GESER UNTUK BACA BERITA
Example 325x300
KARIMUNKEPRI

Sebagian Masyarakat Sawang “LAPORKAN EKSPLOITASI TIMAH”

×

Sebagian Masyarakat Sawang “LAPORKAN EKSPLOITASI TIMAH”

Sebarkan artikel ini
Ketua Pemuda Kelurahan Sawang, Igut bersama Kapal KIP Mitra yang sedang beroperasi di Perairan Sawang. (Foto : Ist)
– Pemkab dan DPRD Karimun Belum Ada Tanggapan.

SIJORIKEPRI.COM, KUNDUR — Kesabaran sebagian masyarakat dan pemuda di Kelurahan Sawang, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, sudah hampir diujung batas. Pasalnya akibat dari ulah KIP (Kapal Isap Produksi) Timah, dari pihak swasta yang menjadi mitra dari BUMN PT Timah di Kundur, yang melakukan ekploitasi pasir timah yang berada dekat dengan perairan Pantai Sawang, yang masih berselisih dengan sebagian masyarakat.

Ketua Pemuda Kelurahan Sawang, Igut, mengungkapkan, sesuai keterangan pada pemberitaan sebelumnya, saat terjadi persengketaan dengan pemuda dan masyarakat, saat itu ada 6 (enam) KIP yang beroperasi, berjanji akan menyurati kepada Pemda Karimun dan DPRD.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kini, lanjutnya, KIP tersebut seperti main kucing-kucingan, karena dari pantauan warga, mereka (KIP Mitra, Red), sebentar ada, sebentar menghilang, dan sekarang masih ada dua KIP yang beroperasi.

“Pihaknya sudah melayangkan surat penolakan yang ditandatagani oleh warga ke Bupati dan DPRD Karimun, dan BPLH, serta ke instasi terkait, tapi tidak ade tanggapan, terkesan seolah-olah ade pembiaran, sehingge timbul tanye besar buat warga,” ungkapnya, melalui seluler, Sabtu, (09/12/2917).

Lanjutnya, surat yang dilayangkan ke DPRD Karimun tersebut disampaikan pada (27/11/2017), dan seharusnya DPRD Karimun cepat tanggap, karena mereka adalah wakil rakyat yang dipercayakan.

“Tapi tidak peduli dagan keresahan masyarakat di bawah, dan sampai hari ini tidak ade respon same sekali,” ucapnya geram.

Igut mengatakan, laut itu bukan milik sebagian nelayan yang kemarin hanya diberikan konpensasi seadanya, yakni Rp 40.000 saja, tapi juga milik masyarakat yang lain, sehingga wajar jika sebagian msyarakat dan pemuda tidak setuju dengan dana kompesasi yang tidak mensejahteraakan masyarakat.

BACA JUGA :  Melalui Rekaman CCTV, 2 Pencuri Diringkus Unit Reskrim Polsek Batam Kota

“Yang kami inginkan sebelumnya, supaye adik-adik dan abang-abang disini bise kerje. itu yang lebih baik untuk menambah perekonomian masyarakat. Itu baru betol,” tegasnya.

Namun yang mengherankan Igut, pengumpulan 150 orang lebih yang menolak justru tidak kurang dipercayai Lurah setempat, sehingga Lurah mengumpulkan warga, pada Selasa, tanggal 28 November 2017, dan mempertanyakan kebenaran tanda tangan tersebut.

“Memangnye ade ape ni,” sebut Igut mengulangi pertanyaan Lurah.

Igut mengatakan, Humas Mitra dari PT Timah, saudaraTomy, jangan lepas tangan begitu saja, dan jangan seenaknya masuk ke wilayah yang berdekatan dengan Pantai Sawang, kalau tidak faham dengan aturan.

“Yang jelas ada dua KIP Mitra Timah di lokasi laut Kelurahan Sawang, yang terpantau warga, dan salah satu diantaranya KIP Lammora. Intinye, kami tidak menerime kapal tersebut beroperasi di wilayah kelurahan Sawang, yang bise berdampak merusak ekosistem di wilayah tersebut,” katanya.

Sementara itu, Rio, Humas PT Timah, saat dikonfirmasi mengatakan, kalau di Sawang hanya KIP Lammora. Dan membenarkan KIP terebut adalah mitra PT Timah.

“Sayapun tidak tahu persis pergerakan KIP,” kata Rio, melalui WhatsApp-nya.

Rio menerangkan, kemungkinan kalau tidak salah kapal tersebut lagi rekondisi perbaikan di Teluk Salak, karena cuaca buruk.

“Memang benar mereka (KIP Mitra, Red), lagi perbaikan informasinya. Kan kapal nggak selalu bagus jalanya, tapi nggak tahu sekarang apakah sudah kembali operasi,” ungkap Rio.

Rio menjelaskan, kalau KIP Mitra itu sebenarnya yang membawahi mereka adalah pengawas KIP. KIP Mitra adalah mitra usaha PT Timah, selaku pemegang IUP. Sementara Mitra sendiri adalah perusahaan swasta, yang punya manajemen sendiri dan kebijakan.

BACA JUGA :  Ngesti Yuni Buka-Bukaan Tentang “KUALITAS PENDIDIKAN” di Natuna

“Kami di Humas PT Timah, tidak pernah tahu pergerakan KIP, apalagi KIP Mitra. Jika ada masalah di lapangan, dan aduan masyarakat, kami sebagai penghubung masyarakat ke manajeman,” jelas Rio.

Namun ketika diminta nomor kontak Pengawas KIP, Rio belum memberikan jawaban hingga sekarang. Mungkin ia tidak memiliki nomor kontaknya, atau harus melalui prosedur terlebih dahulu. Alamaak.

Parah!!! Enam Kapal Isap Produksi Timah “BEROPERASI di PERAIRAN SAWANG”

– Masyarakat Hanya Diberi Konpensasi 30-40 Ribu Rupiah.
– Apakah Ini Konpensasi, atau Uang Sogokan ???

Sebelumnya diberitakan, beberapa tahun sebelumnya, sekitar Tahun 2015, masyarakat Sawang, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, pernah menolak keberadaan KIP (Kapal Isap Produksi) timah, namun kini ada yang masuk dan beroperasi lagi.

Kini ada 6 (enam) KIP yang beroperasi di sekitar perairan nelayan Sawang, namun parahnya, nelayan dan sebagian masyarakat hanya diberi konpensasi sebesar Rp 30.000,- hingga Rp 40.000,- saja.

Ketua Pemuda di Sawang, IG, mengatakan, ada dari pihak mitra yang Humasnya bernama Topy, yang didampingi perwakilan PT Timah, Yory, sebelumnya sudah bertemu dengan masyarakat, dan pihak nelayan, tokoh pemuda dan Lurah-nya, yang bernama Persada.

Menurutnya, pada saat pertemuan itu, para pemuda minta dari pihak KIP mempekerjakan sebagian anak-anak Sawang, namun ditolak.

“Kita hanya minta sekitar 25 orang saja, tapi mereka tidak bersedia menerima sebanyak itu, sehingga pertemuan menemui jalan buntu,” ungkapnya, melalui Handphone-nya, Minggu, (12/11/2017).

BACA JUGA :  23 Korban Kapal Speed Boat Yang Tenggelam di Perairan Pulau Putri Batam Selamat, Ini Identitasnya

Diawal pertemuan yang tidak tuntas itu, diketahui rencananya 3 (tiga) KIP saja yang akan masuk, tiba-tiba melalui Kelurahan yang berkoordinasi dengan pihak KIP, konpensasi untuk nelayan dan pemuda sudah berjalan, bahkan untuk tanda tangan masyarakat hanya dibayar Rp 30.000,- hingga Rp 40.000,- tidak merata.

IG dan sebagian masyarakat dan pemuda, merasa pemberian konpensasi yang diberikan oleh mitra PT Timah tersebut dianggap tidak mendidik, karena yang diberikan tidak sesuai. Sedangkan keberadaan KIP tersebut diperkirakan akan merusak kondisi perairan, dan tentunya berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan.

“Yang kita kesalkan, permohonan kita agar pemuda Sawang dilibatkan bekerja sebagai anak daerah diabaikan, sekarang justru masuk lagi 3 (tiga) KIP lagi, sehingga jumlahnya 6 (enam) KIP,” katanya kesal.

Kita juga jadi bingung, tambah IG, apakah ini konpensasi, ataupun uang sogokan kepada masyarakat nelayan dan pemuda. Padahal waktu pertemuan kemarin ribut, dan bubar begitu saja, tanpa keputusan.

Kita selaku pemuda, lanjutnya, bukannya mau mengganggu jika ada kerja sama dengan PT Timah, tapi kalau kita biarkan saja, dan dibodohi dengan uang yang tidak seberapa untuk apa. Makanya kami memperjuangkan kalau bisa menerima pemuda tempatan.

Kita juga kesalkan, Ketua Nelayan setempat justru menerima, tapi efeknya merugikan anak cucu kita kedepannya. Jadi kita tidak mau.

“Dalam waktu dekat, kami dan msyarakat yang menolak akan melayangkan surat ke Bupati Karimun, Aunur Rafiq. Sudah banyak juga dukungan masyarakat setempat, dan saat ini sudah lebih dari 200 (dua ratus) orang lebih, dan semakin bertambah lagi,” pungkasnya. (SK-MU)