangan Penggunaan Plastik

×

Momentum Pengurangan Penggunaan Plastik

Sebarkan artikel ini
Alfitri, Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas
Alfitri, Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas. (Foto : Ist)

Oleh ALFITRI – Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas

SIJORI KEPRI – Lonjakan kenaikan harga kantong plastik dalam sebulan terakhir menjadi fenomena yang cukup mencolok. CNN Indonesia (06/04/2026), misalnya, melaporkan adanya kenaikan harga pada berbagai jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan di Jakarta.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sementara sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Bahkan, plastik kemasan merek tomat melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak. Karena ditambah biaya transportasi, di daerah-daerah tentu harganya lebih mahal lagi.

Dampak langsung dari lonjakan harga ini dirasakan para pedagang, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah. Di pasar tradisional hingga toko kelontong, kantong plastik yang sebelumnya dianggap sepele kini menjadi komponen biaya yang harus diperhitungkan secara serius.

Tidak hanya pedagang, konsumen pun mulai merasakan perubahan. Beberapa toko mulai membatasi pemberian kantong plastik atau bahkan mengenakan biaya tambahan. Hal ini memicu beragam respons, mulai dari pemakluman hingga keluhan, terutama dari masyarakat yang belum terbiasa membawa tas belanja sendiri.

Kenaikan harga kantong plastik ini tentu tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utamanya adalah meningkatnya harga bahan baku plastik di pasar global. Bahan baku seperti resin yang berasal dari minyak bumi mengalami kenaikan harga akibat perang di Timur Tengah, yang kemudian berdampak langsung pada biaya produksi plastik (BBC News Indonesia, 03/04/2026).

Faktor lain yang diduga juga ikut menjadi penyebab adalah meningkatnya biaya transportasi/distribusi. Rantai pasok yang panjang membuat setiap kenaikan kecil di hulu terasa signifikan di hilir.  Akibatnya, tentu harga plastik di daerah menjadi lebih tinggi.

Dampak dari kenaikan harga ini terasa luas. Bagi pedagang, margin keuntungan menjadi semakin tertekan. Mereka harus memilih antara menaikkan harga barang, mengurangi layanan, atau menanggung beban tambahan yang tidak sedikit.

Di sisi lain, konsumen mulai dihadapkan pada pilihan yang lebih sadar. Kebiasaan menerima kantong plastik secara gratis perlahan berubah. Masyarakat dipaksa untuk mempertimbangkan kembali kebiasaan mereka untuk menggunakan kantong sekali pakai.

Menariknya, kondisi ini juga membuka peluang untuk perubahan positif. Kenaikan harga kantong plastik dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Selama ini, kemudahan dan harga murah membuat plastik digunakan secara berlebihan.

Studi yang dilakukan Sustainable Waste Indonesia tahun 2024, misalnya, menunjukkan bahwa konsumsi plastik per kapita di Indonesia mencapai 26, 5 kg per tahun.

Sedangkan tingkat daur ulang baru sekitar 22 persen.  Sebagian besar lainnya menjadi sampah plastik yang belum terkelola dengan baik yang bocor ke lingkungan seperti plastik bekas kemasan makanan/minuman, kantong belanja dan sedotan.

Dari perspektif lingkungan, pengurangan penggunaan plastik tentu membawa dampak yang signifikan. Sampah plastik yang sulit terurai telah lama menjadi masalah serius, mencemari tanah, sungai, hingga laut. Dengan berkurangnya konsumsi plastik, risiko kerusakan/ketercemaran lingkungan pun dapat ditekan.

Untuk itu, diperlukan adaptasi perilaku dari semua pihak. Pedagang dapat mulai menyediakan alternatif seperti kantong ramah lingkungan kendati itu dengan sedikit biaya tambahan, atau mendorong pelanggan membawa tas belanja sendiri. Hal ini, misalnya, sudah diterapkan secara konsisten dan luas di negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia.

Sementara itu, konsumen perlu membiasakan diri untuk lebih mandiri dalam membawa tas/kantong  belanja. Instansi pemerintah terkait, perlu pula untuk selalu mengingatkan dan mengedukasi anggota masyarakat untuk bijaksana dan hemat dalam penggunaan plastik ini.

Pada akhirnya, kenaikan harga kantong plastik tidak semata-mata menjadi beban, melainkan juga peluang. Jika disikapi dengan bijak, kondisi ini dapat mendorong perubahan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Pedagang lebih selektif dalam menggunakan plastik dan konsumen membiasakan diri dalam membawa kantong belanja sendiri.  Dengan kolaborasi antara pedagang, konsumen, dan pemerintah, langkah kecil ini dapat menjadi awal dari perbaikan besar bagi lingkungan. ***

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100