TANJUNGPINANG – Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, tonggak sejarah yang menegaskan tekad generasi muda 1928 untuk bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Namun delapan dekade lebih setelah ikrar itu bergema, semangat Sumpah Pemuda kini menemukan makna baru di ranah ekonomi yaitu bersatu untuk kemandirian ekonomi umat, melalui ekonomi syariah, gaya hidup halal, dan pariwisata berkelanjutan.
Di tengah tantangan ekonomi global, nilai-nilai Sumpah Pemuda, persatuan, keberanian, dan solidaritas kini diterjemahkan menjadi semangat kolaborasi dalam membangun ekonomi syariah nasional.
Salah satu daerah yang mulai menonjol dalam gerakan ini adalah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dengan posisinya yang strategis di jalur perdagangan internasional dan kedekatannya dengan Singapura serta Malaysia.
Dwi Vita Lestari Soehardi, sebagai akademisi Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau dan Sekretaris Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Provinsi Kepulauan Riau, yang aktif menggerakkan literasi halal lifestyle, pemberdayaan UMKM syariah, dan transformasi pariwisata halal di wilayah Kepri.
Sumpah Pemuda bukan hanya seruan politik, tetapi juga simbol tekad kolektif membangun masa depan bangsa. Dalam konteks ekonomi modern, semangat itu bisa dibaca sebagai “sumpah baru” generasi muda untuk mandiri secara ekonomi dengan cara yang etis, adil, dan berkeberlanjutan.
Menurut Vita, generasi muda Indonesia hari ini menghadapi tantangan berbeda dari tahun 1928.
“Kalau dulu kita berjuang melawan penjajahan fisik, sekarang perjuangan kita adalah melawan ketergantungan ekonomi dan gaya hidup konsumtif. Sumpah Pemuda versi modern adalah ketika pemuda sadar bahwa ekonomi halal, kewirausahaan syariah, dan pariwisata beretika adalah bagian dari perjuangan kebangsaan. Bersamaan dengan itu, hari ini juga akan diumumkan pemenang Lomba Vlog Pariwisata Halal yang diselenggarakan oleh MES Kepri dapat dicek di akun sosmed official, Instagram @mes.kepri,” ujarnya.
Konsep ekonomi syariah kini bukan hanya berbicara soal perbankan tanpa riba, melainkan tentang mindset pembangunan, bagaimana manusia, sumber daya, dan nilai spiritual berkolaborasi untuk menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan (maslahah).
Dalam konteks ini, pemuda menjadi garda depan. Mereka bukan sekadar konsumen, tetapi kreator dan inovator dalam ekosistem halal.
Provinsi Kepulauan Riau memiliki keunggulan strategis yaitu letak geografis yang dekat dengan Singapura dan Malaysia, warisan budaya Melayu yang kaya, dan potensi maritim yang besar. Semua itu menjadikannya kandidat kuat untuk menjadi destinasi halal unggulan.
Salah satu contoh nyata adalah Pulau Penyengat, yang lewat penelitian dan evaluasi dinilai memiliki kombinasi heritage Islam, budaya Melayu, dan wisata kelautan yang dapat dikemas menjadi pariwisata halal berkelanjutan.
Melalui pariwisata halal, Kepulauan Riau tidak hanya menawarkan paket wisata saja, tetapi juga menjual nilai kebersihan, kenyamanan, fasilitas ibadah yang memadai, serta pengalaman budaya yang menghormati kearifan lokal.
MES Kepri mengambil peran aktif dalam menggerakkan ekosistem halal di daerah ini. Di bawah sekretariat aktifnya, termasuk figur seperti Dwi Vita Lestari Soehardi selaku Sekretaris Umum MES Kepri, organisasi ini menghubungkan berbagai aktor yakni pemerintah daerah, pelaku UMKM, lembaga keuangan syariah, komunitas pemuda, dan akademisi.
Vita menegaskan bahwa “Ekonomi syariah itu sistem universal yang menempatkan keadilan dan keberlanjutan sebagai nilai utama. Ketika kita membangun pariwisata halal di Kepri, kita mengangkat nilai‐nilai Melayu yang beradab dan beretika dalam ekonomi lokal.”
Melalui MES Kepri, berbagai literasi, pelatihan, dan program kolaboratif telah berjalan menopang UMKM halal, meningkatkan kapasitas SDM, serta mempromosikan destinasi halal melalui platform digital.
Dalam rangka mengajak generasi muda untuk ikut aktif mempromosikan pariwisata halal di Kepulauan Riau, MES Kepri mengadakan Lomba Vlog Pariwisata Halal 2025.
Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum, pelajar, mahasiswa dan komunitas kreatif dengan tema “Pariwisata Halal Kepri berbasis Maritim dan Kearifan Lokal Melayu”.
Mengumumkan pemenang lomba vlog hari ini memberikan simbol yang kuat. Ia menghubungkan dua jiwa, yakni jiwa kebangsaan yang lahir dari Sumpah Pemuda dan jiwa ekonomi syariah yang kini semakin relevan.
Pemuda yang kreatif menghasilkan konten vlog bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari revolusi nilai dari konsumen pasif menjadi kreator aktif dalam ekonomi halal.
Pengumuman ini menjadi pengingat bahwa persatuan generasi muda dalam konteks ekonomi tidak hanya soal ikut-ikutan tren, tetapi soal mengambil tanggung-jawab terhadap masa depan bangsa.
Generasi muda Kepri dapat menjadi duta halal, duta budaya Melayu, dan pelopor ekonomi yang bermakna.
Hari Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari tekad bersama. Di Kepulauan Riau, tekad itu diwujudkan melalui ekonomi syariah, gaya hidup halal, dan pariwisata yang ramah untuk semua.
Pengumuman lomba vlog hari ini oleh MES Kepri adalah bagian dari narasi besar bahwa generasi muda bukan hanya penonton, tetapi aktor utama perubahan.
Dengan kreativitas dan semangat, mereka menghubungkan sejarah, budaya, dan ekonomi dan menunjukkan bahwa persatuan dewasa ini dapat berarti persatuan dalam tujuan ekonomi berkeadaban.
Semoga pengumuman hari ini memicu lebih banyak aksi nyata, lebih banyak program inklusif, dan lebih banyak generasi muda yang berani bersumpah untuk membangun Indonesia melalui jalur halal, adil, dan sejahtera. ***














