
TANJUNGPINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya dan sejarah sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah revitalisasi Pulau Penyengat sebagai destinasi unggulan yang berkelanjutan.
Pulau yang dikenal sebagai pusat peradaban Melayu-Islam ini terus dikembangkan tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, berbagai upaya revitalisasi dilakukan secara masif untuk meningkatkan kualitas kawasan dan daya tarik wisata Pulau Penyengat.
Sejumlah pembangunan telah direalisasikan, mulai dari penataan jalan kawasan, perbaikan drainase, pemasangan lampu penerangan, hingga penyediaan fasilitas umum seperti toilet dan sistem pengelolaan sampah.
Ansar menempatkan pengembangan Pulau Penyengat sebagai bagian dari strategi besar pembangunan pariwisata daerah yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga pada dampak ekonomi dan pelestarian budaya.
Penguatan sektor pariwisata ini juga dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif, melalui pengembangan UMKM, pengelolaan homestay, serta berbagai atraksi wisata berbasis budaya lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, Senin, 20 April 2026, menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki kekuatan besar sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata.
“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya dan religi,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan pariwisata regeneratif yang diterapkan menjadi kunci dalam memastikan pengembangan kawasan berjalan berkelanjutan, dengan tetap menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, sosial, dan budaya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat mencapai sekitar 6.200 orang, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk Malaysia, Singapura, hingga Eropa.
Peningkatan kunjungan ini dinilai membuka peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha di sektor pariwisata, mulai dari UMKM hingga layanan penginapan berbasis komunitas.
“Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, serta berbagai layanan wisata lainnya,” tambah Hasan.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan terus melanjutkan pengembangan kawasan Pulau Penyengat, termasuk rencana pembangunan monumen bahasa, peningkatan penerangan jalan, serta revitalisasi lanjutan Balai Adat.
Menurut Ansar, pengembangan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat identitas budaya Melayu sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.
Dengan langkah tersebut, Pulau Penyengat diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat edukasi budaya sekaligus penggerak ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. ***
















