Terkait usulan nama bandara, Atmadinata mengakui, tokoh masyarakat yang ada di Tambelan hanya mengusulkan satu nama, Kandil Bahar. Sedangkan masyarakat Tambelan di Batam mengusulkan Sultan Abdullah Muayatsyah. Nama ini juga diusulkan oleh masyarakat Tambelan di Kalimantan Barat. Sementara, kerukunan warga Tambelan yang di Jakarta dan Pekanbaru belum mengajukan usulan.
”Kita berharap ada cetusan nama yang berlandaskan aspirasi komponen warga Tambelan, baik yang ada di Tambelan mau pun dirantau. Perlu kita pahami bersama, Bupati Bintan dan Gubernur Kepri hanya akan mengusulkan satu nama ke Menteri Perhubungan,” katanya.
Atmadinata menambahkan, tiga nama yang diusulkan IKT Tanjungpinang, menurutnya telah mengakomodir usulan warga Tambelan. Secara pribadi, ia berharap tidak perlu dipolemikkan lagi, karena ini menyangkut nama fasilitas umum yang sangat membanggakan di Tambelan.
”Bagi saya sebagai Ketua Kerukunan Tambelan di Tanjungpinang, ke tiga nama tersebut silahkan Bupati Bintan atau Gubernur Kepri mau pilih yang mana tidak jadi soalan, karena ketiga nama tersebut sudah diurun-rembukkan sebagai kesepakatan dalam musyawarah,” katanya.
Hadirnya bandara di Tambelan, membuat warga bangga. Karena, jarang sekali di wilayah kecamatan, ada lokasi ini. Namun, karena pemberian nama harus disepakati semua pihak, maka nama yang diberikan buat bandara Tambelan harus berdasarkan aspirasi komponen warga Tambelan.
”Biasalah ada keinginan beda-beda, ketika di tahun 1985, 1986 dulu mau memberi nama Bandara terbesar di Indonesia, banyak juga usulan dan bersilang pendapat. Ada yang mengusulkan nama Daan Mogot, Cengkareng, dan akhirnya disepakati nama Soekarno Hatta,” kata Atmadinata. (R Rich)








