LINGGA (SK) — Rusli Ismail, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Kadistanhut) Kabupaten Lingga, menilai proyek percetakan sawah 100 Hektare di Desa Bukit Langkap, oleh Tim Percepatan Cetak Sawah (PCS) TNI AD, penyelesaiannya berpotensi mengalami keterlambatan dari target yang ditetapkan akhir Oktober ini.
Hal ini dikarenakan 5 dari 9 alat yang digunakan untuk mencetak 100 Hektar sawah program PCS TNI AD, pengalihan dari Natuna ke Lingga tersebut, saat ini mengalami kerusakan akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang bercampur air.
“Dari informasi yang kami terima, BBM yang datang tersebut bercampur air. Akibatnya, 5 unit alat berat rusak dan kini sedang diperbaiki. 70 drum BBM jenis solar yang didatangkan dari luar itu bercampur air. Kami telah berusaha menghubungi kontraktor pencetakan lahan, untuk mecari solusi penambahan alatnya, agar proyek ini rampung sesuai target, harus ada alat penggantinya,” unkapnya, Selasa, (18/10/2016).
Lahan yang sudah tercetak di Bukit Langkap seluas 12 Hektar, kata Rusli, selain proyek 100 Hektar sawah pengalihan dari Natuna, Pemkab Lingga masih menunggu proses administrasi penambahan 1300 Hektar, yang merupakan lahan cetak sawah program bantuan Kementerian Pertanian RI.
“Proges program ini hanya tinggal menunggu DIPA dari Kementerian untuk memulai pelaksanaannya. Sementara itu, 20 unit alat beratnya sudah di Resang, Singkep Selatan. Dan alat ini, bisa saja dipakai dulu untuk menyelesaikan proyek 100 Hektare di Bukit Langkap, namun harus melalui upaya kontaktornya,” terangnya.
Rusli, berharap, program pencetakan sawah di Daerahnya tersebut tidak lagi ada kendala yang serius, karena yang dikhawatirkan hal ini akan menurunkan tingkat kepercayaan Pemerintah pusat, terhadap keseriusan Pemerintah Kabupaten Lingga menangkap peluang pembangunan.
“Kita khawatir, hal ini dapat menurunkan kepercayaan pusat pada Lingga,” unggahnya. (SK-Pus)








