3 Hal Mandegnya Ekonomi Kepri

oleh

TANJUNGPINANG (SK) — Ada tiga hal pokok penyebab mandegnya ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau, diantaranya regulasi (peraturan), contohnya mengenai impor kebutuhan pokok, seperti beras, sembako dan lainya. Kedua, pemotongan anggaran dari pemerintah pusat terhadap Kepri. Dan ketiga kenaikan mata uang dollar Amerika dan Singapore. Ketiga hal tersebut membuat ekonomi Kepri berjalan melambat, ungkap Pemerhati Sosial Ekonomi Masyarakat, Juprianto, di Tanjungpinang, Rabu, (25/11/2015).

“Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan, regulasi yang dibuat pemerintah pusat tersebut kebanyakan tidak singkron dengan kepentingan daerah, contoh impor beras, gula dan lainnya,” kata Juprianto.

Sebagai daerah perbatasan, sambung dia, tentu Kepri dekat dengan negara tetangga, dimana kebutuhan kita banyak dipasok dari luar. Sebagai daerah konsumtip, karena tidak menghasilkan, tentu semakin Jauh jarak beban biaya semakin tinggi, dengan tidak diizinkan kepri sebagai daerah pelabuhan import.

BACA JUGA :  Nurdin Basirun : Kami Tidak Mencari “KAMBING HITAM”

“Pelabuhan import cuma ada di Medan, Tanjung Priok, maka beban semakin tinggi dalam transportasinya, mengakibatkan harga semakin naik dan daya beli rendah,” imbuhnya.

Berikutnya, kata Juprianto, terjadinya pemangkasan anggaran dari pusat kepada daerah dengan asumsi 7 Kabupaten/Kota rata-rata 100 miliar ditambah pemotongan anggaran untuk Provinsi Kepri sekitar Rp 800 miliar, maka berjumlah Rp 1,5 triliun dana kepri yang ditahan pemerintah pusat yang tidak di transefer ke daerah.

“Kondisi ini mengakibatkan ekonomi lambat, akibat daya beli pegawai berkurang,” katanya.

Di Tanjungpinang, lanjut Juprianto, ada 3 pemerintahan, baik Tanjungpinang, Bintan dan Provinsi Kepri, perekonomian digerakan para pegawai, sementara pihak swasta hanya menunggu pergerakan pegawai, rumah makan, hotel, bengkel semua menunggu sifatnya, jadi pegawai menjadi motor pengerak perekonomian.

BACA JUGA :  Pemerintah Tidak Guna Lakukan Pencitraan “KETIKA KONDISI EKONOMI TERPURUK”

“Apabila pegawai mandek semuanya makdek. Sementara pemangkasan kegiatan pegawai begitu banyak, mulai dari kegiatan, perjalanan dinas, rapat dan lainya. Kondisi ini makin ditambah dengan naiknya kurs dollar. Naiknya dollar, maka seluruh kebutuhan pokok barang dan jasa meningkat, suku bunga bank meningkat, daya beli rendah, maka lenkaplah penderitaan rakyat kepri,” tandasnya. (SK-Sugiarto Doso)

KONTRIBUTOR SIJORI KEPRI : SUGIARTO DOSO
EDITOR : RUSMADI

Shares

No More Posts Available.

No more pages to load.